Mengenang Masa Lalu Diatas Sepur Kluthuk Jaladara

By Ibonk November 20, 2019 267
Mengenang Masa Lalu Diatas Sepur Kluthuk Jaladara Para pengunjung sepur Kluthuk Jaladara tengah berfoto di depan Loji Gandrung Solo (Ibonk)

Seperti biasa, kota Solo selalu menawarkan banyak hal yang menarik. seperti berbagai destinasi rekreasi yang unik bagi wisatawan. Tak hanya budaya, namun bagi anda yang menggemari sejarah kota ini memiliki ratusan kejutan tentang hal tersebut. Salah satunya adalah Sepur Kluthuk Jaladara.

Sepur Kluthuk Jaladara merupakan kereta uap yang masih beroperasi di Kota Solo yang disebut beroperasi sejak zaman penjajahan Belanda dengan menggunakan bahan bakar kayu jati. Sepur ini menarik dua gerbongdan melaju melintasi jalur legendaris yang membelah Surakarta menyusuri jalan Slamet Riyadi, yakni dari Stasiun Purworasi menuju Stasiun Sangkrah yang berjarak sekitar 6 km

Dioperasikan pertama kali pada tanggal 27 September 2009 oleh Menteri Perhubungan, Jusman Syafi’i Djamal bersama Gubernur Jawa Tengah dan Walikota Solo saat itu, Joko Widodo di Loji Gandrung.

Nikmatnya menggunakan sepur ini karena dapat berhenti di beberapa titik pemberhentian, yang lamanya disesuaikan dengan penumpang untuk berwisata dan berfoto-foto, menikmati tempat-tempat bersejarah di kota budaya ini diantaranya Museum Batik Danar Hadi, Plaza Sriwedari, Loji Gandrung (Rumah Dinas Walikota), Triwindu, Gladak, ataupun Stasiun Kota.

Loko Uap Jaladara tengah mengisi air di Stasiun Kota IbonkLoko Uap Jaladara tengah mengisi air di Stasiun Kota (Ibonk)

Semua tergantung dari permintaan penyewa. Namun dengan waktu yang cukup ketat, karena rel yang ada dipakai juga oleh kereta Batara Kresna yang melayani jalur Purwosari - Wonogiri.

Perlu juga diketahui, bahwa Sepur Kluthuk Jaladara merupakan buatan Jerman pada tahun 1896 yang oleh Pemerintah Hindia Belanda digunakan sebagai alat transportasi jarak pendek. Nama Jaladara sendiri diambil dari nama kereta pusaka yang dihadiahkan para dewa kepada Prabu Kresna untuk membasmi kejahatan.

Menggunakan lokomotif bernomor C1218, tergolong lokomotif kecil yang digunakan untuk rute datar. Kecepatan maksimalnya hanya 50 km/jam. Dua gerbongnya terbuat dari kayu jati pilihan dengan kapasitas penumpang 70 orang. Kedua gerbong kayu jati asli tersebut dibuat pada 1920 dengan kode CR 16 dan CR 144.

Seperti yang disampaikan oleh Pujiono, salah seorang perawat loko uap yang sudah berusia lebih dari 100 tahun ini bahwa dirinya bangga bisa terlibat mengurus loko ini. "Saya bekerja di PT. KAI sejak tahun 1975 dan walau sudah pensiun saya masih dilibatkan untuk ngopeni loko ini. Saya bangga karena loko ini termasuk yang tertua di dunia dan masih bisa beroperasi dengan baik. Kalaupun ada kerusakan, kami masih bisa mengantisipasinya", ujar Pujiono yang juga terlibat menghidupkan loko Mak Itam

Bapak Pujiono IbonkBapak Pujiono (Ibonk)

Menurutnya lagi biaya operasional kereta ini terhitung mahal, karena menggunakan bahan bakar kayu jati. Selain itu juga membutuhkan air dalam jumlah banyak untuk menghasilkan uap guna menggerakkan lokomotifnya. Setidaknya butuh 4 meter kubik air dan 5 meter kubik kayu untuk jarak tempuh sejauh hampir 5 km.

"Kalau mau beroperasi seperti saat ini saja, minimal 3 jam sebelumnya kita harus sudah menghidupkan loko untuk memanaskan air guna menghasilkan uap agar sepur ini bisa beroperasi, " ungkapnya lagi.

Bagi yang berminat, Sepur Kluthuk Jaladara bisa disewa dengan sistem carter seharga Rp.3,5 juta untuk satu kali perjalanan pulang pergi. Di perjalanan anda dapat saja bernostalgia sembari membayangkan rasanya naik kereta pada masa lalu. Tertarik menaiki sepur uap kuno ini?/ JOURNEY OF INDONESIA