JAKARTA – Dunia sinema internasional kembali melirik narasi tajam dari tanah air. Sutradara kenamaan Joko Anwar melalui karya terbarunya, Ghost in the Cell, dipastikan akan mengibarkan bendera Indonesia di ajang Berlin International Film Festival (Berlinale) 2026. Film ini terpilih masuk dalam kategori ‘Forum’, sebuah ruang kurasi yang dikenal sangat selektif dan prestisius di festival film kelas A tersebut.
Berlinale Forum bukanlah sekadar panggung pemutaran biasa. Seksi ini memiliki reputasi sebagai rumah bagi film-film yang memiliki visi sinematik progresif, berani secara estetika, serta memiliki ketajaman dalam membedah realitas sosial dan politik. Dengan terpilihnya Ghost in the Cell, Joko Anwar memperpanjang tradisi sinema yang mendorong batas-batas konvensional, menawarkan perspektif tidak lazim di tengah dominasi genre horor yang kian menjamur.
Pemilihan film ini ke dalam kategori Forum bukan tanpa alasan yang kuat. Sejarah mencatat bahwa seksi ini pernah menjadi tempat bagi karya-karya besar yang memiliki identitas artistik kuat namun tetap menyentuh isu sosial yang mendalam, seperti Snowpiercer karya Bong Joon-ho maupun fenomena horor Korea Exhuma. Masuknya Ghost in the Cell menempatkan film ini sejajar dengan karya-karya yang mampu menjaga keseimbangan antara kualitas arthouse dan daya pikat genre bagi publik luas.
“Kami sangat bangga film Ghost in the Cell terpilih di section ini di Berlinale karena section ini dikenal sebagai section yang secara kuratorial selalu memilih film yang bukan sekadar mengandalkan cerita, tetapi juga relevansinya kuat dengan situasi sosial dan politik negara asal setiap film yang masuk seleksi ini,” kata Joko Anwar menjelaskan alasan di balik kebanggaannya terhadap pencapaian ini.
Secara naratif, Ghost in the Cell mengambil latar tempat yang mencekam, sebuah penjara di Indonesia yang menjadi muara kekerasan dan ketidakadilan. Melalui medium horor, film ini tidak hanya bertujuan meneror penonton secara fisik, tetapi juga membongkar bagaimana sistem kekuasaan bekerja melindungi dirinya sendiri di balik jeruji besi. Film ini menjadi kritik pedas terhadap institusi yang seharusnya berfungsi sebagai ruang hukuman namun justru berubah menjadi arena opresi.
Perjalanan internasional film ini akan dimulai dengan world premiere yang dijadwalkan berlangsung di bioskop bersejarah Delphi Filmpalast am Zoo pada 13 Februari 2026. Sepanjang rangkaian Berlinale yang berlangsung dari 12 hingga 22 Februari 2026, film ini akan diputar sebanyak tiga kali di hadapan komunitas sinema global, mulai dari kritikus, kurator, hingga pelaku industri papan atas dunia.
Keberhasilan menembus pasar internasional ini juga dipandang sebagai jaminan mutu bagi penonton domestik. Produser film Ghost in the Cell, Tia Hasibuan, menekankan bahwa apresiasi dari Berlin adalah sinyal positif bagi kualitas produksi yang mereka usung. “Ini sekaligus sinyal yang membuat Ghost in the Cell sebagai film yang menjanjikan kekuatan cerita, Bahasa sinema, dan gagasan yang kuat dan menarik untuk segera dinikmati penonton bioskop Indonesia,” kata Tia.
Film yang diproduksi oleh Come and See Pictures berkolaborasi dengan RAPI Films dan Legacy Pictures ini juga menarik perhatian pasar global melalui keterlibatan Barunson E&A sebagai sales agent untuk perilisan internasional. Langkah ini semakin mengukuhkan posisi film Indonesia yang kini semakin berani melakukan eksplorasi teknis dan substansi. Setelah melalui perjalanan panjang di Berlin, film ini dijadwalkan segera menyapa penonton di bioskop-bioskop seluruh Indonesia pada tahun ini juga./ JOURNEY OF INDONESIA | Ismed Nompo

















