Sebuah catatan pinggir dari Gideon Momongan….
JAKARTA – Dua anak muda. Keduanya bisalah disebut sebagai, “Pendekar Gitar” yang sebenar-benarnyalah “pendekar”. Dengan gitar di tangan mereka, gagah betul nampaknya! Dan apalagi kalau gitar itu, sudah mereka mainkan. Suasananya itu lho…
Satu pendekar bernama Gugun Blues Shelter. Gugun adalah blueser sejati. Maksudnya, lebih tepat di sini dalam konteks ini, pendekar blues. Satunya lagi, Dewa Budjana. Bisa kali disebut jazzer sejati. Tapi masalahnya dia ga hanya piawai memainkan jazz. Pendekar jazz? Ia lebih all-round nih…
Lihatlah contoh berikut ini. Itu ada ya penonton yang rikues bawain satu aja lagu GIGI, bisa ga? MC bertanya pada Dewa Budjana dan juga Gugun Blues Shelter. Keduanya tersenyum lebar, nanti-nanti sajalah ya. Pada acara hari ini belum memungkinkan nih. Faktor sebagai gitaris GIGI, kelompok pop-rock, nampaknya yang lebih dikenal atawa lebih populer untuk penonton malam itu. So, Budjana rocker lah….

Ini pertama kali nih kami main berdua ya, ucap Budjana dengan pandangan mata pada Gugun. Gugun menganggukkan kepala. Agak nekad, tapi toh kejadian juga. Walau mungkin terbilang persiapan rada mepet. Maka tak heran, mereka berdua dalam sesi kolaborasi bermain berdua, ga bisa menghadirkan walau hanya satu-dua lagu karya Budjana.
Perlu persiapan lebih khusus, lebih banyak waktu dong, terang Gugun. Anak-anak (band pengiring dari Gugun Blues Shelter, maksudnya) memang agak keberatan mainin lagu-lagunya Budjana. Waktu nyiapinnya ga bisa sebentar. Karena lagu-lagunya susah. Budjana tertawa, ya tidak seperti itu sebenarnya.
Menurut Budjana, ada kok lagu-lagunya yang terbilang lebih mudah untuk dimainkan banyak orang. “Nanti gw cariin, gw ajuin ya,”timpal Budjana. Dijawab Gugun, “Boleh, boleh. Nanti di kesempatan berikut saja, asal waktu latihannya cukup ya Mas Budj.” Jadi kolaborasi dua gitar tersebut, akan berlanjut? Yang jelas, Malam Minggu 17 Januari kemarin, suasana di Kofi & Ti Lounge, Deheng House di Kawasan Taman Kemang, terbilang ramai.

Nyaris semua seats yang tersedia terisi penuh. Ini acaranya Gugun dan band trionya, jelas Budjana. “Gua jadi bintang tamu. Mainin 5 lagulah gitu. Gugun akan main dulu bertiga di depan,” terang Budjana lagi.
Sesuai skenario tersebut, Gugun tampil bertiga. Ia didukung bassis, Angga Pratama. Dan dengan drummer yang berpenampilan vintage abis, Refki Nanda. Mereka memainkan beberapa nomer lagu, yang langsung menghangatkan suasana. Kalau saja nontonnya sambil minum hot americano, tentu bakal lebih menghangatkan badan? Bisa jadi. Nonton blues, dengan black coffee, well why not? And, cigar? Serasa Sultan….?
Iya coba dengan cigar alias cerutu. Karena sponsor acara tersebut adalah Dos Hermanos, cigar lokal keluaran kelompok usaha Djarum. Blues with cigar? Dengerin aja, harusnya sih cocok-cocok ajalah.

Gugun membuka penampilan dengan komposisi miliknya, “Bad Politician”, yang menjadi single yang dirilis 3 tahun silam. Lalu ada lagu lainnya,“I Want you she so heavy” yang disambung langsung dengan “Miss You”nya The Rolling Stones. Itu antara lain repertoar yang dihidangkan Gugun bertigaan.
Gugun memainkan beragam lagu, ada yang cover. Tapi dominan menyelipkan lagu-lagu karyanya sendiri. “Jingga” dan “Hitam Membiru” misalnya. Atau ada juga lagu hangat karyanya yang lain, “Way Back Home”, “When I see You Again” dan “Soul on Fire”.
Trionya bermain efektif nan efisien. Langsung menebarkan suasana menyenangkan dan menghibur. Blues dengan sisipan konotasi rock, yang dipimpin sayatan gitar Gugun, sungguh sebuah hiburan menghabiskan malam minggu yang lumayan mengasyikkan.

Dan Dewa Budjana kemudian didaulat naik panggung. Mereka memainkan “Cause We Ended as a Lover”, yang dipopulerkan oleh Jeff Beck, lagu yang dirilis perdana tahun 1975. Ah sebuah sajian dua gitaris, sahut-sahutan, yang menyenangkan untuk disimak. Disusul karya Gugun, “Funk #2”. Berlanjut dengan karya Gugun yang lain, dari album Coming Out, “Stay With Me Tonight”. Disusul komposisi berikut, “Woman Life Blues”.
Kolaborasi apik dua gitaris berbeda aliran kesukaan itu, ditutup “jammin’ nan seru dan membara”. Dimana mereka memilih membawakan, “Stratus” karya drummer legendaris, Billy Cobham. Lagu tersebut dari album Spectrum, salah satu album terlaris dari Billy Cobham, yang dirilis tahun 1973.

Berakhirlah pertemuan dua orang berkwalifikasi pendekar tersebut.. Penonton sih terlihat puas. Malam yang mungkin bisa dibilang, lumayan sempurna. Blues mendominasi, jazz seolah memberi sentuhan yang tak kalah asyik dan lantas memperkaya sajian musiknya. Nontonnya dengan hot coffee dan cerutu? Oh mungkin bisa jadi pengalaman baru yang perlu dilestarikan. Hot Coffee diganti Hot Cappuccino, boleh tidak….
Dan akankah perjumpaan Gugun dan Budjana akan berlanjut? Atau diteruskan dengan Gugun berjumpa dan main bareng gitaris berkarakter lain, dari genre music lain? Well, wait and see, brothers and sisters. Enjoy!/ JOURNEY OF INDONESIA | *dM

















