JAKARTA — Di tengah urgensi global terhadap perubahan iklim, inovasi teknologi dari tanah air mulai menunjukkan peran strategisnya dalam mengakselerasi transisi menuju ekonomi rendah karbon. Langkah nyata ini baru saja ditegaskan melalui penutupan program Grab Ventures Velocity (GVV) Batch 8 yang menandai kelulusan lima startup inovatif. Dengan mengusung tema “Driving a Sustainable Future: Helping MSMEs to Adopt Greener Operations”, program ini menjadi bukti bagaimana kolaborasi teknologi dapat mendorong operasional yang lebih ramah lingkungan bagi para pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM).
Selama enam bulan terakhir, lima startup yakni CASION, Jejakin, Liberty Society, Rekosistem, dan Sirsak, telah melalui proses inkubasi intensif yang mencakup pendampingan dari para ahli industri hingga implementasi proyek percontohan di dalam ekosistem Grab. Perjalanan panjang tersebut mencapai puncaknya pada sesi Graduation Day yang digelar di Jakarta Selatan, Selasa (13/01), yang turut dihadiri oleh para pemangku kepentingan dari sektor modal ventura serta mitra strategis. Momentum ini bukan sekadar perayaan kelulusan, melainkan ajang pembuktian bahwa solusi teknologi berkelanjutan kini lebih relevan dan dapat diaplikasikan secara nyata di pasar Indonesia.
Keberhasilan para finalis ini mendapat apresiasi tinggi dari kepemimpinan Grab Indonesia yang melihat potensi besar pada integrasi solusi hijau ke dalam platform digital. Neneng Goenadi, Chief Executive Officer Grab Indonesia mengatakan “Kami bangga melihat para startup terpilih ini berhasil menghadirkan inovasi teknologi berkelanjutan yang akan berdampak jangka panjang. Semangat mereka dalam menciptakan solusi yang relevan dan bernilai tambah bagi komunitas mencerminkan potensi besar dari generasi muda Indonesia untuk perubahan positif bagi masyarakat.”
Salah satu pencapaian yang menonjol terlihat pada kolaborasi antara Jejakin dengan ekosistem Grab. Melalui fitur “Sustainability as a Service”, startup ini berhasil mengintegrasikan solusi pengurangan emisi ke dalam lini bisnis Grab For Business. Arfan Arlanda, CEO & Founder of Jejakin, Peserta GVV Batch 8 menyampaikan “Jejakin bekerjasama dengan Grab dan Grab For Business dalam menciptakan fitur “Sustainability as a Service” yang memungkinkan penanaman sekitar 400 pohon mangrove di Bangka Belitung dan berkontribusi pada pengurangan emisi hingga sekitar 733 kilogram CO₂ per bulan. Kami optimistis pilot project ini dapat menjadi contoh kolaborasi strategis yang menghasilkan dampak terukur dalam pengurangan emisi karbon.”
Di sisi lain, persoalan pengelolaan sampah dan limbah juga menjadi fokus utama melalui pendekatan ekonomi sirkular yang diusung oleh Rekosistem dan Sirsak. Rekosistem melakukan integrasi API untuk memudahkan masyarakat melakukan setor sampah melalui aplikasi, sementara Sirsak berhasil menggerakkan partisipasi publik lewat kampanye donasi mikro. Ernest Layman, CEO & Co-Founder of Rekosistem, memaparkan bahwa integrasi ini memungkinkan pengguna melakukan setor sampah dengan praktis serta membuka peluang model bisnis sirkular baru melalui solusi transportasi logistik.
Sejalan dengan hal itu, Angeline Callista, CEO & Co-Founder of Sirsak, menjelaskan “Melalui kampanye promo-to-donation bersama Grab, kami mengajak pengguna berkontribusi pada pengelolaan sampah melalui donasi sebesar Rp1. Program ini berhasil menyalurkan insentif pengumpulan untuk 25 ton sampah daur ulang serta memberikan perlindungan BPJS Ketenagakerjaan bagi para pekerja sampah. Sebanyak 20.000 voucher kupon berhasil diredeem dalam waktu dua hari, menunjukkan tingginya antusiasme masyarakat untuk berpartisipasi melalui kontribusi sederhana.”

Tidak hanya soal limbah, aspek pemberdayaan sosial juga menjadi bagian tak terpisahkan dari ekosistem berkelanjutan. Liberty Society, misalnya, memanfaatkan limbah operasional mitra Grab untuk diolah menjadi produk bernilai ekonomi.
Tamara Soerijo, CEO of Liberty Society, Peserta GVV Batch 8 mengungkapkan “Melalui kolaborasi bersama Grab kami membuat merchandise berbasis upcycling dari jaket Mitra Pengemudi Grab, serta minyak jelantah bekas para Grab Merchant. Beberapa produk tersebut dijual kembali ke Grab Mart. Inisiatif ini menghemat emisi karbon hingga 208 kg CO₂e, atau sebanding dengan menanam 9 pohon. Sekaligus memberikan pekerjaan dan pendapatan kepada wanita marginal di komunitas. Inisiatif ini menjadi bukti bahwa model bisnis berkelanjutan tidak hanya berdampak positif bagi lingkungan, tetapi juga dapat menciptakan nilai sosial.”
Sektor mobilitas listrik juga mendapatkan angin segar melalui kehadiran CASION yang berfokus pada infrastruktur pengisian daya kendaraan listrik (EV). Kevin Pudjiadi, CEO & Co-Founder of CASION menuturkan, “Sebagai bagian dari upaya membangun infrastruktur pendukung mobilitas listrik di Indonesia, ini adalah tonggak penting bagi Casion untuk memperkuat pondasi bisnis. Melalui pemahaman pasar dan pilot project bersama Grab, kami dapat memvalidasi solusi EV charging yang terjangkau dan relevan, sekaligus mempercepat perluasan infrastruktur kendaraan listrik secara berkelanjutan.”
Keberlanjutan program GVV Batch 8 ini tidak lepas dari dukungan sektor perbankan dan finansial, termasuk Superbank dan Genesis Alternative Ventures. Tigor M. Siahaan, Presiden Direktur Superbank, menekankan pentingnya penerapan solusi di dunia nyata. Dirinya mengatakan selama enam bulan perjalanan Grab Ventures Velocity Batch 8, pihaknya melihat bagaimana inovasi para startup tidak hanya diuji, tetapi benar-benar diterapkan dalam konteks nyata melalui pilot project di dalam ekosistem Grab.
Pendekatan ini penting untuk memastikan bahwa solusi yang dikembangkan tidak berhenti pada ide, tetapi mampu menjawab tantangan ekonomi dan lingkungan Indonesia secara terukur dan berkelanjutan. Sebagai bagian dari ekosistem Grab, Superbank percaya bahwa kolaborasi lintas sektor seperti ini menjadi kunci untuk membantu startup memperkuat fondasi bisnisnya sekaligus memperluas dampak positif bagi masyarakat.”
Selaras dengan pandangan tersebut, Dr. Jeremy Loh, Managing Partner, Genesis Alternative Ventures, mengungkapkan bahwa GVV merupakan platform krusial untuk memperkuat masa depan teknologi berkelanjutan dengan memberikan pendampingan praktis dalam mengelola pertumbuhan serta struktur modal startup secara efektif. Dukungan ini kian solid dengan adanya sinergi strategis bersama Kementerian Komunikasi dan Digital (Komdigi) untuk memperkuat gerakan nasional 1000 startup digital melalui penandatanganan Perjanjian Kerja Sama (PKS).
Sejak pertama kali bergulir pada 2018, Grab Ventures Velocity telah mencatatkan rekam jejak yang impresif dengan tingkat pertumbuhan alumni mencapai 83 persen dari total 35 startup, sebuah angka yang melampaui rata-rata global program akselerator sejenis. Dengan semangat kolaborasi yang kuat, kelulusan Batch 8 ini diharapkan menjadi katalisator bagi ekosistem startup di Indonesia untuk terus melahirkan inovasi yang tidak hanya kompetitif secara bisnis, tetapi juga bertanggung jawab terhadap lingkungan dan inklusif bagi seluruh lapisan masyarakat./ JOURNEY OFINDONESIA | iBonk


















