JAKARTA – Publik barangkali lebih mengenal Dee Lestari sebagai arsitek di balik semesta literasi yang memukau lewat deretan novel best-seller. Namun, jauh sebelum kata-katanya menyihir pembaca di toko buku, Dee adalah pemilik suara yang mengisi relung hati pendengar musik Indonesia. Setelah 17 tahun lamanya menepi dari panggung sebagai penyanyi solo sejak album Out of Shell pada 2006, sosok yang juga dikenal sebagai anggota trio Rida Sita Dewi ini akhirnya memutuskan untuk kembali “pulang” ke rumah yang membesarkannya.
Langkah kepulangan ini ditandai dengan rilisnya single terbaru berjudul ‘(Jangan) Jatuh Cinta’. Menariknya, karya ini lahir bukan dari ambisi industri, melainkan dari sebuah proses penyembuhan diri.
Pada tahun 2024, di tengah duka mendalam karena kehilangan ayahanda tercinta, Dee menemukan pelipur lara di sudut rumahnya. Hanya berbekal laptop dan pengeras suara untuk berkaraoke sendirian, ia mulai bernyanyi setiap malam selama berminggu-minggu. Ritual spontan itu ternyata menjadi kunci yang membuka kembali kotak kreativitas musiknya yang sempat terkunci rapat oleh kesibukan menulis.

Kembalinya Dee ke dapur rekaman bukanlah sebuah proyek coba-coba. Ia membawa kematangan seorang pencerita ke dalam notasinya. Dalam single ‘(Jangan) Jatuh Cinta’, Dee membedah sebuah tema yang sangat manusiawi, yakni pergulatan batin antara logika dan hati. Lewat lirik khasnya yang menyentuh sekaligus menggelitik, lugas sekaligus puitis, Dee mengangkat tema tentang pertentangan antara logika dan hati. Ia merekam bagaimana nalar manusia sering kali berusaha menjadi tameng agar tidak terluka, meski pada akhirnya hati memiliki kejujurannya sendiri yang tidak bisa didikte.
Kehadiran single ini sekaligus menjadi jawaban atas kerinduan para penggemar yang selama ini hanya bisa menikmati karya Dee lewat suara penyanyi lain. Sebagaimana diketahui, meski vakum merilis album solo, tangan dingin Dee tetap produktif menggubah lagu-lagu hits untuk nama-nama besar seperti Marcell, Raisa, hingga proyek ambisius Rapijali Book Soundtrack yang melibatkan Iwan Fals dan Bunga Citra Lestari.
Kini, lewat album solo ketiga yang tengah dipersiapkan, Dee memilih untuk menyuarakan sendiri keresahan dan keindahan dari perspektifnya sebagai seorang singer-songwriter.

Secara musikal, ‘(Jangan) Jatuh Cinta’ menawarkan tekstur yang dewasa dan intim. Dibantu oleh Rendy Pandugo sebagai arranger dan Teddy Adhitya sebagai vocal director, aransemen lagu ini dibalut dengan nuansa instrumen yang serba warm dan lapisan gitar yang kaya. Kehadiran harmoni vokal yang membius menjadikan lagu ini bukan sekadar hiburan, melainkan sebuah pengalaman auditif yang memanjakan telinga sekaligus membelai hati pendengar musik Indonesia.
Kesuksesan awal single ini sebenarnya sudah terendus ketika Dee memberikan bocoran tipis dalam sebuah showcase di Jakarta dan Yogyakarta. Sambutan hangat yang ia terima menjadi sinyal kuat bahwa tempatnya di industri musik tak pernah benar-benar tergantikan.
Didampingi oleh tim manajemen yang solid seperti Arie Dagienkz dan Riko Prayitno, Dee kini melangkah mantap menuju album penuhnya. ‘(Jangan) Jatuh Cinta’ sudah dapat dinikmati di berbagai platform streaming digital, menjadi pembuka dari rangkaian karya-karya baru yang akan dirilis secara bertahap dalam waktu dekat./ JOURNEY OF INDONESIA | iBonk


















