Tuesday, April 14, 2026
Journey of Indonesia | Explore Pariwisata Indonesia
Banner Iklan
  • Home
  • News
    • Berita Foto
  • Events
  • Travel
    • Tourism
    • Culinary
    • Hotels
  • Lifestyle
    • Automotive
    • Gadget
    • Fashion
    • Health
  • Culture
    “Legacy on the Move”, Menier Cognac Resmi Debut Siap Bawa Warisan Eaux-de-Vie Prancis ke Palate Modern Indonesia

    “Legacy on the Move”, Menier Cognac Resmi Debut Siap Bawa Warisan Eaux-de-Vie Prancis ke Palate Modern Indonesia

    danau kelimutu

    7 Tempat Wisata Terunik di Indonesia yang Bikin Kamu Tak Percaya Sebelum Melihat Sendiri!

    Semangat Generasi Muda Lestarikan Aksara Batak Lewat Parsiajaran Marsurat Batak

    Semangat Generasi Muda Lestarikan Aksara Batak Lewat Parsiajaran Marsurat Batak

    Festival Budaya Lembah Baliem 2025, Jayawijaya Kembali Tampilkan Warisan Leluhur ke Pentas Dunia

    Festival Budaya Lembah Baliem 2025, Jayawijaya Kembali Tampilkan Warisan Leluhur ke Pentas Dunia

    AirAsia MOVE Dorong Wisata Budaya Dayung Indonesia ke Kancah Dunia

    AirAsia MOVE Dorong Wisata Budaya Dayung Indonesia ke Kancah Dunia

    Pohon Mandala di Borobudur: Simbol Kesadaran Semesta yang Mengakar dalam Spiritualitas Nusantara

    Pohon Mandala di Borobudur: Simbol Kesadaran Semesta yang Mengakar dalam Spiritualitas Nusantara

  • Entertainment
    • FIlm
    • Music
    • Show
  • Profile
No Result
View All Result
Journey of Indonesia | Explore Pariwisata Indonesia
  • Home
  • News
    • Berita Foto
  • Events
  • Travel
    • Tourism
    • Culinary
    • Hotels
  • Lifestyle
    • Automotive
    • Gadget
    • Fashion
    • Health
  • Culture
    “Legacy on the Move”, Menier Cognac Resmi Debut Siap Bawa Warisan Eaux-de-Vie Prancis ke Palate Modern Indonesia

    “Legacy on the Move”, Menier Cognac Resmi Debut Siap Bawa Warisan Eaux-de-Vie Prancis ke Palate Modern Indonesia

    danau kelimutu

    7 Tempat Wisata Terunik di Indonesia yang Bikin Kamu Tak Percaya Sebelum Melihat Sendiri!

    Semangat Generasi Muda Lestarikan Aksara Batak Lewat Parsiajaran Marsurat Batak

    Semangat Generasi Muda Lestarikan Aksara Batak Lewat Parsiajaran Marsurat Batak

    Festival Budaya Lembah Baliem 2025, Jayawijaya Kembali Tampilkan Warisan Leluhur ke Pentas Dunia

    Festival Budaya Lembah Baliem 2025, Jayawijaya Kembali Tampilkan Warisan Leluhur ke Pentas Dunia

    AirAsia MOVE Dorong Wisata Budaya Dayung Indonesia ke Kancah Dunia

    AirAsia MOVE Dorong Wisata Budaya Dayung Indonesia ke Kancah Dunia

    Pohon Mandala di Borobudur: Simbol Kesadaran Semesta yang Mengakar dalam Spiritualitas Nusantara

    Pohon Mandala di Borobudur: Simbol Kesadaran Semesta yang Mengakar dalam Spiritualitas Nusantara

  • Entertainment
    • FIlm
    • Music
    • Show
  • Profile
No Result
View All Result
Journey of Indonesia | Explore Pariwisata Indonesia
No Result
View All Result

I Gusti Kompiang Raka dan Begitu Banyak Kenangan Bersamanya…

by Redaksi
27/02/2026
Reading Time: 7 mins read
I Gusti Kompiang Raka dan Begitu Banyak Kenangan Bersamanya…

I Gusti Kompiang Raka (Gideon Momongan)

Share on FacebookShare on Twitter

Sebuah catatan pinggir dari Gideon Momongan….

JAKARTA – Tentang pak Kompiang, beliau orang yang begitu ramah. Tak pernah neko-neko permintaannya, kenang Dwiki Dharmawan. Menurutku, pak Kompianglah yang membawa gamelan Bali ke dunia musik pop tanah air, ucap Dewa Budjana. Aduh…, pak Kompiang itu adalah  teman bermusik dan bekerja yang sangat baik dan begitu ramah. Tidak mudah dilupakan, cerita Marusya Nainggolan.

Seingatku, dan ini tak bisa kulupa, ia sangat ramah dan siap membantu atau mendukung musik saya, apapun bentuk musik saya. Sepanjang beliau punya waktu, pak Kompiang pasti tak akan menolak. Itu kenangan gitaris dan pendiri grup prog-rock, Discus, Iwan Hasan. Seorang seniman yang selalu mudah Kerjasama. Pak Kompiang itu mendengarkan konsep kami, lalu menjalankannya. Ia bersedia saja. Begitu kenang Ian Antono, gitaris dan motor dari kelompok God Bless dan juga kelompok Gong 2000.

Baca juga :

Film Songko Angkat Legenda Teror Mencekam dari Kaki Gunung Lokon Sulawesi

Ketangguhan Isuzu D-MAX Rodeo Menjawab Tantangan Medan Ekstrem di GIICOMVEC 2026

Merekam Jejak Mitra Setia Isuzu Lewat Lensa Generasi Muda

Begitulah kenangan dari beberapa musisi yang pernah terlibat kerjasama dengan seniman besar Bali. Bisa disebut, salah satu seniman terbesar yang pernah lahir dari Bali. I Gusti Kompiang Raka, namanya.

Ia lahir di Banjar Kutri, Singapadu, Gianyar, Bali, pada 28 April 1947. Lahir dari orang tua, I Gusti Putu Mertha (ayah) dan I Gusti Putu Rengkug (ibu) sebagai putra pertama, dengan 3 orang adiknya, I Gusti Made Diantha, I Gusti Nyoman Latra, Ni Gusti Made Sudiasih. 

Kompiang Raka bersama Keenan Nasution, Ketut Budiyasa. Indonesia Maharddhika, 2014 (Gideon Momongan)

Dari keempat kakak-beradik itu, hanya Kompiang Raka yang lantas berkarir sebagai seniman sepanjang hayatnya. Dari selepas balita, Kompiang Raka muda sudah menunjukkan perhatian dan kesukaannya terhadap kesenian, terutama Bali, dari menabuh gamelan sampai menari. Ia juga belajar menembang Bali sampai juga menjadi dalang.

Pada tahun 1967, Kompiang Raka berpindah ke ibukota Jakarta. Dan setahun kemudian, pada 1968, ia mendirikan Yayasan Saraswati yang kemudian dikenal dengan nama Lembaga Kesenian Bali Saraswati. Menjadi tempat untuk belajar tari dan musik gamelan Bali, bagi masyarakat luas. And then, the rest is history. Sejarah seorang Kompiang Raka, yang membuka pintu, menyediakan waktu dan Juga perhatiannya untuk segenap ajakan maupun tawaran bekerjasama, dengan berbagai rancangan program musik. Bersama bermacam-macam musisi, di seluruh penjuru tanah air.

Nama Kompiang Raka, pada awalnya selain dengan Saraswati, tak bisa dilepaskan dari pergaulan dekatnya dengan Guruh Sukarnoputra. Guruh sempat belajar gamelan juga dengan Kompiang Raka. Lantas di sekitar 1975-1976, Guruh yang bersama Keenan Nasution dan Gypsi, mendirikan Guruh Gypsi.

Kompiang Raka diajak serta dan yang menjadikan seorang Kompiang Raka, pada waktu kemudian adalah juga elemen penting dan vital dari musik keseluruhan Guruh Gypsi. Perlu diingat, nafas utama Guruh Gypsi sebagai kelompok progressive-rocknya, sangat kuat dan kental nuansa Balinese-Music nya. Guruh Gypsi adalah Bali juga adanya.

Hal tersebut diakui pula oleh Keenan Nasution, dimana pada masa produksi rekaman, Kompiang Raka sudah dilibatkan sejak awal. Saat itu, kenang Keenan, Kompiang itu juga dimintai pendapatnya. “Kami dengarkan, ya dia memang bagian dari diskusi dengan kami semua”, jelas Keenan.

Dialog dan diskusi intens dengan Kompiang Raka di dalamnya, menghasilkan album rekaman pertama dan satu-satunya dari Guruh Gypsi. Yang kemudian menjadi sebuah album monumental dan bersejarah. “Guruh, memang sudah menggilai musik Bali, gamelan Bali. Ia memang menginginkan mengawinkannya dengan musik rock, bertemu dengan Kompiang Raka, tentu saja jadi pas”, lanjut Keenan.

Gideon Momongan, Kompiang Raka, Keenan Nasution. Cempaka Putih, tahun 2025 (Ist)

Kerja bareng Kompiang Raka dan Guruh Sukarnoputra kemudian diteruskan saat Guruh Sukarnoputra mendirikan Swara Maharddhika. Kemudian menggelar tontonan pagelaran kolosal musik dan tari di Balai Sidang Senayan dan berlanjut ke beberapa kota lainnya.

Setelah itu, Kompiang Raka tercatat melakukan kolaborasi dengan berbagai musisi, grup band maupun penyanyi. Selain itu, Kompiang Raka juga menjadi pegawai di pemerintah daerah DKI Jaya, antara lain ia pernah menjadi bagian dari tim yang mengelola Taman Ismail Marzuki. Setelahnya ia menjadi direktur artistik di Gedung Kesenian Jakarta.

Perihal aneka kolaborasi yang dilakukan Kompiang Raka, Dewa Budjana menyebutnya bak Ravi Shankar-nya Indonesia. “Seperti Ravi Shankar di India”, terang Budjana. “Pak Kompiang membawa tradisi kesenian Bali masuk ke dunia musik populer di sini. Nah, pak Kompiang membawa gamelan Bali ke dunia musik pop tanah air”, sebut Budjana lagi.

Budjana mengingat-ingat, ia pernah berkerjasama dengan Kompiang Raka dan LKB Saraswati nya terutama acara Dharma Shanti (acara agama Hindu). Rekaman perdana dari Nyanyian Dharma yang diinisiasi Budjana, Kompiang juga ikut mendukung. “Sampai GIGI juga pernah berkolaborasi dengan gamelan Bali, yang dipimpin pak Kompiang. Pernah mau bikin proyek bareng. Saya dengan Wayan Sadra, musisi kontemporer Bali yang terakhir bermukim di Solo dan Kompiang. Sudah ngobrol-ngobrol dan ketemu nama, Bali Connection. Sayang tidak terealisasi, malah keduanya kini sudah berangkat duluan….”, sesal Budjana.

Iwan Hasan mengenang, saat pak Kompiang dihubungi untuk ikut mendukung Discus yang akan melakukan tur ke beberapa kota di USA, pak Kompiang itu langsung bersedia. Pak Kompiang berangkat bareng kami untuk tampil dengan Discus di San Fransisco, North Carolina dan New York. Bahkan kemudian sampai Mexicali, di Mexico.

“Saya pertama mengenal pak Kompiang lewat penampilan saat pentas ensemble pimpinan ibu Trisuci Kamal, kalau ga salah tahun 1993. di sebuah hotel di Jakarta. Kami membawakan karya dari ibu Trisuci.  Saat itu saya main bass, pak Kompiang kendang Bali,”, kenang Iwan Hasan. 

Setelah itu tampil di Pekan Komponis pada tahun 1998. “Saya tampil dengan membawakan karya-karya sendiri saat itu. Pak Kompiang muncul dengan Wayan Sadra dan Pande Made Sukerta, memainkan karya-karya kolaborasi mereka bertiga. Kolaborasi Discus dan Kompiang Raka, berlanjut di tahun 2009 saat Discus tampil di Zappanale Festival di Jerman. “Saya sebenarnya kepengen mengajak Pak Kompiang mendukung rekaman solo album saya lagi, akan segera diproduksi. Sayang, Pak Kompiang sudah tiada,” sebut Iwan Hasan

Bersama Kompiang Raka dan Gek Sri (IGA Sri Mertawati) putri sulung Kompiang Raka (Ist)

Di jelang tahun 1991, Ian Antono bersama Achmad Albar membentuk kelompok Gong 2000. Dan terpikir untuk berkolaborasi dengan gamelan Bali. Ada nomer lagu yang kepengen ada unsur musik Bali-nya. Maka diajaklah Kompiang Raka. Langsung teringatnya ya Kompiang Raka, jelas Ian Antono.

Kerjasama kami berlangsung lancar. Kompiang Raka sangat kooperatif dan bersedia menjalankan konsep dari kami. Kerjasama kami berlangsung untuk album perdana  dan  album Laskar. 

Untuk konser perdana Gong 2000, Pak Kompiang menurunkan gamelan Bali full-set. Ada 16 pemain kalau tak salah, terang Ian Antono. Berikutnya tampil dengan set-piece yang lebih kecil.

Kemudian, lanjut Ian Antono, kami mengajak lagi Kompiang Raka dan gamelan Balinya untuk tampil bersama God Bless. Waktu dengan God Bless, Kompiang tampil dengan ensemble beberapa musisi gamelannya, jelas Ian Antono.

Sementara itu musisi Dwiki Dharmawan juga memiliki kenangan tersendiri tentang Kompiang Raka. “Kami tampil sebagai undangan ke Jepang di suatu waktu. Saya, Sapto Rahardjo, Tony Prabowo dan Kompiang. Kami mempresentasikan musik kontemporer dengan nuansa musik tradisi Nusantara, dan memperoleh respon positif publik musik Jepang.”

Setelah itu, Dwiki tampil dengan para pemain gamelan dan penari Saraswati di Java Jazz Festival, tahun 2012. Mereka berkolaborasi dan tampil selama 3 hari, dengan penyanyi Bobby McFerrin. “Kenangan indah dan seru. Kami tampil dadakan sebenarnya, atas rikues Peter Gontha. Tanpa pernah latihan sebelumnya. Alhamdulillah lancar dan Bobby McFerrin senang betul,”Dwiki mengenang momen tersebut.

Kemudian ada nama Marusya Nainggolan. Sekian waktu bekerjasama intens sehari-hari dengan Kompiang Raka. Mereka pernah bekerja satu atap di manajemen Gedung Kesenian Jakarta. Marusya Nainggolan sebagai direktur utama. Kompiang Raka sebagai Direktur Artisitk. “Pak Kompiang partner bekerja yang sangat menyenangkan. Program-program di GKJ saat ada kami, dapat berlangsung relatif lancar, satu demi satu. Kerjasama dengan pihak luar juga terbilang lancar. Saya dan Kompiang saling mengerti dan saling mengisi.”

Marusya Nainggolan juga teringat, pernah bermain bareng Kompiang Raka dengan juga melibatkan nama Trisuci Kamal. Dengan juga koreografi oleh Farida Oetoyo. Acara konser itu digelar di beberapa negara, Jakarta, Italia, Korsel dan USA. Pada suatu ketika, mereka membuat kehebohan di konser tersebut. Pak Kompiang bermain gamelan Bali di atas piano yang dimainkan Marusya. 

I Gusti Kompiang Raka (Gideon Momongan)

Well, begitulah, ada banyak kenangan manis, kenangan indah termasuk hal-hal seru, yang diingat banyak kamu musik tanah air, tentang seorang I Gusti Kompiang Raka. Bisa saja menjadi sebuah buku berisi catatan kenangan tersendiri….

Dan khusus denganku, Pak Kompiang memang teman seperjalanan yang menyenangkan. Begitu banyak ceritanya, penuh cerita menarik. Sama penuhnya seperti isi paspornya, penuh cap berbagai negara.

Perjalanan belasan jam dari Jakarta menuju USA pergi-pulang, jadi tak berasa. Saat Pak Kompiang berkisah tentang perjalanan bermusiknya. Semua tinggal kenangan. Nan indah dan tak terlupakan. 

I Gusti Kompiang Raka, suami dari IGAA Ratnawati dan ayah dari I Gusti Ayu Sri Mertawati Raka Putri dan I Gusti Ngurah Gde Dyaksa Raka Putra ini, wafat pada 19 Februari 2026 di RS Husada Jakarta, saat dalam perawatan intensif karena diabetesnya.

Selamat jalan, pak Kompiang Raka. Kami kehilangan….. / JOURNEY OF INDONESIA | *dM

Tags: BudayaBudaya BaliGamelan BaliGuruh GipsyI Gusti Kompiang RakaJourney of IndonesiaMaestro SeniMusikMusik IndonesiaObituary
Share114Tweet71

Related Posts

Levy Zahira Rilis ‘Kelelawar Malam’, Pesona Single Terbaru Dalam Balutan Dangdut Klasik
Music

Levy Zahira Rilis ‘Kelelawar Malam’, Pesona Single Terbaru Dalam Balutan Dangdut Klasik

07/04/2026
Cockpit+ Band, Sang Penerus Nyala Api Progresif Cockpit Band Setelah 4 Dekade
Music

Cockpit+ Band, Sang Penerus Nyala Api Progresif Cockpit Band Setelah 4 Dekade

05/04/2026
Dari Lokasi Syuting, Maudy Ayunda Lahirkan Dua Lagu untuk Film Para Perasuk
FIlm

Dari Lokasi Syuting, Maudy Ayunda Lahirkan Dua Lagu untuk Film Para Perasuk

31/03/2026
Ketika Dunia Otomotif Bertemu Demam K-Pop, Kia Ikut Ramaikan Fan Meeting Hearts2Hearts di Jakarta
Lifestyle

Ketika Dunia Otomotif Bertemu Demam K-Pop, Kia Ikut Ramaikan Fan Meeting Hearts2Hearts di Jakarta

26/03/2026
From Ashes To New Hadirkan Single ‘Die For You’, dan Bersiap Luncurkan Album Terbaru pada April 2026
Music

From Ashes To New Hadirkan Single ‘Die For You’, dan Bersiap Luncurkan Album Terbaru pada April 2026

24/03/2026
Next Post
Hidupkan Kembali Kejayaan Bahari, The Apurva Kempinski Bali Hadirkan Pelayaran Mewah ‘Spice Route Voyage’

Hidupkan Kembali Kejayaan Bahari, The Apurva Kempinski Bali Hadirkan Pelayaran Mewah 'Spice Route Voyage'

ADVERTISEMENT

Recomended

Film Songko Angkat Legenda Teror Mencekam dari Kaki Gunung Lokon Sulawesi
Uncategorized

Film Songko Angkat Legenda Teror Mencekam dari Kaki Gunung Lokon Sulawesi

14/04/2026
Ketangguhan Isuzu D-MAX Rodeo Menjawab Tantangan Medan Ekstrem di GIICOMVEC 2026
Automotive

Ketangguhan Isuzu D-MAX Rodeo Menjawab Tantangan Medan Ekstrem di GIICOMVEC 2026

12/04/2026
Merekam Jejak Mitra Setia Isuzu Lewat Lensa Generasi Muda
Automotive

Merekam Jejak Mitra Setia Isuzu Lewat Lensa Generasi Muda

12/04/2026
Sentuhan Hangat Bismania untuk Ketangguhan Hino di GIICOMVEC 2026
Automotive

Sentuhan Hangat Bismania untuk Ketangguhan Hino di GIICOMVEC 2026

11/04/2026
Ghost in the Cell, Ketika Hantu Jadi Cermin Sistem Indonesia yang Busuk
FIlm

Ghost in the Cell, Ketika Hantu Jadi Cermin Sistem Indonesia yang Busuk

11/04/2026
Ani Lee, Sosok Hadirnya Sinopec ke Indonesia
Profile

Ani Lee, Sosok Hadirnya Sinopec ke Indonesia

11/04/2026
Journey of Indonesia

Journey of Indonesia is a popular online newsportal and going source for technical and digital content for its influential audience around the globe. You can reach us via email.


journeyofid@gmail.com

  • Journey of Indonesia
  • Kebijakan Privasi
  • Pedoman Media Siber
  • Editorial
  • Kontak

© 2024 Journey of Indonesia.

No Result
View All Result
  • Journey of Indonesia
  • News
    • Berita Foto
  • Events
  • Travel
    • Tourism
    • Culinary
    • Hotels
  • Lifestyle
    • Automotive
    • Gadget
    • Fashion
    • Health
  • Culture
  • Entertainment
    • FIlm
    • Music
    • Show
  • Profile

© 2024 Journey of Indonesia.