JAKARTA – Di balik kemilau gedung pencakar langit dan padatnya arus lalu lintas Jakarta, denyut budaya Betawi tak pernah benar-benar pudar. Tepat saat Ibu Kota merayakan hari jadinya yang ke-499 pada akhir Juni ini, publik kembali diajak menengok akar identitas yang membentuk wajah Jakarta sejak ratusan tahun lalu, identitas yang kini tinggal setahun lagi menuju tonggak lima abad pada 2027.
Jejak budaya Betawi sebenarnya tidak lahir dalam semalam. Akarnya bisa ditarik hingga era Sunda Kelapa pada abad ke-16, ketika kawasan pelabuhan itu menjadi titik temu para pedagang dan pendatang dari Aceh, Banten, Cirebon, hingga bangsa-bangsa Eropa.
Setelah VOC menguasai wilayah tersebut dan mengubah namanya menjadi Batavia, percampuran budaya di kawasan ini pun semakin kaya. Identitas Betawi sendiri baru benar-benar mengkristal secara intelektual menjelang Sumpah Pemuda 1928, salah satunya lewat peran tokoh Betawi, Muhammad Husni Thamrin.
Ketua Umum Dewan Adat Bamus Betawi, M Rifqi atau yang akrab disapa Eki Pitung, menjelaskan bahwa percampuran panjang antara unsur Melayu, Sunda, Jawa, Arab, Tionghoa, dan Eropa itu pada akhirnya melahirkan tiga kelompok besar masyarakat Betawi, yakni Betawi Tengah, Betawi Pinggir, dan Betawi Pesisir. Ketiganya tumbuh dengan dialek, kesenian, dan kebiasaan yang tidak seragam, meski berasal dari rumpun budaya yang sama.
Betawi Pesisir, misalnya, tumbuh di kawasan utara seperti Marunda dan sejumlah wilayah pantai lainnya. Denyut kehidupan masyarakatnya banyak ditentukan oleh aktivitas pelayaran dan perdagangan hasil laut. Dialek yang digunakan pun berbeda dari kelompok Betawi lain, namun nilai-nilai budaya yang diwariskan secara turun-temurun tetap dijaga erat oleh warganya.
Berbeda dengan Pesisir, Betawi Pinggir berkembang di wilayah-wilayah penyangga seperti Tangerang, Depok, Bekasi, dan Ciledug. Interaksi yang intens dengan masyarakat sekitar membuat dialeknya kental dipengaruhi bahasa Sunda, termasuk lahirnya logat “ora” yang kerap diasosiasikan dengan sosok komedian Mandra.
Pengaruh itu juga tergambar dari busana pangsi serta budaya jawara yang masih lekat dalam berbagai kegiatan tradisional di kawasan tersebut. Sementara itu, Betawi Tengah tumbuh di kawasan-kawasan lama seperti Tanah Abang, Kampung Melayu, Jatinegara, hingga Menteng, dengan pengaruh budaya Melayu yang kuat dalam bahasa, tradisi keagamaan, maupun cara berpakaian masyarakatnya.
Budayawan Betawi, Yahya Andi Saputra, menilai kelompok ini lebih dikenal luas karena tumbuh di pusat pemerintahan dan aktivitas ekonomi Jakarta, sehingga berbagai kesenian Betawi yang populer pun banyak lahir dari kawasan ini dan lebih sering muncul di ruang publik.
Meski memiliki karakter yang berbeda-beda, ketiga kelompok itu tetap berpijak pada akar budaya yang sama. Kesamaan tersebut terlihat dari tradisi keluarga, kesenian, hingga kuliner khas seperti gabus pucung dan semur jengkol yang masih akrab di meja makan masyarakat Betawi hingga kini.
Memasuki usia menjelang lima abad, pelestarian budaya Betawi dinilai Eki Pitung sebagai tantangan yang tidak bisa hanya diselesaikan lewat kegiatan seremonial belaka. “Penguatan sumber daya manusia, pendidikan, hingga keberlangsungan sanggar seni dan komunitas budaya masih memerlukan perhatian lebih besar,” kata Eki.
Ia mencontohkan, banyak kelompok kesenian tradisional yang lahir dari tokoh-tokoh legendaris Betawi seperti Benyamin Sueb, Haji Bokir, dan Mpok Nori kini justru menghadapi tantangan regenerasi dan keberlanjutan di tengah gerusan zaman.
Eki pun berharap pemerintah dapat memberi perhatian lebih besar kepada generasi muda Betawi, salah satunya lewat jalur pendidikan tinggi. “Saya harap kepada pemerintah setidaknya ada beasiswa di kampus bagi anak muda Betawi sebagai peningkatan Sumber Daya Manusia (SDM),” kata Eki.
Harapan itu tidak lepas dari besarnya populasi masyarakat Betawi di Jakarta. Data Dinas Kependudukan dan Pencatatan Sipil DKI Jakarta mencatat jumlah masyarakat Betawi mencapai sekitar 2,7 juta jiwa, atau berkisar 20 hingga 30 persen dari total penduduk Ibu Kota pada 2025.
Besarnya angka itu menjadi alasan mengapa pembangunan Jakarta ke depan tidak bisa lagi hanya bertumpu pada infrastruktur dan pertumbuhan ekonomi. Generasi muda Betawi pun didorong memanfaatkan teknologi dan media sosial untuk memperkenalkan budaya leluhurnya kepada publik yang lebih luas, sehingga saat Jakarta benar-benar menapaki usia lima abad pada 2027, budaya Betawi tidak sekadar dikenang sebagai warisan, melainkan tetap hidup sebagai fondasi identitas kota yang terus melangkah menuju status kota global berbudaya./ JOURNEY OF INDONESIA | Morteza












