RANGKASBITUNG – Dini hari di pedalaman Kanekes masih berselimut kabut saat ribuan warga Baduy mulai melangkah. Tanpa alas kaki, tanpa deru mesin kendaraan, mereka membelah jalanan setapak menuju pusat peradaban di Rangkasbitung. Perjalanan puluhan kilometer ini bukan sekadar gerak fisik, melainkan sebuah ritus kesetiaan yang telah bertahan melintasi zaman.
Jumat (24/4/2026), Kota Rangkasbitung oo kedatangan mereka dengan suasana khidmat. Barisan pria berbaju putih (Baduy Dalam) dan berbaju hitam (Baduy Luar) tampak tertib memikul beban di pundak. Mereka membawa padi, gula aren, pisang, talas, hingga madu hutan—hasil keringat dari tanah ulayat yang mereka jaga seperti denyut nadi sendiri.
Bagi masyarakat Baduy, prosesi Seba adalah laporan pertanggungjawaban kepada “Bapa Gede”, sebutan hormat untuk Bupati Lebak dan Gubernur Banten. Namun, lebih dalam dari itu, Seba adalah sebuah perjalanan spiritual. Sebagaimana ditegaskan oleh Jaro Oom, tokoh adat sekaligus Kepala Desa Kanekes, kehadiran mereka adalah amanat leluhur yang tak boleh putus

.“Ini amanat leluhur. Kami datang membawa hasil bumi sebagai wujud syukur kepada Tuhan dan laporan kepada pemerintah bahwa kami menjaga alam dengan baik,” ujar Jaro Oom dengan nada yang tenang namun penuh penekanan.
Tahun ini, sebanyak 1.525 warga Baduy turun gunung. Mereka membawa pesan yang sangat krusial di tengah ancaman krisis iklim global: konsistensi menjaga benteng terakhir ekologis Banten. Kawasan ulayat seluas 5.200 hektare yang mereka tempati bukan sekadar pemukiman, melainkan hulu bagi puluhan aliran sungai yang menghidupi jutaan orang di luar wilayah adat.
Tetua Adat Baduy Tangtu Tanggungan 12, Saidi Yunior, menyampaikan sebuah peringatan sekaligus komitmen yang mereka sampaikan. Ia menjelaskan bahwa tugas mereka adalah menjaga 47 gunung yang tersebar di Provinsi Banten agar tidak beralih fungsi menjadi kawasan industri yang hanya mengejar kepentingan sesaat. “Sejak dulu hingga sekarang kita menjaga alam dan hutan tutupan untuk kelanjutan kehidupan manusia,” kata Saidi.

Saidi juga mengingatkan bahwa jika gunung-gunung tersebut rusak, krisis air dan bencana ekologis akan menjadi konsekuensi pahit yang harus ditanggung bersama. Bagi masyarakat adat, hutan adalah “titipan” yang harus dikembalikan dalam kondisi hijau kepada generasi mendatang.
Di Pendopo Kabupaten Lebak, Bupati Mochamad Hasbi Asyidiki Jayabaya menerima rombongan ini dengan tangan terbuka. Baginya, Seba adalah pengingat bagi mereka yang hidup di tengah modernisasi tentang arti kesederhanaan dan kepatuhan pada aturan adat atau pikukuh.
Bupati Hasbi menegaskan komitmen pemerintah untuk berdiri di belakang masyarakat adat dalam melindungi hutan dari ancaman pertambangan. “Seba mengajarkan kita tentang kesederhanaan, keseimbangan hidup, dan kepatuhan. Nilai ini sangat relevan di tengah modernisasi,” ungkapnya. Beliau pun mengapresiasi bagaimana masyarakat Baduy secara mandiri mencegah potensi bencana alam dengan menjaga ekosistem tetap utuh.

Tradisi Seba 2026 menjadi bukti nyata bahwa kearifan lokal tidak perlu berbenturan dengan sistem pemerintahan modern. Keduanya bisa berjalan beriringan dalam harmoni. Ketika warga Baduy menyerahkan hasil bumi kepada pemerintah, mereka sebenarnya sedang menitipkan harapan agar bumi yang mereka jaga tidak dirusak oleh keserakahan.
Usai dari Lebak, langkah kaki mereka akan berlanjut menuju Kota Serang untuk menemui Gubernur Banten, Andra Soni. Perjalanan panjang ini akan terus berulang setiap tahun, selama hutan masih hijau dan selama manusia masih butuh air untuk bertahan hidup. Sebuah simbol ketaatan yang tulus, sebuah syukur yang mewujud dalam aksi nyata menjaga semesta./ JOURNEY OF INDONESIA | iBonk

















