JAKARTA — Peluang kerja internasional bagi tenaga kesehatan asal Indonesia kini semakin terbuka lebar. Melalui langkah strategis, Kementerian Kesehatan Republik Indonesia mempererat sinergi dengan institusi pendidikan tinggi Korea Selatan untuk mempersiapkan lulusan yang adaptif terhadap kebutuhan medis global, khususnya pada sektor pelayanan perawatan jangka panjang (long-term care) dan caregiving.
Komitmen ini diwujudkan dalam pertemuan bertajuk Indonesia–Korea University Collaboration Seminar and Consultation Meeting di Jakarta. Agenda besar yang mempertemukan Direktorat Jenderal Tenaga Kesehatan, perwakilan Gangwon 7 College Consortium (G7CC)2, serta pimpinan dari 38 Politeknik Kesehatan (Poltekkes) Kemenkes ini menjadi cetak biru baru bagi internasionalisasi pendidikan vokasi kesehatan tanah air.
Seperti yang disampaikan oleh Ketua Gangwon 7 College Consortium (G7CC), Hyun In Suk bahwa pihaknya sangat optimis terhadap berkembangnya kemitraan antara institusi Indonesia dan Korea Selatan.
“Kami merasa terhormat dapat bekerja sama dengan Kementerian Kesehatan Republik Indonesia dan 38 Politeknik Kesehatan. Seminar ini menjadi langkah awal yang penting dalam membangun kemitraan berkelanjutan antar institusi. Melalui pertukaran akademik, inisiatif pendidikan bersama, kolaborasi riset, dan program pengembangan tenaga kesehatan, kami berharap dapat menciptakan peluang yang bermakna bagi mahasiswa, dosen, dan tenaga kesehatan di kedua negara,” sebutnya gamblang.
Hyun In Suk juga menambahkan dirinya percaya bahwa kerja sama yang semakin erat antara Indonesia dan Korea Selatan akan berkontribusi pada kemajuan pendidikan kesehatan serta persiapan pemimpin tenaga kesehatan global di masa depan.
Langkah akselerasi ini juga mendapat dukungan dari sektor swasta. Kementerian Kesehatan menyampaikan apresiasi tinggi kepada Kim Joon Hwan, CEO NK Global Holdings. Perusahaan asal Korea Selatan yang bergerak di bidang kerja sama kesehatan lintas negara ini dinilai memiliki peran krusial sebagai jembatan kemitraan, sehingga program peningkatan kapasitas nakes dapat berjalan lebih terarah.
Dalam dunia yang kian tanpa batas, standardisasi kemampuan tenaga medis menjadi harga mati. Sekretaris Direktorat Jenderal Tenaga Kesehatan, Albertus Yudha Poerwadi, menegaskan bahwa diplomasi pendidikan ini menjadi instrumen penting untuk menyerap praktik terbaik dari dunia internasional.
“Kementerian Kesehatan sangat menghargai kemitraan internasional yang membuka peluang bagi mahasiswa, dosen, dan institusi pendidikan untuk belajar dari praktik terbaik dunia. Melalui kerja sama dengan universitas-universitas di Korea Selatan, kami berharap dapat memperkuat kualitas pendidikan tenaga kesehatan, memperluas pengalaman internasional, serta membuka jalur baru pengembangan karier bagi tenaga kesehatan Indonesia. Kami meyakini bahwa kolaborasi antara Poltekkes dan universitas Korea akan berkontribusi pada pengembangan tenaga kesehatan yang kompetitif secara global dan mampu menjawab tantangan layanan kesehatan di masa depan,” ujar Albertus.
Selama ini, 38 Poltekkes yang berada di bawah naungan Kemenkes telah menjadi pilar utama penopang sistem kesehatan domestik. Namun, seiring dengan tuntutan global, institusi-institusi ini terus memperluas jejaring ke luar negeri. Sebelum menjajaki kemitraan erat dengan Negeri Ginseng, Poltekkes Kemenkes tercatat telah sukses membangun program mobilitas, sertifikasi internasional, hingga penempatan kerja ke negara-negara seperti Jepang, Jerman, dan kawasan Timur Tengah.
Kemitraan baru dengan Korea Selatan diproyeksikan akan membuka keran pengiriman tenaga kerja profesional yang lebih masif. Direktur Penyediaan Tenaga Kesehatan, Anna Kurniati, menjelaskan bahwa hubungan bilateral di sektor kesehatan ini memiliki rekam jejak yang solid dan terus berkembang secara substantif.
“Korea Selatan telah menjadi mitra penting dalam pengembangan tenaga kesehatan Indonesia. Baru-baru ini, Direktorat Jenderal Tenaga Kesehatan menandatangani Nota Kesepahaman dengan KOICA untuk mendukung akreditasi internasional Program Studi Kebidanan di sejumlah Politeknik Kesehatan. Melalui seminar dan sesi konsultasi ini, kami berharap dapat memperluas kolaborasi dan membuka peluang nyata bagi lulusan Politeknik Kesehatan Indonesia untuk mengembangkan karier secara internasional, termasuk di Korea Selatan,” tambah Anna.
Pertemuan di Jakarta ini tidak sekadar menjadi ruang diskusi normatif, melainkan berlanjut pada sesi konsultasi teknis antarinstitusi. Setiap keterwakilan universitas dari Korea Selatan memaparkan keunggulan akademis mereka sekaligus merumuskan modul integrasi kurikulum serta program penguatan bahasa yang intensif demi memastikan nakes Indonesia siap pakai di pasar luar negeri./ JOURNEY OF INDONESIA | iBonk

















