Friday, August 21, 2026
Journey of Indonesia | Explore Pariwisata Indonesia
Banner Iklan
  • Home
  • News
    • Berita Foto
  • Events
  • Travel
    • Tourism
    • Culinary
    • Hotels
  • Lifestyle
    • Automotive
    • Gadget
    • Fashion
    • Health
  • Culture
    Merawat Warisan Soekarno Lewat Pameran Seni, Kuliner di Hotel Kempinski Jakarta

    Merawat Warisan Soekarno Lewat Pameran Seni, Kuliner di Hotel Kempinski Jakarta

    Peluncuran Delapan Motif Batik Derawan-Maratua dan Tari Dalling Perkuat Identitas Budaya Kaltim

    Peluncuran Delapan Motif Batik Derawan-Maratua dan Tari Dalling Perkuat Identitas Budaya Kaltim

    Jelang 500 Tahun, Identitas Jakarta Tetap Terjaga Karena Tiga Hal Ini

    Jelang 500 Tahun, Identitas Jakarta Tetap Terjaga Karena Tiga Hal Ini

    Pesona Parade Gebogan Ulun Danu, Daya Tarik Baru Wisata Bali

    Pesona Parade Gebogan Ulun Danu, Daya Tarik Baru Wisata Bali

    Lenong Kampung Te-Ko, Cara Galeri Indonesia Kaya Rayakan HUT ke-499 Jakarta

    Lenong Kampung Te-Ko, Cara Galeri Indonesia Kaya Rayakan HUT ke-499 Jakarta

    Hino Serahkan Bus Spesial PO Sima Perkasya di Jamnas Bismania

    Hino Serahkan Bus Spesial PO Sima Perkasya di Jamnas Bismania

  • Entertainment
    • FIlm
    • Music
    • Show
  • Profile
No Result
View All Result
Journey of Indonesia | Explore Pariwisata Indonesia
  • Home
  • News
    • Berita Foto
  • Events
  • Travel
    • Tourism
    • Culinary
    • Hotels
  • Lifestyle
    • Automotive
    • Gadget
    • Fashion
    • Health
  • Culture
    Merawat Warisan Soekarno Lewat Pameran Seni, Kuliner di Hotel Kempinski Jakarta

    Merawat Warisan Soekarno Lewat Pameran Seni, Kuliner di Hotel Kempinski Jakarta

    Peluncuran Delapan Motif Batik Derawan-Maratua dan Tari Dalling Perkuat Identitas Budaya Kaltim

    Peluncuran Delapan Motif Batik Derawan-Maratua dan Tari Dalling Perkuat Identitas Budaya Kaltim

    Jelang 500 Tahun, Identitas Jakarta Tetap Terjaga Karena Tiga Hal Ini

    Jelang 500 Tahun, Identitas Jakarta Tetap Terjaga Karena Tiga Hal Ini

    Pesona Parade Gebogan Ulun Danu, Daya Tarik Baru Wisata Bali

    Pesona Parade Gebogan Ulun Danu, Daya Tarik Baru Wisata Bali

    Lenong Kampung Te-Ko, Cara Galeri Indonesia Kaya Rayakan HUT ke-499 Jakarta

    Lenong Kampung Te-Ko, Cara Galeri Indonesia Kaya Rayakan HUT ke-499 Jakarta

    Hino Serahkan Bus Spesial PO Sima Perkasya di Jamnas Bismania

    Hino Serahkan Bus Spesial PO Sima Perkasya di Jamnas Bismania

  • Entertainment
    • FIlm
    • Music
    • Show
  • Profile
No Result
View All Result
Journey of Indonesia | Explore Pariwisata Indonesia
No Result
View All Result

Mengenal Sejarah Kebaya Encim

by Yulia Dewi
13/08/2018
Reading Time: 4 mins read
Mengenal Sejarah Kebaya Encim

Model tengah memperagakan Kebaya Encim modern (Ist)

Share on FacebookShare on Twitter

Kebaya Encim merupakan baju tradisional Betawi yang sudah cukup tua umurnya dan kurang lebih sudah ada sejak 500 tahun lalu. Baju tradisional yang kerap digunakan oleh masyarakat Betawi ini sangat identik dengan peranakan Tionghoa namun sangat dekat dengan budaya Betawi.

Kata Encim sendiri menurut antropolog Diyah Wara berasal dari bahasa Hokkien, salah satu etnis Tionghoa yang berarti Bibi. Pada zaman dahulu mereka inilah yang paling banyak terdapat di Nusantara.

Baca juga :

Jelang 500 Tahun, Identitas Jakarta Tetap Terjaga Karena Tiga Hal Ini

Lenong Kampung Te-Ko, Cara Galeri Indonesia Kaya Rayakan HUT ke-499 Jakarta

Geliat “Kamis Betawi”, Ikhtiar Membumikan Busana Adat untuk Generasi Muda

“Jadi dulu pakaian ini dipakai oleh perempuan-perempuan China, mereka pakai kebaya dan orang-orang selalu bilang “Oh, Kebaya yang dipakai si Encim, lama-lama disebutnya kebaya Encim,” ujar Diyah dalam festival kebudayaan Betawi di Jakarta Pusat, Sabtu (12/8) lalu.

Pakaian ini dahulu disebut juga kebaya Nyonya karena memang yang memakainya pada saat itu hanya orang-orang dari golongan menengah keatas. Namun jauh sebelum orang Tionghoa memakainya, kebaya juga telah dipakai oleh perempuan Eropa yang ada di Nusantara.

Diyah mengatakan, bahwa bentuk Kebaya sebetulnya merupakan baju panjang atau disebut juga baju kurung yang kebanyakan dipakai oleh orang Sumatera, Palembang, Aceh dan dimodifikasi oleh perempuan Belanda karena disesuaikan dengan iklim yang ada di Batavia. “Di Batavia kan panas, jadi kalau mereka gunakan baju dari Eropa mereka nggak tahan,” kata Diyah.

Namun yang dipakai oleh perempuan Belanda kebanyakan warna putih, sementara menurut Tionghoa Putih melambangkan kesusahan, kedukaan dan tidak keberuntungan. “Kebaya akhirnya mengalami inovasi dan bentuknya seperti sekarang ini, ada pengaruh budaya Tiongkok atau Cina,” tambah Diyah.

Diyah Wara saat menerangkan perihal Kebaya Encim bilangan Jakarta Pusat Sabtu 12/8 lalu (Yulia)

Sebagai bawahannya menurut Diyah, mereka mengaplikasikannya dengan sarung atau kain bermotif bunga atau motif parang dari Jawa yang identik dengan warna sogan. Bahkan perempuan Eropa menggunakan motifnya sendiri dengan warna biru dan ungu dan beragam motif bunga seperti bunga tulip.

Identitas Tionghoa

Pada zaman pendudukan Belanda di Batavia, banyak imigran China yang mengambil perempuan lokal sebagai isteri. Perempuan-perempuan tersebut kemudian mulai mengembangkan kebaya dengan menggunakan motif-motif yang sesuai dengan keberuntungan mereka.

Dalam hal pewarnaan, ketika timbul adanya perkembangan mengenai pakaian, mereka mulai menggunakan warna seperti merah, kuning, oranye dan hijau yang disesuaikan dengan warna keberuntungan bangsa Tionghoa.

“Kalau dalam tradisi Tionghoa itu kan putih melambangkan kejelekan, kurang beruntung. Perempuan Tionghoa berfikir itu tidak bagus jadi mereka kasih motif,” kata Diyah.

Namun pada waktu itu ternyata selain mereka gunakan sehari-hari, ternyata pemerintah Belanda yang ada di Nusantara mewajibkan masyarakatnya untuk menggunakan pakaian sesuai dengan etnis masing-masing.

“Wajah orang Tionghoa itu kan mirip dengan penduduk asli Nusantara karena mamang mereka sudah berbaur, begitupun dengan orang Tiongkok yang datang ke Nusantara. Makanya mereka bedakan dengan pakaiannya sesuai dengan identitas asal mereka,” ujar Diyah.

“Makanya ada daerah di Batavia yang bernama Kampung Melayu, Matraman, Kampung Ambon, dan Kampung Makassar dan mereka diperintahkan untuk memakai baju sesuai dengan etnis masing-masing,” tuturnya.

Pada saat itu bangsa China yang ada di Nusantara di bagi menjadi dua, Tiongkok dan China peranakan. Sehingga pakaian merupakan hal penting bagi pemerintah Belanda saat itu. Dari segi politis Belanda sangat takut dengan jumlah mereka yang memang lebih banyak, sehingga mereka dipisahkan. Tapi juga Belanda sangat memerlukan mereka sebagai perantara kepentingan mereka di Nusantara.

Motif Kebaya Encim Modern (Ist)

Percampuran Budaya

Orang Tionghoa juga tak lepas dari tradisi leluhur mereka, saat menghadiri perayaan Imlek atau Cap Gomeh mereka selalu mengenakan pakaian yang melambangkan kemakmuran dan keberuntungan. Oleh karenanya seiring dengan perkembangan zaman, perempuan Tionghoa memodifikasinya dengan wara dan motif yang tentu saja mempunyai makna bagi mereka. Begitupun dengan bentuk dan potongan pakaiannya.

“Motif yang sesuai dengan tradisi Tionghoa itu seperti bunga persik dan anyelir. Atau ada juga motif binatang, seperti burung merak yang menggambarkan kebahagiaan,burung phoenix yang melambangkan kesejahteraan dan kura-kura yang melambangkan panjang umur,” papar Diyah.

Begitupun dengan bentuknya yang persegi juga mempunyai makna, kesempurnaan, kokoh yang diumpamakan dengan bangku yang memiliki dua kaki yang tidak dapat berdiri tegak akan tetapi jika ada empat kaki pasti bangku tersebut dapat berdiri dengan tegak.

Banyaknya pendatang di Batavia, kebudayaan yang ada di Betawi pun merupakan budaya bentukan antara budaya Jawa, Arab, dan Tiongkok. Sebutan Tionghoa sendiripun adalah bentukan dari perpaduan antara Tiongkok dengan penduduk asli Batavia. Kebaya-kebaya yang digunakan oleh perempuan Tionghoa akhirnya dikenal dengan sebutan Kebaya Encim.

Kebaya Encim sangat identik dengan budaya Betawi karena budaya Betawi merupakan budaya bentukan dan perpaduan dari berbagai macam budaya, termasuk budaya Tionghoa. / JOURNEY OF INDONESIA

Tags: BetawiBudaya BetawiDiyah WaraKebaya Encim
Share740Tweet463

Related Posts

Ini Kami Nusantara, Hadirkan Panggung Inklusif Musik Nusantara Lintas Generasi 2026
Music

Ini Kami Nusantara, Hadirkan Panggung Inklusif Musik Nusantara Lintas Generasi 2026

17/08/2026
Merawat Warisan Soekarno Lewat Pameran Seni, Kuliner di Hotel Kempinski Jakarta
Culture

Merawat Warisan Soekarno Lewat Pameran Seni, Kuliner di Hotel Kempinski Jakarta

14/08/2026
Broadwayang Production Gelar Konser Musikal “Melodi Cinta”, Ikang Fawzi Jadi Bintang Utama
Music

Broadwayang Production Gelar Konser Musikal “Melodi Cinta”, Ikang Fawzi Jadi Bintang Utama

10/08/2026
Dari Jakarta ke Seoul, Born Star Indonesia Buka Jalur Debut Idol K-Pop
Entertainment

Dari Jakarta ke Seoul, Born Star Indonesia Buka Jalur Debut Idol K-Pop

03/08/2026
Peluncuran Delapan Motif Batik Derawan-Maratua dan Tari Dalling Perkuat Identitas Budaya Kaltim
Culture

Peluncuran Delapan Motif Batik Derawan-Maratua dan Tari Dalling Perkuat Identitas Budaya Kaltim

30/07/2026
Next Post
Menikmati Ratusan Anggrek Langka di Rumah Anggrek Orchid Forest Cikole

Menikmati Ratusan Anggrek Langka di Rumah Anggrek Orchid Forest Cikole

ADVERTISEMENT

Recomended

The Late Shift di Paviliun Raden Saleh, Menikmati Malam Jakarta dari Sudut Berbeda
Uncategorized

The Late Shift di Paviliun Raden Saleh, Menikmati Malam Jakarta dari Sudut Berbeda

21/08/2026
Setelah Surabaya dan Medan, ICX 2026 Tutup Rangkaian di Jakarta
Events

Setelah Surabaya dan Medan, ICX 2026 Tutup Rangkaian di Jakarta

21/08/2026
Menembus Batas Studio, Pameran Art for Peace di TIM Usung Semangat Kolaborasi Global
Events

Menembus Batas Studio, Pameran Art for Peace di TIM Usung Semangat Kolaborasi Global

20/08/2026
IEE Series 2026 di Jakarta, Satukan 10 Pameran Industri
Events

IEE Series 2026 di Jakarta, Satukan 10 Pameran Industri

20/08/2026
Operasi Pesta Copet, Menggugat Realita Lewat Tawa dan Keresahan
Music

Operasi Pesta Copet, Menggugat Realita Lewat Tawa dan Keresahan

19/08/2026
GIFA-METEC 2026, Hadirkan Pameran Logam Jadi Bukti Hilirisasi RI
Events

GIFA-METEC 2026, Hadirkan Pameran Logam Jadi Bukti Hilirisasi RI

19/08/2026
Journey of Indonesia

Journey of Indonesia is a popular online newsportal and going source for technical and digital content for its influential audience around the globe. You can reach us via email.


journeyofid@gmail.com

  • Journey of Indonesia
  • Kebijakan Privasi
  • Pedoman Media Siber
  • Editorial
  • Kontak

© 2024 Journey of Indonesia.

No Result
View All Result
  • Journey of Indonesia
  • News
    • Berita Foto
  • Events
  • Travel
    • Tourism
    • Culinary
    • Hotels
  • Lifestyle
    • Automotive
    • Gadget
    • Fashion
    • Health
  • Culture
  • Entertainment
    • FIlm
    • Music
    • Show
  • Profile

© 2024 Journey of Indonesia.