JAKARTA – Darah Papua yang mengalir dalam nadi Nowela Mikhelia tidak pernah sekadar menjadi identitas di atas kertas. Bagi pemenang ajang pencarian bakat ini, Papua adalah napas, memori, dan rasa syukur yang terus ia suarakan. Melalui single teranyarnya berjudul ‘Mamae’, Nowela kembali membawa pendengarnya pulang ke Timur Indonesia, menyusuri hutan, sungai, hingga semangat masyarakatnya yang pantang menyerah.
Lagu ini bukan sekadar rilisan komersial biasa, melainkan sebuah pernyataan personal yang lahir dari kerinduan mendalam. Meski kini menetap jauh dari tanah kelahirannya, keterikatan emosional Nowela tetap tak tergoyahkan. Ia menyebut bahwa Papua adalah bagian tak terpisahkan dari dirinya yang ia bawa ke mana pun melangkah. “Papua itu seperti darah yang mengalir di tubuh saya. Itu identitas dan rasa syukur saya kepada Tuhan,” tutur Nowela dengan penuh penekanan.
Judul ‘Mamae’ sendiri dipilih bukan tanpa alasan. Dalam dialek sehari-hari masyarakat Papua, kata tersebut merupakan ekspresi spontan untuk menunjukkan rasa kagum, takjub, atau keterkejutan yang mendalam. Dengan menempatkan kata ini sebagai tajuk dan bagian utama dari refrain, Nowela ingin mengomunikasikan rasa jatuh cinta yang murni terhadap tanahnya. “Mamae itu ekspresi kekaguman. Kata ini ada di reff dan menunjukkan bahwa hati saya benar-benar jatuh cinta sama Papua,” jelasnya mengenai filosofi di balik pemilihan diksi tersebut.
Secara musikal, ‘Mamae’ dibalut dengan aransemen tropikal yang hangat dan segar. Pendengar seolah diajak menyesap udara pantai Papua yang tenang namun penuh energi. Namun di balik melodi yang easy listening tersebut, tersimpan lirik yang sangat spesifik merekam masa kecil Nowela. Ia berkisah tentang pengalaman berlari di hutan dan bermain di sungai, hingga menyisipkan metafora tentang kekayaan bumi Cenderawasih.

“Liriknya benar-benar menceritakan apa yang saya alami waktu kecil. Papua itu indah, bukan cuma alamnya, tapi juga masyarakatnya yang punya hati tulus,” ungkap Nowela. Bahkan, ia secara berani menyisipkan realitas kekayaan alam lewat kalimat ‘emas di bawah kaki kami di Papua’ sebagai pengingat akan anugerah yang dimiliki tanah tersebut.
Menariknya, proses kreatif lagu ini justru mendahului dua single sebelumnya, ‘Bertahan’ dan ‘Back To You’. Tercipta dalam sebuah sesi workshop pada tahun 2023, Nowela berkolaborasi dengan Kaleb J dan Belanegara Abe. Keajaiban terjadi saat proses penulisan, lirik-lirik yang emosional itu mengalir begitu saja tanpa hambatan berarti. “Ini lagu yang paling cepat saya tulis. Dalam satu kali pertemuan, liriknya langsung selesai karena memang berdasarkan rasa cinta saya sama Papua,” kenang Nowela mengenai sesi rekaman yang penuh kesan tersebut.
Selama lima tahun terakhir, Nowela memang konsisten mengangkat tema-tema tentang Papua dalam karya artistiknya. Konsistensi ini menjadi bukti bahwa ia ingin menjadi jembatan bagi masyarakat luas untuk mengenal Papua lebih dalam, melampaui stigma atau sekadar permukaan. Melalui ‘Mamae’, ia mengirimkan undangan terbuka bagi siapa saja untuk melihat Papua dengan perspektif yang lebih luas dan penuh rasa hormat.
Kini, balada tropikal yang energetik ini sudah bisa dinikmati di berbagai platform pemutar musik digital. ‘Mamae’ hadir bukan hanya sebagai lagu, melainkan sebagai pengingat bahwa sejauh apa pun seseorang pergi, akar akan selalu memanggil untuk kembali dicintai./ JOURNEY OF INDONESIA | Ismed Nompo


















