JAKARTA – Bagi Maya Hasan, panggung bukan sekadar tempat untuk memetik dawai, namun di atas panggung adalah momen di mana ia merasa benar-benar hidup. Di usianya yang kian matang, musisi kelahiran 10 Januari 1972 ini justru baru saja menuntaskan salah satu mimpi terbesarnya di penghujung 2025, sebuah pembuktian bahwa tangan Tuhan dan determinasi manusia selalu bertemu di titik yang tepat.
Lampu sorot Esplanade Singapura menjadi saksi bisu ketika Maya tampil dalam International Premiere, berkolaborasi dengan Shanghai Nine Trees Philharmonic Orchestra di bawah tongkat maestro Muhay Tang. Disana, ia menjadi satu-satunya wakil Indonesia yang membawakan komposisi syahdu karya Danny Dong bertajuk “Dreaming of Fengpu”. Momen ini bukan sekadar performa profesional, melainkan sebuah mukjizat yang datang secara tak terduga.
“Tentu saja aku sangat bersyukur, miracles still happen to all. Bahkan saat di posisi ini. Aku berharap ini bisa menginspirasi semua. Impian bisa tercapai tanpa peduli pada usia berapapun,” ungkap harpist jelita bernama lengkap Haris Maya Christina Hasan ini,
Keterlibatannya bermula dari sebuah kebetulan yang ia yakini sebagai garis tangan. Pengunduran diri mendadak pemain harpa orkestra tersebut membawa langkahnya menuju Singapura melalui rekomendasi kolega. Meski persiapan terbilang sangat sempit, ia menyambar kesempatan tesebut sebagai bentuk dedikasi terhadap instrumen yang telah ia pelajari sejak menempuh studi di Willamette University, Oregon, Amerika Serikat.
Bagi Maya, konser di Esplanade adalah jawaban telak bagi siapa pun yang pernah meragukan eksistensinya. Ia mengakui sempat mendengar selentingan pertanyaan apakah ia masih bermain harpa. Tawaran internasional itu pun menjadi pembuktian yang mengharukan, meski di saat yang sama ia harus berjuang sendiri tanpa didampingi manajemen maupun ketiga buah hatinya.

“Aku hanya bisa merasakan merinding dan terharu. Aku bawa joy dan positive energy saja. Aku mensyukuri dan aku sangat menikmati. Walau saat itu unfortunately, ketiga anakku ga bisa ikut. Bahkan managementku juga tak bisa mendampingi. Tapi the show must go on,” kenangnya.
Kehidupan Maya Hasan adalah sebuah orkestrasi antara tiga dunia: musik, seni peran, dan penyembuhan melalui nada (music healing). Sejak tahun 1990-an, ia telah mengasah bakatnya di dunia teater melalui Eksotika Karmawibhangga Indonesia (EKI), bahkan sempat terjun sebagai penulis naskah dan sutradara. Di layar lebar, namanya sempat bersinar lewat film “Koper” pada tahun 2006, sebelum akhirnya memutuskan vakum selama 14 tahun.
Dari balik gemerlap panggung, sisi humanis Maya terpancar melalui dedikasinya sebagai seorang music-healer. Selama dua dekade, ia mendalami kekuatan vibrasi suara untuk kesehatan. Sejak 2013, ia secara resmi mengantongi lisensi profesional yang kemudian diwujudkannya melalui Grotto, sebuah butik penyembuhan holistik di kawasan Pondok Indah yang ia dirikan pada tahun 2020 dengan filosofi A Home for Harmonious Body and Mind Function.
Bagi Maya, musik bukan sekadar hiburan, melainkan frekuensi yang mampu menyelaraskan sel-sel tubuh. “Setiap sel-sel dalam tubuh kita, berresonansi, bervibrasi. Ada yang selaras, ada yang tidak. Nah yang tidak, diselaraskan kembali dengan musik dan getaran juga. Terus dilakukan”, paparnya menjelaskan kaitan erat antara kesehatan fisik dan harmoni suara.
Banyak yang bertanya bagaimana sang harpist jelita ini menjaga kebugaran dan kecantikan di tengah padatnya jadwal sebagai musisi sekaligus ibu tunggal dari tiga anak. Sambil melempar senyum khasnya, Maya menyodorkan resep yang sederhana namun mendalam yakni; optimisme dan energi positif. Menurutnya, tidak ada formula ajaib selain menjaga pola pikir dan disiplin fisik yang konsisten.

Setiap pagi, Maya melakukan ritual penguatan mental untuk menyongsong hari. Ia juga tetap tekun melatih teknik bermain harpa demi menjaga memori ototnya. “Pada setiap pagi, aku reminding my mind, myself. Itu rutin aku lakukan selalu. Kemudian belakangan aku juga melatih lagi berbagai lagu-lagu klasik, sekaligus melatih otot-otot tanganku. Otot-otot besar dan kecil. Aku harus tetap melatih determinasi dan menjaga konsistensi,” tuturnya.
Meski jadwalnya sangat padat, Maya mengaku sangat terbantu oleh kehadiran dua asisten yang mengatur ritme kerjanya. Namun, di atas segalanya, ia menyerahkan seluruh kendali hidupnya kepada Sang Pencipta. Baginya, keteraturan jadwal hanyalah ikhtiar manusia, sementara Tuhan yang menentukan ketepatan waktu.
Memasuki tahun 2026, Maya Hasan membawa semangat yang sama dengan yang ia tanamkan pada dirinya sendiri selama bertahun-tahun. Ia ingin terus berkarya, terutama di dunia musik dan film yang menjadi gairah utamanya. Baginya, setiap tahun adalah lembaran baru untuk mewujudkan harapan-harapan yang sempat tertunda.
Ia menitipkan pesan bagi siapa saja yang tengah berjuang mengejar ambisi. Keyakinan adalah kunci utama untuk menembus batas usia dan situasi sulit. Maya percaya bahwa impian yang dipeluk erat dan dibawa dalam doa tidak akan pernah sia-sia. “Selalu berpeganglah pada mimpi. Cari mimpi, pegang, bawa dalam doa dan do your best always. Mimpimu akan dikabulkan Tuhan, yakinlah. Itupun seperti yang aku tanamkan dan menginspirasiku memasuki tahun 2026 ini,” tutupnya mengakhiri perbincangan./ JOURNEY OF INDONESIA | iBonk

















