JAKARTA – Dunia fotografi dalam genggaman sedang berada di titik balik yang krusial. Jika satu dekade lalu kompetisi antar-produsen ponsel pintar hanya berkutat pada besaran megapiksel dan jumlah lensa, kini medan tempur telah bergeser ke ranah kecerdasan buatan atau Artificial Intelligence (AI). Memasuki tahun 2026, AI bukan lagi sekadar fitur pelengkap, melainkan otak di balik setiap rana yang ditekan.
Fenomena ini ditangkap jelas oleh Samsung sebagai pemimpin pasar. Melalui lini Galaxy S Series, raksasa teknologi asal Korea Selatan ini membuktikan bahwa kualitas visual profesional kini bisa diraih tanpa harus menenteng perlengkapan kamera yang berat. Transformasi ini berfokus pada efisiensi; sebuah transisi dari pemrosesan gambar pasif menuju kemampuan generatif aktif yang mampu memahami konteks sebuah foto.
“Kualitas foto dari smartphone kini semakin sempurna dengan adanya kombinasi antara hardware dan software yang mumpuni. Lebih dari pengembangan teknologi lensa dan sensor kamera, Samsung terus konsisten meningkatkan kecerdasan AI di dalamnya. Semua itu dilakukan karena kami ingin siapa saja bisa mendapatkan foto yang bagus dan berkreasi dengan mudah. Oleh karena itu, kami berupaya menghadirkan pengalaman yang responsif melalui berbagai kecanggihan AI di fitur kamera terdepan,” ujar Ilham Indrawan, MX Product Marketing Senior Manager Samsung Electronics Indonesia, di Jakarta, Senin (9/2/2026).

Perjalanan Samsung dalam mengintegrasikan AI sejatinya adalah sebuah narasi tentang inovasi yang sabar. Dimulai pada 2018 dengan deteksi pemandangan cerdas (scene detection), Samsung secara bertahap membangun fondasi Computational Photography.
Pada era Galaxy S9 dan S20, fokus utama adalah mengatasi kendala fisik, seperti menangkap gerakan cepat melalui Super Slow-mo atau menembus jarak melalui AI Space Zoom 100x pada varian Ultra. Seiring berjalannya waktu, fokus tersebut bergeser pada estetika manusia. Pada era Galaxy S21 dan S22, AI mulai dilatih untuk memahami gerakan guna menciptakan stabilisasi video tanpa gimbal, serta menyempurnakan skin tone agar terlihat natural namun tetap profesional.
Puncaknya terjadi pada transisi Galaxy S23 hingga Galaxy S25 Series. Kehadiran ProVisual Engine menjadi pembeda utama. Mesin AI komprehensif ini tidak main-main; ia dilatih dengan lebih dari 400 juta dataset untuk memastikan setiap piksel diproses dengan akurasi tinggi. Hasilnya adalah fitur seperti Photo Assist dan Generative Edit, yang memungkinkan pengguna awam melakukan penyuntingan tingkat lanjut seperti menghilangkan objek atau mengisi ruang kosong pada bingkai hanya dengan beberapa ketukan.

Di Indonesia, relevansi teknologi ini terasa sangat kuat. Ponsel pintar telah menjadi perangkat utama untuk mendokumentasikan segala hal, mulai dari konten media sosial yang estetik, momen hangat keluarga, hingga tantangan memotret di kondisi minim cahaya (low light).
Tren tahun 2026 menunjukkan bahwa pengguna tidak lagi hanya menginginkan foto yang tajam, tetapi juga proses yang intuitif. Fungsi AI kini bergerak menuju personalisasi; memahami preferensi visual pengguna secara real-time. Kecepatan dan kemudahan editing menjadi mata uang baru dalam produksi konten digital.
Ilham Indrawan menekankan bahwa komitmen Samsung tidak akan berhenti di sini. Orientasi masa depan Samsung adalah memastikan teknologi tetap menjadi pelayan bagi kreativitas manusia, bukan penghambat. “Seiring dengan fungsi AI yang semakin luas dan canggih, kami akan terus meningkatkan kapabilitas AI di kamera Samsung dan fitur-fitur lain di smartphone Samsung. Dengan begitu, konsumen dari berbagai kalangan, mulai dari content creator hingga penggemar fotografi, bisa semakin menjadikan smartphone Samsung sebagai pilihan utama untuk membuat konten-konten terbaik, kapan saja dan di mana saja,” tambah Ilham.
Melalui sinergi antara warisan inovasi optik dan kekuatan generatif AI, Samsung Galaxy S Series kini memosisikan diri bukan sekadar sebagai alat komunikasi, melainkan studio kreatif dalam saku. Sebuah era baru di mana setiap individu memiliki kekuatan untuk menangkap, mencipta, dan menginspirasi dunia secara instan./ JOURNEY OF INDONESIA | Nuhaa


















