JAKARTA – Dua perempuan, dua kota, satu tekad. Efa Fauziah dan Rohani Sembiring membuktikan bahwa teknologi kecerdasan buatan bukan hanya milik perusahaan besar, namun juga bisa jadi “mitra bisnis” bagi ibu rumah tangga yang merintis usaha dari nol.
Bayangkan mengelola dapur rumahan, mengurus lima anak, sekaligus memantau tren penjualan makanan semua dari satu layar ponsel. Itulah keseharian Efa Fauziah, 46 tahun pemilik Mie Aceh 769 Pijay di Jakarta. Bagi perempuan yang pernah merasakan getirnya mengungsi akibat gempa Pidie Jaya, Aceh, pada 2016, membangun usaha bukan semata soal profit. Ini soal bertahan, dan kemudian bertumbuh.
Kisah Efa dan Rohani Sembiring, pemilik Risoles Mbak Any, mencerminkan pergeseran nyata yang tengah terjadi di ekosistem UMKM Indonesia. Teknologi berbasis kecerdasan buatan (AI) yang selama ini kerap diasosiasikan dengan perusahaan-perusahaan teknologi raksasa, kini semakin mudah diakses oleh pelaku usaha mikro dan kecil termasuk para ibu yang merintis bisnis dari dapur rumah mereka sendiri.
Perjalanan Efa penuh liku. Setelah gempa meluluhlantakkan kondisi ekonomi keluarganya di Aceh, ia dan suami memutuskan merantau ke Bogor pada 2019. Berbekal resep Mie Aceh turun-temurun, mereka membuka usaha kecil di sebuah ruko. Namun tantangan belum berakhir. Pindah ke Jakarta pada 2020, suaminya sempat bekerja sebagai juru masak di Pasar Minggu sebelum warung tempat ia bekerja ludes dilalap api.
Alih-alih menyerah, Desember 2020 menjadi momentum kebangkitan. Mie Aceh 769 Pijay dirintis kembali dari nol, kali ini dengan modal nekat dan semangat seorang ibu yang ingin memberikan masa depan lebih baik bagi lima anaknya. Bergabung sebagai mitra GrabFood pada tahun yang sama menjadi titik balik usahanya.

Lonjakan angka itu bukan sihir. Dari hanya 10–15 porsi per hari saat pertama buka, kini Mie Aceh 769 Pijay melayani hingga 150 porsi setiap harinya—lebih dari sepuluh kali lipat pertumbuhan dalam hitungan tahun. Sekitar 80 persen penjualan kini datang dari kanal online, dengan menu andalan Mie Aceh Daging Full dan Mie Aceh Extreme yang menjadi produk terlaris. Usaha ini bahkan telah memiliki dua cabang. Salah satu faktor yang membedakan era baru UMKM ini adalah hadirnya fitur GrabMerchant AI Assistant, alat berbasis kecerdasan buatan yang memungkinkan merchant membaca tren penjualan, mengidentifikasi menu paling diminati, hingga mendapatkan rekomendasi strategi promosi yang sesuai dengan kondisi bisnis mereka.
Bagi Efa, fitur ini bukan sekadar laporan data, melainkan pengalaman baru dalam mengelola usaha. “Dengan GrabMerchant AI Assistant rasanya seperti punya teman diskusi dalam menjalankan bisnis. Saya bisa bertanya menu mana yang sebaiknya dipromosikan atau kapan waktu terbaik untuk menjalankan promo,” ungkap Efa Fauziah, pemilik Mie Aceh 769 Pijay
Rohani Sembiring pun merasakan hal serupa. Ibu tiga anak asal Medan yang akrab disapa Mbak Any ini merintis usaha risoles dari kontrakan di Jakarta saat pandemi menghantam ekonomi keluarganya. Sementara sang suami berprofesi sebagai mitra pengemudi Grab, Mbak Any membuka pre-order kecil-kecilan kepada tetangga dan kenalan. Kini, sekitar enam tahun kemudian, Risoles Mbak Any telah punya cabang kedua dan beberapa karyawan, bahkan anak sulungnya yang duduk di bangku SMA ikut terlibat membantu usaha keluarga.
“Sekarang saya seperti punya teman untuk berdiskusi soal bisnis. Kalau penjualan menurun, saya bisa mencari tahu strategi apa yang bisa dilakukan,” ungkap Rohani Sembiring, pemilik Risoles Mbak Any. Risoles ayam sayur dan risoles beef mayo menjadi menu andalan yang paling banyak dipesan. Saat Ramadan, volume pesanan bisa melonjak lebih dari dua kali lipat dibandingkan hari biasa dan 90 persen dari seluruh transaksi kini berjalan melalui platform digital.
Di balik keberhasilan keduanya, ada perubahan mendasar dalam cara mereka mengelola bisnis yang dari sekadar intuisi menjadi keputusan berbasis data. GrabMerchant AI Assistant memberikan insight tentang pola pembelian pelanggan, jenis promo yang paling efektif, hingga potensi menu yang bisa dikembangkan. Ini bukan lagi kemewahan eksklusif perusahaan besar ini sudah menjadi kenyataan bagi pedagang kaki lima digital.

Melinda Savitri, Country Marketing & Communications Head Grab Indonesia, menyebut transformasi ini sebagai bagian dari komitmen jangka panjang perusahaan. “Teknologi merupakan salah satu kunci untuk membuka potensi tak terbatas bagi UMKM. Kami percaya bahwa dengan merangkul inovasi seperti GrabMerchant AI Assistant, pelaku usaha dapat mengeksplor data dan mengubahnya menjadi strategi nyata, membantu merchant memahami dinamika bisnis dan pengambilan keputusan dengan lebih terukur,” ujarnya.
Lebih dari 400.000 merchant Grab di Indonesia kini telah memanfaatkan fitur ini dalam operasional harian mereka, angka yang mencerminkan betapa cepatnya adopsi teknologi AI di lapisan usaha paling akar rumput sekalipun.
Selain teknologi, Efa juga aktif di Komunitas SERABI (Sekumpulan Perempuan Bisa) Grab, sebuah ruang belajar bagi sesama merchant perempuan. Di sini, ia tak hanya mendapat pengetahuan baru tentang fitur aplikasi atau strategi promosi, tetapi juga keyakinan bahwa sesama pelaku usaha perempuan bisa saling menguatkan di tengah perubahan yang terus terjadi.
Kisah Efa dan Mbak Any adalah kisah yang berulang di seluruh penjuru Indonesia: perempuan-perempuan yang semula hanya berusaha menambal celah ekonomi keluarga, namun justru menemukan panggilan baru sebagai wirausahawan. Teknologi yang dulu terasa jauh dan rumit kini hadir sebagai jembatan yang membuat perjalanan itu sedikit lebih ringan untuk dilalui.
Bagi pelaku UMKM yang ingin mengikuti jejak serupa, Grab membuka pintu kemitraan melalui website GrabMerchant atau aplikasi GrabMerchant yang tersedia di App Store dan Google Play./ JOURNEY OF INDONESIA | iBonk

















