JAKARTA – Di tengah dinamika industri pariwisata yang kian kompetitif, MORA Group memilih langkah yang tidak biasa. Alih-alih sekadar mengejar kuantitas bangunan, perusahaan yang dinakhodai oleh Andhy Irawan ini lebih memilih untuk memperkuat fondasi ekosistem bisnis yang terintegrasi, mulai dari teknologi, konstruksi, hingga pengembangan sumber daya manusia melalui MORA Academy.
Langkah strategis ini ditegaskan kembali dalam pertemuan hangat bertajuk HAM x MORA Group “Seduluran Saklawase” di kawasan Sudirman, Jakarta, Selasa (3/2/2026). Founder dan CEO MORA Group, Andhy Irawan, mengungkapkan bahwa kunci keberlanjutan bisnis perhotelan saat ini terletak pada kepercayaan pemangku kepentingan dan kesolidan sistem internal.
Hingga saat ini, MORA Group telah mengoperasikan enam hotel dan tengah mengawal enam proyek lainnya yang masih dalam tahap pengembangan. Dari total 12 proyek yang berjalan secara selektif tersebut, geliat ekspansi akan semakin terasa pada tahun ini. Proyek di Ciwidey, Bandung, dijadwalkan menyapa publik pada April mendatang, disusul oleh pembukaan hotel di Palu, Sulawesi Tengah, pada November 2026.
Ambisi MORA Group tidak berhenti di tanah air. Dengan menggandeng perusahaan kapital asal Jepang, grup ini mulai membidik segmen hotel bintang lima dengan nilai investasi yang fantastis. Andhy menyebutkan bahwa satu proyek di kelas ini bisa menelan dana hingga Rp1 triliun, tergantung pada fluktuasi harga lahan dan biaya konstruksi. Fokus utamanya adalah menyasar Jakarta dengan target 500 hingga 700 kamar, sementara Bali akan diarahkan pada pengembangan vila eksklusif.

“Visi kami bukan menjadi grup terbesar, melainkan menjadi perusahaan yang dipercaya para stakeholder. Kepercayaan merupakan aset utama dalam membangun bisnis jangka panjang,” ujar Andhy.
Ekspansi internasional pun sudah masuk dalam radar perusahaan. Melalui skema joint venture, MORA Group tengah bersiap menancapkan kuku di Jeddah dan Mekkah, Arab Saudi. Selain itu, penjajakan investasi di Dubai dan rencana akuisisi properti di Jepang menjadi bukti bahwa perusahaan ini serius ingin membawa standar hospitality lokal ke kancah global.
Namun, yang membuat MORA Group berbeda adalah keberadaan unit bisnis pendukung yang saling mengunci. Di bawah payung holding yang mencakup MORA Hospitality, MORA Technology, hingga MORA Capital, mereka menciptakan efisiensi melalui teknologi. Sistem operasional berbasis dashboard terpadu memungkinkan manajemen memantau kinerja real-time, mulai dari arus pendapatan hingga absensi karyawan di seluruh jaringan.
Inovasi juga merambah ke sektor gaya hidup melalui lini Food & Beverage (F&B). Jenama kopi dan pastry “Hermier” dihadirkan untuk menangkap ceruk pasar generasi muda. Brand ini diproyeksikan tidak hanya menjadi fasilitas hotel, tetapi menjadi entitas mandiri yang akan berekspansi ke bandara-bandara internasional dan pusat kota besar di Indonesia.
Menatap lima tahun ke depan, target minimal 30 properti telah ditetapkan. Bagi Andhy, pertumbuhan ini harus dibarengi dengan kesiapan SDM di setiap lini bisnis. Dengan struktur yang mengarah pada pembentukan super holding, MORA Group berupaya memastikan bahwa setiap unit usaha baik konstruksi maupun komersial berjalan dalam satu napas ekosistem yang sama demi menjaga kualitas layanan yang konsisten./ JOURNEY OF INDONESIA | Nuhaa


















