YOGYAKARTA – Jauh dari hiruk-pikuk Malioboro dan keramaian Prambanan, tersembunyi di lereng perbukitan Boko, berdiri sebuah kompleks percandian Hindu yang sunyi namun menyimpan pesona luar biasa. Candi Ijo, dinamai begitu karena warna hijau rerumputan yang menyelimuti bukit di sekelilingnya. Candi Ijo juga menjadi 3 candi tertinggi di Daerah Istimewa Yogyakarta, dan mungkin salah satu tempat terbaik di seluruh Pulau Jawa untuk menyaksikan matahari terbenam.
Bagi sebagian besar wisatawan, Yogyakarta identik dengan Candi Borobudur yang megah atau Prambanan yang dramatis. Padahal, di balik Bukit Boko yang hijau, tersimpan sebuah situs bersejarah yang tak kalah menakjubkan yakninCandi Ijo, sebuah kompleks percandian Hindu yang dibangun antara abad ke-9 hingga ke-11 Masehi, tepat pada era keemasan Kerajaan Mataram Kuno.
Nama “Ijo” dalam Bahasa Jawa berarti hijau, merujuk pada lanskap bukit yang subur di sekitar situs ini. Berlokasi di Dusun Groyokan, Desa Sambirejo, Kecamatan Prambanan, Kabupaten Sleman, candi ini berada di ketinggian sekitar 410 meter di atas permukaan laut, menjadikannya situs percandian tertinggi sekaligus paling dramatis di seluruh Yogyakarta.

Candi Ijo pertama kali ditemukan dan mulai diteliti secara ilmiah pada awal abad ke-20. Berdasarkan kajian arkeologis dan analisis prasasti yang ditemukan di sekitar kawasan ini, para ahli menyimpulkan bahwa kompleks percandian ini dibangun secara bertahap selama beberapa abad, diperkirakan antara abad ke-9 hingga ke-11 Masehi.
Yang membedakan Candi Ijo dari situs percandian lain di Yogyakarta adalah struktur berterasnya yang unik. Kompleks ini terdiri atas 17 bangunan candi yang tersebar di 11 teras berbeda, membentuk semacam “punden berundak” bernuansa Hindu. Tata letak berteras ini bukan sekadar pilihan arsitektural yang mencerminkan konsep kosmologi Hindu tentang Gunung Meru, tempat tinggal para dewa.
Candi utama (induk) berorientasi ke barat, hal yang sangat khas untuk candi-candi Hindu di Jawa Tengah dan diapit oleh tiga candi perwara (pendamping) yang menghadap ke arah yang sama. Di dalam candi induk, wisatawan dapat menemukan lingga dan yoni, simbol pemujaan Dewa Siwa yang menjadi bukti kuat tentang aliran agama yang dianut para pembangun candi ini.
Salah satu temuan terpenting di kawasan Candi Ijo adalah Prasasti Poh, yang berangka tahun 906 Masehi. Prasasti ini memberikan informasi berharga tentang kehidupan sosial dan keagamaan masyarakat Mataram Kuno, serta menjadi acuan penting bagi para sejarawan dalam merekonstruksi kronologi pembangunan candi.
Keunggulan dan Daya Tarik Utama Candi Ijo
1. Sunset Paling Spektakuler di Yogyakarta
Ini adalah alasan utama mengapa Candi Ijo akhir-akhir ini semakin ramai dikunjungi. Posisinya yang berada di puncak Bukit Boko, dengan orientasi bangunan menghadap barat, menciptakan kondisi ideal untuk menikmati golden hour yang luar biasa. Saat matahari mulai condong ke barat, seluruh kompleks candi m emerah keemasan, sementara di bawah sana, Kota Yogyakarta, Gunung Merapi di utara, dan siluet Gunung Merbabu terlukis dalam gradasi cahaya yang memukau.

2. Sepi, Autentik, dan Belum Terlalu Komersial
Di sinilah letak keistimewaan lain Candi Ijo, destinasi ini belum sepopuler Prambanan atau Borobudur. Artinya pengunjung bisa menikmati suasana percandian yang lebih tenang dan personal, tanpa berdesak-desakan dengan ribuan turis. Pada pagi hari di luar musim liburan, bahkan bisa merasa seperti satu-satunya pengunjung yang berdiri di antara batu-batu bersejarah itu.
3. Panorama 360 Derajat yang Menakjubkan
Dari pelataran Candi Ijo, pandangan tidak terhalang ke segala penjuru. Ke utara, deretan gunung berapi Jawa Tengah berdiri kokoh. Ke selatan, laut Hindia tampak berkilau di hari yang cerah. Ke barat, hamparan Kota Yogyakarta terbentang luas dengan guratan rel kereta api dan bangunan-bangunan kecil bak miniatur. Dan langsung di bawah kaki bukit yang menambah keunikan tersendiri karena terlihat landasan pacu Pangkalan Udara TNI AU Adisutjipto, dengan pesawat-pesawat yang sesekali lepas landas dan mendarat.
4. Nuansa Mistis dan Spiritual yang Kental
Tidak seperti Prambanan yang sudah sangat tertata rapi, Candi Ijo masih mempertahankan aura mistis situs arkeologi yang sesungguhnya. Beberapa bagian kompleks masih dalam proses penelitian dan pemugaran, sehingga wisatawan bisa merasakan sensasi menjelajahi situs bersejarah yang masih “hidup” secara ilmiah. Pohon-pohon besar yang tumbuh di sekitar teras-teras candi menambah atmosfer yang sakral dan penuh misteri.
Dari pusat Kota Yogyakarta, perjalanan menuju Candi Ijo ditempuh dengan melewati Jalan Solo ke arah timur. Setelah melewati kawasan Prambanan (sekitar 17 km dari pusat kota), ambil jalan ke arah selatan menuju kawasan Bukit Boko. Perempatan Prambanan adalah titik acuan penting dari sini, Candi Ijo masih sekitar 7–8 km lagi, sebagian besar melalui jalan berliku yang menanjak di lereng perbukitan.
Petunjuk jalan menuju Candi Ijo sudah tersedia dengan baik, dan Google Maps dapat memandu langsung ke lokasi. Cukup ketikkan “Candi Ijo Prambanan” di aplikasi peta. Sinyal seluler umumnya baik di sepanjang rute, meski di beberapa titik di lereng bukit sinyal dapat melemah.

Waktu terbaik untuk menikmati sunset di Candi Ijo, pengunjung sebaiknya datang sekitar pukul 15.00–16.00 WIB agar punya waktu menjelajahi kompleks sebelum momen golden hour tiba. Jangan lupa perhatikan cuaca, langit cerah tanpa awan tebal adalah kunci pemandangan terbaik. Waktu paling ideal adalah saat musim kemarau pada bulan April–Oktober.
Posisi geografis Candi Ijo yang berada di kawasan Prambanan memungkinkan wisatawan untuk merancang itinerari satu hari yang sangat kaya. Berikut adalah kombinasi wisata yang direkomendasikan oleh tim Journey of Indonesia:
Pagi: Prambanan (08.00–11.00)
Mulailah hari dengan mengunjungi kompleks Candi Prambanan yang megah. Cahaya pagi yang keemasan membuat foto-foto Anda akan tampak dramatis. Waktu pagi juga lebih sejuk dan belum seramai siang hari.
Siang: Keraton Ratu Boko (11.30–13.30)
Sekitar 3 km dari Prambanan, Keraton Ratu Boko menawarkan reruntuhan istana kerajaan Mataram Kuno yang luas. Setelah puas menjelajahi, nikmati makan siang di warung-warung lokal di sekitar kawasan Prambanan.
Sore: Candi Ijo (15.00–18.00)
Tutup hari dengan mahakarya alam dan budaya di Candi Ijo. Tiba lebih awal untuk menjelajahi semua teras dan bangunan candi, lalu pilih posisi terbaik untuk menyaksikan matahari terbenam yang mempesona.
Candi Ijo adalah bukti bahwa Yogyakarta, kota yang kerap dikatakan sudah “habis dijelajahi” ternyata selalu menyimpan kejutan bagi yang mau sedikit berani keluar dari jalur wisata mainstream. Di saat Prambanan dan Borobudur semakin padat, Candi Ijo hadir sebagai alternatif yang tidak hanya setara dari sisi nilai sejarah, tetapi bahkan melampaui dalam hal pengalaman visual dan emosional./ JOURNEY OF INDONESIA | Nuhaa

















