YOGYAKARTA – Di salah satu sudut asri Loman Park Hotel Yogyakarta, Sabtu, 14 Februari 2026, aroma malam panas menyeruak, berpadu dengan diskusi hangat tentang eksistensi diri. Hotel yang dikenal sebagai titik temu budaya ini baru saja merampungkan sebuah eksperimen kreatif bertajuk “Batik Weton” dan “Jagongan Gayeng”, sebuah upaya berani untuk menarik filosofi Jawa yang adiluhung ke dalam ranah yang lebih personal dan kontemporer.
Berbeda dengan workshop batik konvensional yang biasanya menyodorkan pola pakem, acara ini justru menantang peserta untuk menengok ke dalam diri sendiri. Dipandu oleh seniman Nurohmad, S.Sn dari Omah Kreatif DONGAJI, para peserta diajak menyelami karakter mereka berdasarkan hari lahir atau weton. Hasil pembacaan karakter itulah yang kemudian dituangkan menjadi visual, mulai dari siluet fauna, flora, hingga simbol-simbol abstrak yang dianggap mewakili jiwa masing-masing.
Proses teknisnya pun unik, peserta tidak menggunakan canting tradisional, melainkan teknik batik cap kertas. Pola yang telah digambar di atas kertas dibentuk menjadi alat cap mandiri, dicelupkan ke dalam lilin malam, lalu ditekan di atas kain. Pendekatan ini membuat batik tidak lagi terasa kaku atau sekadar replikasi motif kuno, melainkan sebuah pernyataan identitas yang sangat privat.

Handono S. Putro, Founder & Managing Director Loman Park Hotel Yogyakarta, memandang kegiatan ini sebagai jembatan antara masa lalu dan masa kini. “Hari ini kita melihat perpaduan yang indah antara kreativitas tangan melalui batik cap kertas dan pengasahan nalar melalui Jagongan Gayeng. Di Loman Park Hotel, kami berkomitmen agar setiap tamu tidak hanya mendapatkan pengalaman menginap, tapi juga membawa pulang nilai-nilai kearifan lokal. Batik Weton adalah cara kami merayakan identitas individu dalam balutan tradisi yang asyik, personal, dan tidak kaku,” ungkap Handono S. Putro.
Refleksi atas jati diri tersebut semakin diperdalam melalui sesi diskusi bertajuk “Weton Iku Ora Waton” yang digelar di area Garden. Menghadirkan Ketua Lesbumi, Cak Udin, bersama Nurohmad dan dimoderatori oleh Iwan RS, diskusi ini membedah mitos seputar weton. Pesan utamanya jelas: weton bukanlah sekadar ramalan atau angka penanggalan mati, melainkan sebuah kompas karakter dan panduan laku hidup bagi masyarakat Jawa dalam meniti keseharian.
Suasana “gayeng” atau penuh keakraban menyelimuti taman hotel, menunjukkan bahwa narasi tradisional masih memiliki daya pikat kuat jika dikemas dengan relevansi modern. Bagi Loman Park, inisiatif ini bukan sekadar seremoni singkat. Keberlanjutan semangat ini ditunjukkan melalui Pameran Karya Seni Batik di area Lobby yang dijadwalkan berlangsung hingga 21 Februari 2026. Pameran tersebut terbuka untuk umum, memamerkan beragam motif batik hasil eksplorasi filosofis yang kaya makna.
Melalui acara ini, Loman Park Hotel Yogyakarta seolah menegaskan kembali posisinya bukan sekadar penyedia jasa akomodasi, melainkan sebuah cultural hub. Sebuah ruang inklusif di mana seni, tradisi, dan modernitas beririsan, memberikan pengalaman yang lebih mendalam dari sekadar kunjungan wisata biasa./ JOURNEY OF INDONESIA | eR Bee


















