JAKARTA — Ketika seorang penyanyi sekaligus aktris terlibat begitu dalam dalam sebuah film, batas antara peran dan ekspresi diri kerap menjadi kabur dan di situlah musik yang sesungguhnya lahir. Itulah yang terjadi ketika Maudy Ayunda menciptakan dua lagu untuk film Para Perasuk karya sutradara Wregas Bhanuteja. Bukan sekadar pengisi suara, melainkan sebuah refleksi emosional yang tumbuh organik dari dalam proses pembuatan filmnya sendiri.
Rekata Studio bersama Trinity Optima Production resmi merilis lirik video ‘Aku yang Engkau Cari’ sekaligus memperkenalkan single kedua ‘Di Tepi Lamunan’, pada 30 Maret 2026. Keduanya menjadi bagian dari original soundtrack (OST) Para Perasuk yang akan tayang di bioskop Indonesia mulai 23 April 2026.
Yang membuat kedua lagu ini istimewa bukan hanya kualitas musiknya, tetapi juga kisah di balik penciptaannya. Maudy mengaku inspirasinya datang langsung saat ia masih berada di lokasi syuting. Suasana Desa Latas, sebuah latar fiktif dalam film beserta karakter-karakter yang hidup di dalamnya terasa begitu nyata hingga mendorongnya untuk menerjemahkan pengalaman itu ke dalam nada dan lirik. “Prosesnya sangat intuitif. Tidak pakai logika naratif biasa, namun menggunakan rasa. Ini proyek pertama baik secara film dan penggarapan lagu yang prosesnya sangat membebaskan aku,” kata Maudy Ayunda.
Untuk mewujudkan visi musikalnya, Maudy menggandeng produser Lafa Pratomo, sosok yang ia percaya mampu menangkap warna dan rasa khas Para Perasuk. Kolaborasi keduanya pun menghasilkan sesuatu yang mengejutkan yakni ‘Aku yang Engkau Cari’ tercipta dalam waktu kurang dari setengah jam. Hasilnya adalah sebuah lagu yang, menurut Maudy, memiliki lapisan emosi seperti bisikan, tenang dan menghanyutkan di permukaan, namun menyimpan kegelisahan yang dalam.

Lafa Pratomo sendiri mengungkapkan bahwa secara musikalitas, ia ingin menghadirkan sentuhan yang berbeda untuk Maudy kali ini, suasana yang lebih imajinatif dan sedikit mistis, agar musik mampu membawa pendengar masuk ke dalam alam lain. Sementara itu, video musik ‘Di Tepi Lamunan’ disutradarai langsung oleh Wregas Bhanuteja, menjadikan kesinambungan antara dunia visual film dan musiknya terasa utuh dan tidak terpisahkan.
Secara tematik, kedua lagu ini ditulis dari sudut pandang Bayu, karakter utama yang diperankan Angga Yunanda. Bayu adalah seorang perasuk, sosok yang bertugas memandu para pelamun ke dalam pengalaman kerasukan dalam tradisi Pesta Sambetan di Desa Latas. Ia bertekad menjadi pemimpin para perasuk, namun di balik ambisinya tersimpan kerinduan mendalam akan penerimaan dan pelukan yang tak pernah ia temukan.
Angga Yunanda sendiri mengakui betapa beratnya tantangan dalam memerankan karakter ini. “Di film Para Perasuk, aku berusaha menghadapi tantangan baru yang cukup berat. Salah satunya adalah proses teknis bertapa dengan digantung secara terbalik, dan itu bikin kepalaku berat,” ujarnya.
Di tengah perjalanan Bayu, hadir Laksmi, karakter yang diperankan Maudy Ayunda sendiri. Perempuan asal Jakarta ini datang ke Desa Latas bukan sebagai turis biasa, melainkan sebagai seseorang yang ingin menyembuhkan luka lamanya melalui Pesta Sambetan. “Kalau biasanya orang healing ke Bali atau Jepang, ini healing-nya ke Desa Latas untuk menghilangkan trauma dengan cara kerasukan. Laksmi dimintai tolong oleh Bayu untuk menemani latihan, supaya Bayu bisa menjadi pimpinan dari Perasuk,” ungkap Maudy Ayunda.
Bagi Maudy, peran Laksmi juga menjadi cermin bagi banyak penonton. “Laksmi adalah karakter yang ingin lepas dari trauma masa lalunya. Tentunya banyak dari kita yang memiliki trauma masa lalu dan berusaha untuk melepasnya agar bisa melangkah ke depan,” tambahnya. Film Para Perasuk sekaligus menandai dua dekade perjalanan berkarya Maudy di industri hiburan Indonesia.
Di balik estetika supranatural dan tradisi kerasukan yang eksotis, Para Perasuk menyimpan pesan yang justru sangat manusiawi. Wregas Bhanuteja — sutradara yang sebelumnya dikenal lewat Penyalin Cahaya (2021) dan Budi Pekerti (2023) ingin menawarkan narasi yang berbeda dari arus utama sinema modern. “Saya merasa dunia kita saat ini sudah terlalu penuh dengan cerita balas dendam dan amarah. Saya ingin menawarkan sesuatu yang berbeda, yakni berdamai, saling berpelukan, menerima masa lalu, dan move on. Itulah esensi penerimaan yang ingin saya sampaikan,” ujar Wregas Bhanuteja.

Salah satu kejutan terbesar dalam Para Perasuk adalah kehadiran Anggun C. Sasmi dalam peran Guru Asri, debut aktingnya di layar lebar Indonesia. Legenda musik yang telah bernyanyi sejak usia 12 tahun dan menorehkan nama di panggung internasional ini mengakui bahwa terjun ke dunia akting adalah tantangan yang sama sekali berbeda dari panggung musik. “Guru Asri adalah sosok yang tegas dan berkharisma. Namun, ada salah satu scene di mana aku mewawancarai Bayu yang ingin menjadi pemimpin dari para perasuk, bikin aku nangis. Menjalani syuting di film Para Perasuk juga cukup sulit bagiku, karena prosesnya sangat berbeda dengan menyanyi di atas panggung. Di panggung, kita cukup menyanyi sekali, tapi kalau adegan untuk film, itu harus diulang berkali-kali,” cerita Anggun.
Sebelum sampai ke penonton Indonesia, Para Perasuk telah lebih dulu getarkan panggung internasional. Film ini mendapat standing ovation saat world premiere di Sundance Film Festival 2026, sekaligus menjadikannya film Indonesia pertama yang berkompetisi di program World Cinema Dramatic Competition Sundance dalam 13 tahun terakhir.
Tak berhenti di sana, Para Perasuk kini resmi terpilih untuk berkompetisi di Miami Film Festival 43 dalam program Marimbas Award, masuk sebagai official selection di program Artful Visions & Asian Frontier pada MSPIFF Amerika Serikat, berkompetisi di Fantaspoa Brasil, serta terpilih di MOOOV Belgia. Sebuah perjalanan festival yang membuktikan bahwa cerita dari desa kecil di pinggiran kota pun mampu berbicara kepada dunia.
Para Perasuk tayang di bioskop Indonesia mulai 23 April 2026, dua OST-nya, “Aku yang Engkau Cari” dan “Di Tepi Lamunan”, kini sudah dapat dinikmati lengkap dengan lirik videonya di platform digital./ JOURNEY OF INDONESIA | iBonk

















