JAKARTA – Dunia perfilman tanah air kembali dikejutkan dengan gebrakan terbaru dari sutradara Joko Anwar. Setelah mencuri perhatian internasional lewat world premiere di Berlin International Film Festival 2026, rumah produksi Come and See Pictures resmi meluncurkan cuplikan perdana (official trailer) untuk film ke-12 Joko yang bertajuk Ghost in the Cell.
Bukan sekadar sajian horor biasa yang mengandalkan kejutan instan, film ini membawa narasi yang jauh lebih dalam. Berlatar di balik jeruji besi sebuah penjara di Indonesia, Ghost in the Cell mengeksplorasi ruang terbatas yang mencekam, di mana para narapidana harus berhadapan dengan teror supranatural sekaligus kekacauan sistemik yang tak terkendali.
Joko Anwar menegaskan bahwa pemilihan latar penjara bukanlah tanpa alasan. Baginya, penjara merupakan sebuah mikrokosmos dari realitas sosial yang lebih luas. Melalui kacamata artistik, ia memotret bagaimana dinamika kekuasaan bekerja dalam ruang sempit tersebut. “Penjara adalah cerminan hidup secara sosial dan politik. Ada pejabat lapas sebagai pemerintah, dan ada napi sebagai rakyat. Ada dinamika kuasa, dan dinamika antar napi yang mencerminkan masyarakat kita,” ujar penulis dan sutradara Joko Anwar.
Ia juga menambahkan sisi lain dari film ini yang mungkin mengejutkan penonton, yakni unsur komedi satir. “Film ini didesain buat penonton tertawa lepas karena ngeliat kehidupan kita sendiri,” tambahnya.
Efisiensi menjadi kunci dalam proses kreatif film ini. Produser Tia Hasibuan memaparkan bahwa Ghost in the Cell diproduksi dengan pendekatan yang sangat disiplin. Proses syuting hanya memakan waktu 22 hari, itu pun hanya dilakukan setengah hari kerja setiap harinya. Secara teknis, film ini menggunakan pendekatan one shot take dengan hanya 43 adegan, jumlah yang sangat kontras dibandingkan film panjang pada umumnya yang bisa mencapai 120 adegan.

Abimana Aryasatya, yang memerankan karakter utama bernama Anggoro, menyebutkan bahwa film ini memberikan ruang kebebasan artistik yang luas bagi para aktor. Menurutnya, pesan yang dibawa melampaui sekat-sekat dinding penjara.
“Meski latarnya adalah penjara dan para karakternya adalah para napi, bagi saya ini seperti gambaran yang jelas tentang situasi kekacauan yang terjadi di Indonesia sekarang. Justru, dari para napi ini kita juga bisa belajar semangat kolektivisme untuk melakukan sebuah tindakan, saat kita tidak bisa bergantung dan mengandalkan institusi resmi,” ujar Abimana.
Diproduksi oleh Come and See Pictures yang berkolaborasi dengan RAPI Films serta Legacy Pictures, film ini turut diperkuat oleh deretan aktor lintas generasi seperti Bront Palarae, Lukman Sardi, Rio Dewanto, hingga memperkenalkan talenta baru, Magistus Miftah. Dengan Barunson E&A yang bertindak sebagai agen penjualan internasional, film ini siap membawa diskursus sosial Indonesia ke panggung global.
Sebagai gabungan antara kritik sosial yang tajam dan hiburan visual yang memanjakan mata, Ghost in the Cell dijadwalkan akan meneror sekaligus menggelitik kesadaran penonton di bioskop-bioskop seluruh Indonesia mulai 16 April 2026./ JOURNEY OF INDONESIA | iBonk

















