JAKARTA – Kelapa bukan sekadar bahan baku. Bagi ribuan petani di Minahasa Selatan, pohon ini adalah sumber nafkah kehidupan. Kini, PT Sasa Inti dan Institut Pertanian Bogor (IPB) duduk bersama untuk memastikan yang terjadi di kebun petani benar-benar bermuara pada kesejahteraan mereka, bukan sekadar pasokan industri.
Pertemuan mereka hari ini menandai langkah serius untuk mengubah cara kita memandang kelapa, dari komoditas menjadi pilar ekonomi lokal yang berkelanjutan. Focus Group Discussion (FGD) yang dilangsungkan di kawasan Taman Kencana, Bogor, pada 7 April ini bukan sekadar forum rutin. Dikemas dalam tajuk “Penguatan Kapasitas Sistem Rantai Pasok dan Model Kemitraan Penyediaan Bahan Baku Kelapa melalui Kerja Sama Pentahelix,” ada niat nyata untuk merancang ulang ekosistem kelapa nasional mulai hulu petani hingga hilir industri.
Sulawesi Utara, khususnya Kabupaten Minahasa Selatan, bukan daerah sembarangan dalam peta kelapa Indonesia. Dengan luas perkebunan mencapai 47.164 hektar dan produksi sekitar 42.209 ton per tahun, wilayah ini adalah salah satu tulang punggung industri kelapa nasional. Namun di balik angka-angka itu ada cerita yang kurang menyenangkan seperti persaingan bahan baku yang semakin ketat, pasokan yang tidak stabil, dan harga yang naik-turun membuat petani kesulitan merencanakan masa depan.
“Kelapa bukan hanya bahan baku industri, tetapi juga sumber penghidupan masyarakat. Karena itu, penguatan rantai pasok harus dirancang secara komprehensif agar mampu menjawab tantangan pasar sekaligus memberi nilai tambah yang adil bagi petani,” ujar Ir. H. Snowerdi Sumardi, M.M., selaku Chief Manufacturing Officer PT Sasa Inti. Suara dari pimpinan manufaktur Sasa ini mencerminkan perubahan cara pandang industri, bahwa stabilitas pasokan dan kesejahteraan petani adalah dua sisi mata uang yang sama.
Sasa, yang mengelola fasilitas pengolahan kelapa di Minahasa Selatan sejak 2024, tidak hanya sebagai pembeli bahan baku. Perusahaan ini aktif merancang program pemberdayaan petani yang mencakup edukasi agronomi berbasis praktik modern, pendampingan langsung, serta jaminan serapan hasil panen. Inisiatif tersebut bukan suara sendiri dalam industri, melainkan bagian dari Sasa Sustainability Framework yang diterapkan di seluruh rantai nilai perusahaan.
Rida Atmiyanti, S.Psi, MM, Head of Stakeholder Relation PT Sasa Inti, menjelaskan visi ini lebih lanjut, “Bagi Sasa, keberlanjutan rantai pasok tidak bisa dilepaskan dari kesejahteraan petani. Karena itu, kami mendorong kemitraan jangka panjang yang berfokus pada peningkatan produktivitas, kualitas panen, dan kepastian serapan hasil petani.”
Kehadiran fasilitas pengolahan Sasa di sentra produksi kelapa membuka peluang yang belum pernah ada sebelumnya. Dengan menghubungkan petani secara langsung ke industri hilir, Sasa membantu proses hilirisasi dengan mengubah kelapa mentah menjadi produk bernilai tambah tinggi, mulai dari santan siap pakai hingga produk turunan lainnya. Pendekatan ini diharapkan dapat membuka pasar yang lebih luas bagi petani dan meningkatkan daya saing komoditas kelapa di tingkat internasional.
Apa yang membuat FGD kali ini berbeda adalah keterlibatan pentahelix yakni akademisi, industri, pemerintah, petani, dan pemangku kepentingan lainnya. IPB tidak datang sebagai observer, tetapi sebagai mitra setara yang membawa riset dan kerangka ilmiah untuk mendukung kebijakan di lapangan. “Penguatan rantai pasok kelapa memerlukan pendekatan berbasis data, riset, dan kemitraan yang setara. Perguruan tinggi memiliki peran penting dalam menghadirkan kerangka ilmiah untuk mendukung kebijakan dan praktik di lapangan,” ujar Prof. Dr. Ir. Hariyadi, MS, Guru Besar Tetap Fakultas Pertanian dalam bidang ilmu Pertanian Berkelanjutan, Institut Pertanian Bogor.
Senada dengan hal tersebut, IPB memandang kolaborasi dengan industri sebagai langkah strategis untuk mempercepat hilirisasi berbasis riset. “Kolaborasi IPB dan Sasa merupakan contoh kemitraan akademisi industri yang dapat memperkuat daya saing komoditas kelapa sekaligus mendorong kesejahteraan petani secara berkelanjutan,” ungkap Prof. Dr. A. Faroby Falatehan, SP, ME, Guru Besar Tetap Fakultas Ekonomi dan Manajemen dalam bidang ilmu Kebijakan Ekonomi Pertanian dan Sumberdaya Berkelanjutan, Institut Pertanian Bogor.
Pertemuan hybrid ini, dengan partisipan dari Bogor, Manado, dan Minahasa Selatan, juga membahas akses pendanaan dari Badan Pengelola Dana Perkebunan (BPDP). Sejak kelapa resmi masuk dalam cakupan komoditas kelolaan BPDP pada 2024, peluang untuk memperkuat kapasitas petani menjadi nyata.
Diskusi hari ini menghasilkan banyak rekomendasi, tetapi esensinya sederhana: kelapa harus menjadi komoditas yang memberdayakan, bukan sekadar menguntungkan. Ketika petani sejahtera, pasokan stabil. Ketika pasokan stabil, industri dapat berkembang, dan ketika industri berkembang, ekonomi lokal tumbuh.
Bagi Indonesia yang mencari cara untuk memperkuat daya saing komoditas pangan, model kemitraan yang dibangun Sasa dan IPB bisa menjadi inspirasi. Tidak hanya untuk kelapa, tetapi untuk komoditas strategis lainnya yang menjadi tulang punggung mata pencaharian masyarakat pedesaan. Langkah ini membuktikan bahwa keberlanjutan industri pertanian bukan hanya slogan, melainkan komitmen nyata untuk mengubah nasib ribuan keluarga petani di Indonesia./ JOURNEY OF INDONESIA | iBonk
















