JAKARTA – Langkah kaki memasuki lobi hotel di kawasan Jalan Jaksa, Jakarta Pusat, kini terasa sedikit berbeda setiap hari Kamis. Riuh rendah modernisasi Jakarta yang padat seolah diredam oleh pemandangan hangat nan bersahaja. Para staf yang biasanya tampil dengan seragam korporat formal, kini menyapa tamu dengan balutan busana adat khas Betawi.
Manajemen Dafam Express Jaksa Jakarta sengaja meluncurkan inisiatif bertajuk program “Kamis Betawi”. Langkah ini diambil sebagai bagian dari kampanye merawat ingatan publik terhadap akar budaya lokal yang kian tergerus zaman. Melalui sentuhan kain batik, lilitan sarung, hingga keanggunan kebaya, hotel ini mencoba menjembatani histori masa lalu dengan dinamika modernitas industri perhotelan saat ini.
Pilihan untuk mengenakan busana tradisional ini bukan sekadar urusan estetika visual visual semata, melainkan ada nilai filosofis yang mendalam di dalamnya. Jika kita mengamati literatur sejarah budaya Jakarta, pakaian sehari-hari masyarakat Betawi memang kaya akan akulturasi.
Ragam busana yang dipakai oleh para staf pria misalnya, menggunakan Baju Sadariah yang dipadukan dengan sarung dan peci. Pakaian ini merefleksikan kesopanan sekaligus ketaatan religius masyarakatnya. Sementara itu, para staf wanita tampak anggun mengenakan Kebaya Encim, sebuah mahakarya busana yang lahir dari perpaduan berbagai elemen budaya eksternal, sekaligus menjadi simbol keberagaman yang harmonis.
Pada momen-momen tertentu, nuansa formal juga dihadirkan lewat pengenalan Baju Ujung Serong dan Baju Demang. Pakaian yang identik dengan jas tutup berwarna gelap, celana panjang senada, serta kain cukin yang dililitkan di pinggang ini dahulu menjadi representasi kelas bangsawan atau tokoh adat. Kini, struktur busana tersebut diadopsi sebagai lambang kewibawaan dalam menyambut para pelancong yang singgah.
Inisiatif ini diharapkan mampu memantik rasa penasaran, terutama bagi para pelancong muda dan wisatawan mancanegara yang mendominasi ceruk pasar digital saat ini. Pendekatan budaya yang interaktif diyakini jauh lebih efektif ketimbang sekadar narasi edukasi yang kaku. “Melalui program Kamis Betawi, kami ingin mengajak generasi muda untuk semakin mencintai budaya lokal” ujar Gumelar, 3
Langkah pelestarian budaya ini juga berjalan beriringan dengan kesiapan fasilitas yang ditawarkan. Hotel yang terletak di kawasan strategis legendaris ini menyedakan total 103 kamar yang terbagi dalam beberapa tipe, mulai dari 55 kamar Express Twin Room, 43 kamar Express Double Room, 3 kamar Deluxe Room, hingga 2 kamar Family Room yang cocok untuk akomodasi keluarga.
Bagi para pekerja kreatif atau pebisnis yang dinamis, akomodasi ini juga menyediakan fasilitas penunjang produktivitas seperti satu ruangan Express Meeting Room dan satu Network Room yang fleksibel untuk agenda formal maupun kasual.
Suasana kerja yang santai namun tetap fokus bisa ditemukan di area co-working space yang menyatu dengan Bites & Breaks, lengkap dengan fasilitas koneksi WiFi berkecepatan tinggi. Seluruh akses informasi dan pemesanan layanan kini dapat diakses dengan mudah oleh publik melalui sistem LaLa atau Layanan Langsung via aplikasi pesan WhatsApp di nomor 081213102229./ JOURNEY OF INDONESIA | iBonk

















