JAKARTA – Gemuruh diskusi soal bencana di Hall D, Jakarta International Expo (JIExpo) Kemayoran, akhirnya mereda pada Jumat, 14 Agustus 2026. Setelah tiga hari berturut-turut menjadi ajang pertukaran ide dan teknologi, Emergency Disaster Reduction & Rescue (EDRR) Indonesia 2026 resmi ditutup dengan catatan yang jauh dari kata biasa saja: 7.578 pengunjung bisnis terdaftar dan 140 pertemuan dagang yang terjalin selama pameran berlangsung.
Angka itu bukan sekadar statistik penutup acara. Bagi penyelenggara, capaian tersebut menjadi bukti bahwa isu kebencanaan kini menarik perhatian lintas kalangan, mulai dari praktisi industri, akademisi, sektor pertahanan, hingga lembaga kemanusiaan nasional dan internasional. Pameran yang dibuka Menteri Koordinator Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan Pratikno pada 12 Agustus itu turut dihadiri jajaran pejabat penting, mulai dari Wakil Menteri Kesehatan Dante Saksono Harbuwono, Kepala BASARNAS Mohammad Syafii, Kepala BMKG Teuku Faisal Fathani, hingga Kepala BNPB Suharyanto.
Project Director Seven Event, Sri Vista Limbong, menyebut daya tarik EDRR Indonesia 2026 terletak pada perpaduan antara pameran produk dan ruang diskusi lintas sektor. “EDRR Indonesia 2026 tidak hanya menjadi wadah untuk memamerkan inovasi dan teknologi terkini, tetapi juga hadir sebagai ruang kolaborasi lintas sektor yang inklusif. Melalui rangkaian konferensi, seminar, dan workshop selama tiga hari, kami ingin menghubungkan para pelaku industri, pemerintah, akademisi, hingga mitra internasional untuk saling bertukar pengetahuan, menyelaraskan standar keselamatan, dan membangun kerja sama nyata demi memperkuat ketahanan bencana di Indonesia,” ujar Vista.

Sepanjang tiga hari itu, panggung EDRR tidak pernah sepi agenda. Total ada 10 program strategis yang digelar berurutan, mulai dari S&D Global Safety and Development Conference, Seminar Kesiapsiagaan Keselamatan Kerja (iSafety), Forum Aksi Merespons Peringatan Dini, G60 Medical Industry Cooperation, Forum Pemadam Kebakaran Cerdas dan Keselamatan Industri, Forum Sinergi Darurat Maritim dan Kepulauan, Forum World Humanitarian Day, penandatanganan kerja sama bilateral, sampai pelatihan simulasi manajemen bencana lewat CPR Workshop. Rangkaian ini yang membuat ajang bisnis tersebut terasa lebih hidup dibanding sekadar pameran statis.
Lantai pameran sendiri dipadati lebih dari 80 perusahaan dari dalam dan luar negeri. Robot penyelamat berbasis kecerdasan buatan berdampingan dengan sistem pemetaan bencana 3D, kendaraan medis darurat, hingga sistem komunikasi satelit untuk kondisi darurat. Nama-nama seperti PT Ambulance Pintar Indonesia, Deep Robotics, Unitree, Genisom AI, Hytera Communications, PT Dahua Vision Technology Indonesia, dan Gotion Hi-Tech ikut memeriahkan lini pameran, membuktikan bahwa teknologi kebencanaan kini bergerak jauh melampaui sekadar alat pemadam dan tandu darurat.
Skala dukungan terhadap EDRR Indonesia 2026 juga terbilang lengkap. Kemenko PMK, Kementerian Perindustrian, Kementerian Kesehatan, Polri, tiga matra TNI, BNPB, BASARNAS, BMKG, BRIN, hingga BPBD DKI Jakarta berdiri di barisan pendukung. Dari sisi akademisi dan kemanusiaan, nama Universitas Pertahanan RI, Universitas Budi Luhur, LSPR Institute, MER-C Indonesia, dan UN-OCHA turut memberi warna diskusi, sementara Suzuki dan Kopi Kenangan menjadi sponsor yang menopang jalannya acara.
Pameran ini diselenggarakan PT Amara Tujuh Perjuangan bersama Council for the Promotion of Shanghai International Trade, Shanghai International Exhibition (Group) Co., Ltd., dan Comexposium. Dengan capaian pertemuan bisnis yang melampaui ekspektasi awal, EDRR Indonesia 2026 pun diproyeksikan bakal mempercepat alih teknologi kebencanaan antara Indonesia dan mitra internasional, sekaligus mendorong lahirnya investasi baru di sektor yang selama ini kerap luput dari sorotan publik./ JOURNEY OF INDONESIA | iBonk

















