JAKARTA – Asia Tenggara saat ini tengah berada di sebuah persimpangan krusial. Di satu sisi, kawasan ini merupakan salah satu pusat pertumbuhan ekonomi global dengan laju urbanisasi tercepat yang diproyeksikan akan menampung ratusan juta penduduk kota pada tahun 2030. Namun di sisi lain, wilayah ini berdiri di baris terdepan yang paling rentan terhadap hantaman krisis iklim, mulai dari kenaikan permukaan laut hingga anomali cuaca ekstrem yang semakin sering terjadi.
Di tengah ambisi pembangunan infrastruktur yang agresif tersebut, sebuah refleksi mendalam muncul: mampukah kita membangun tanpa meninggalkan luka pada alam? Pertanyaan ini membawa kembali relevansi filosofi “Touch this earth lightly” atau sentuhlah bumi ini dengan lembut, sebuah prinsip yang digagas oleh Glenn Murcutt, arsitek legendaris asal Australia peraih Pritzker Architecture Prize. Filosofi ini menekankan bahwa arsitektur seharusnya tidak mendominasi lansekap, melainkan beradaptasi, menghormati kearifan lokal, serta meminimalkan jejak karbon pada lingkungan.
Esensi dari pemikiran Murcutt ini menjadi pemantik diskusi utama dalam simposium arsitektur ASEAN yang berlangsung di Jakarta pada akhir November lalu. Dalam forum bertajuk “Shaping Resilient Futures: Heritage and Modernity in Steel Architectural Design,” sekitar 190 pakar dari Indonesia, Malaysia, Thailand, Vietnam, dan Australia berkumpul untuk merumuskan kembali arah pembangunan kawasan. Nick Sissons dari Glenn Murcutt Architecture Foundation Australia membedah bagaimana pendekatan yang tampak sederhana ini justru menjadi kunci dalam menjawab tantangan kompleksitas pembangunan di Asia Tenggara yang sangat beragam secara budaya.

Kondisi geografis dan iklim ASEAN yang menantang menuntut industri konstruksi untuk meninggalkan pola lama build–demolish–rebuild. Dibutuhkan material yang tidak hanya menonjolkan aspek estetika, tetapi juga memiliki ketangguhan dan fleksibilitas jangka panjang. Dalam konteks inilah, teknologi material seperti baja modern mulai dipandang melalui lensa yang berbeda. Baja bukan lagi sekadar simbol industri yang dingin dan kaku, melainkan medium untuk mencapai harmonisasi antara kebutuhan manusia dan kelestarian alam.
Jenny Margiano, Country President PT NS BlueScope Indonesia, menyoroti bahwa karakteristik baja modern sangat selaras dengan prinsip ekonomi sirkular yang tengah digalakkan di kawasan ini. “Material ini bisa didaur ulang, fleksibel untuk berbagai desain, dan tangguh menghadapi kondisi iklim ekstrem. Kualitas tersebut sangat dibutuhkan ASEAN saat ini,” ujarnya. Dengan kemampuan untuk didaur ulang hingga seratus persen tanpa penurunan kualitas, baja menawarkan solusi bagi struktur yang lebih responsif terhadap iklim tropis, seperti sistem ventilasi alami hingga rancang bangun yang tahan terhadap guncangan gempa.
Senada dengan hal tersebut, Steve Woodland dari COX Architecture Australia dalam paparan kuncinya menjelaskan bagaimana aplikasi baja berlapis mampu menjawab kerumitan tantangan arsitektur masa depan. Material ini memungkinkan para perancang untuk menciptakan bangunan yang lebih ringan namun tetap memiliki durabilitas tinggi, sebuah manifestasi fisik dari semangat “menyentuh bumi dengan lembut”.
Pembangunan masa depan ASEAN tidak bisa dilakukan dalam isolasi. Diperlukan sebuah jembatan pengetahuan yang menghubungkan inovasi modern dengan akar budaya masing-masing negara. Ar. Budi Pradono, arsitek senior dari Ikatan Arsitek Indonesia (IAI), yang hadir dalam simposium tersebut, menekankan bahwa kekuatan sesungguhnya terletak pada kolaborasi antarnegara. “Kemitraan ini menegaskan vitalitas aliansi regional kita dan akan memotivasi komunitas arsitek ASEAN menuju pencapaian yang lebih berani dan berdampak,” ujarnya.

Langkah konkret dari penguatan kolaborasi ini ditandai dengan peluncuran Steel Architectural Awards ASEAN 2026. Program kompetisi ini dirancang untuk menjaring karya-karya inovatif dari berbagai kategori, mulai dari hunian pribadi hingga proyek infrastruktur publik di Indonesia, Malaysia, Thailand, dan Vietnam. Penghargaan ini diharapkan menjadi ajang pembuktian bahwa desain yang bertanggung jawab mampu memberikan dampak nyata bagi komunitas.
Jenny Margiano kembali mengungkapkan optimismenya terhadap program penghargaan berskala regional ini sebagai wadah pertukaran ilmu. “Penghargaan ini mengakui pencapaian bagi para arsitek yang telah merekomendasikan produk kami di balik beragam struktur inovatif di wilayah ASEAN, sekaligus memperdalam kolaborasi kami dengan komunitas desain Australia untuk memperkuat pertukaran pengetahuan dan pertumbuhan profesional di seluruh wilayah,” jelasnya.
Pada akhirnya, penilaian dalam kompetisi ini tidak akan terjebak pada kulit luar semata. Dewan juri yang terdiri dari para ahli terkemuka, termasuk Ar. Firman Setia Herwanto (Wakil Ketua IAI) dan Ar. Asae Sukhyanga (Presiden ASA), akan menitikberatkan pada sejauh mana sebuah karya mampu merespons konteks lokal dan mengintegrasikan prinsip keberlanjutan. Ini adalah upaya kolektif untuk memastikan bahwa setiap struktur yang berdiri di masa depan adalah sebuah perwujudan dari resilient futures yang tangguh dan penuh tanggung jawab terhadap bumi yang kita pijak./ JOURNEY OF INDONESIA | Nuhaa


















