<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>Pulau Peucang Archives | Journey of Indonesia | Explore Pariwisata Indonesia</title>
	<atom:link href="https://journeyofindonesia.com/tag/pulau-peucang/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>https://journeyofindonesia.com/tag/pulau-peucang/</link>
	<description>Journey of Indonesia fokus pada perkembangan pariwisata Indonesia, meng-explore budaya, hiburan, life style, kesehatan, hiburan di tanah air</description>
	<lastBuildDate>Tue, 31 May 2022 00:58:10 +0000</lastBuildDate>
	<language>en-US</language>
	<sy:updatePeriod>
	hourly	</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>
	1	</sy:updateFrequency>
	<generator>https://wordpress.org/?v=6.9.4</generator>

<image>
	<url>https://journeyofindonesia.com/wp-content/uploads/2021/06/cropped-favicon-1-32x32.png</url>
	<title>Pulau Peucang Archives | Journey of Indonesia | Explore Pariwisata Indonesia</title>
	<link>https://journeyofindonesia.com/tag/pulau-peucang/</link>
	<width>32</width>
	<height>32</height>
</image> 
<site xmlns="com-wordpress:feed-additions:1">198252186</site>	<item>
		<title>Pulau Peucang, Primadona Wisata di Ujung Barat Pulau Jawa</title>
		<link>https://journeyofindonesia.com/travel/tourism/pulau-peucang-primadona-wisata-di-ujung-barat-pulau-jawa/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[Morteza]]></dc:creator>
		<pubDate>Wed, 12 Sep 2018 00:46:00 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Tourism]]></category>
		<category><![CDATA[Destinasi]]></category>
		<category><![CDATA[Handeuleum]]></category>
		<category><![CDATA[Pesona Indonesia]]></category>
		<category><![CDATA[Pulau Peucang]]></category>
		<category><![CDATA[Taman Nasional Ujung Kulon]]></category>
		<category><![CDATA[TNUK]]></category>
		<category><![CDATA[Wisata]]></category>
		<category><![CDATA[Wonderful Indonesia]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://wp.journeyofindonesia.com/?p=1398</guid>

					<description><![CDATA[<p>Berlibur ke Pulau Peucang yang masuk dalam kawasan Taman Nasional Ujung Kulon (TNUK), dapat mengobati rasa jenuh anda yang bosan dengan suasana metropolitan. Di sana pengunjung akan dimanjakan dengan keanekaragaman hayati yang sangat kaya, dan tentunya tidak akan rugi meskipun harus rela menempuh perjalanan panjang ke destinasi yang berada di ujung barat pulau Jawa ini. [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://journeyofindonesia.com/travel/tourism/pulau-peucang-primadona-wisata-di-ujung-barat-pulau-jawa/">Pulau Peucang, Primadona Wisata di Ujung Barat Pulau Jawa</a> appeared first on <a href="https://journeyofindonesia.com">Journey of Indonesia | Explore Pariwisata Indonesia</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[
<p>Berlibur ke <strong>Pulau Peucang</strong> yang masuk dalam kawasan Taman Nasional Ujung Kulon (TNUK), dapat mengobati rasa jenuh anda yang bosan dengan suasana metropolitan. Di sana pengunjung akan dimanjakan dengan keanekaragaman hayati yang sangat kaya, dan tentunya tidak akan rugi meskipun harus rela menempuh perjalanan panjang ke destinasi yang berada di ujung barat pulau Jawa ini.</p>



<p>Untuk menikmati kecantikan lansekap Pulau Peucang, dari Jakarta, idealnya harus melintasi rute darat menuju Kabupaten Pandeglang, Banten. Baru setelah itu akan bertemu pertigaan di Labuan yang menjadi akses utama untuk selanjutnya menuju ke Desa Sumur. Sumur merupakan sebuah kawasan pantai yang terletak di Barat Jawa dan menjadi titik keberangkatan kapal motor menuju Pulau Panaitan, Pulau Badul, Pulau Oar, Pulau Umang, Pulau Handeleum dan Pulau Peucang yang menjadi habitat utama bagi fauna seperti Rusa, Merak Hijau, Kijang, Monyet, Babi Hutan, Biawak, ataupun Elang Jawa.</p>



<p>Semuanya bermula dari pukul 6 pagi. Sebuah perahu kecil yang dikemudikan oleh nelayan lokal sudah bersiap untuk mengantarkan para wisatawan dari bibir pantai di desa Sumur ke Kapal Motor (KM) yang menanti di spot tertentu. Laut dangkal, menyebabkan hal tersebut harus dilakukan dan setelah penumpang lengkap, perjalanan menuju Pulau Peucang pun dimulai.</p>



<p>Sepanjang perjalanan menuju kawasan yang telah ditetapkan sebagai Situs Warisan Dunia oleh UNESCO ini, sejauh mata memandang akan dibuai dengan birunya lautan yang berbatasan dengan Samudera Hindia. Terhampar juga perbukitan hutan hujan tropis yang membentang luas hingga ke Tanjung Alang-Alang, yang menjadi penanda bahwa tidak lama lagi KM segera tiba di area konservasi Pulau Peucang.</p>


<div class="wp-block-image">
<figure class="aligncenter size-full"><img fetchpriority="high" decoding="async" width="600" height="400" src="https://wp.journeyofindonesia.com/wp-content/uploads/2022/05/Dermaga-di-Pulau-Peucang-Morteza.jpg" alt="" class="wp-image-1399" srcset="https://journeyofindonesia.com/wp-content/uploads/2022/05/Dermaga-di-Pulau-Peucang-Morteza.jpg 600w, https://journeyofindonesia.com/wp-content/uploads/2022/05/Dermaga-di-Pulau-Peucang-Morteza-300x200.jpg 300w" sizes="(max-width: 600px) 100vw, 600px" /><figcaption><em>Dermaga di Pulau Peucang (Morteza)</em></figcaption></figure>
</div>


<p>Setelah mengarungi lautan selama ±2,5 jam, dari kejauhan akan terlihat dermaga tunggal dengan beberapa KM yang tengah bersandar di dekat pantai berpasir putih. Gradasi air laut yang tadinya di dominasi biru tua pekat, berubah seketika menjadi sangat jernih. Dari atas KM, para turis dapat dengan jelas menyaksikan ikan warna-warni yang berenang bebas di bibir pantai. Sementara dari kejauhan, terdapat Gunung Sanghyang Sirah yang menjulang pongah di tengah hutan belantara TNUK.</p>



<p>Dengan luas ± 450 ha, di Pulau Peucang terdapat fasilitas umum seperti penginapan, tempat ibadah (mushola), kantor pusat informasi konservasi alam, serta warung makan. Hutan Pulau Peucang merupakan salah satu ekosistem hutan hujan tropis dataran rendah. “Flora di Kawasan ini di antaranya adalah Merbau <em>(Intsia Bijuga)</em>, Palahlar <em>(Dipterocarpus Haseltii)</em>, Bungur <em>(Lagerstroemia Speciosa)</em>, Cerlang<em> (Pterospermum Diversifolium)</em>, dan Ki Hujan<em> (Engelhardia Serrata)</em>,” jelas <strong>Mumu Muawalah</strong>, <em>Kepala Konservasi Alam Pulau Peucang.</em></p>



<p>Ia juga menambahkan, bahwa dalam jalur trekking menuju Karang Copong, dapat ditemukan juga pohon Ficus atau Ara Pancekik. “Tumbuhan ini merupakan tumbuhan golongan parasit yang melilit pohon lain untuk hidup,” paparnya.</p>



<p>Perlu di ingat, saat melewati hari di Pulau Peucang, bersiaplah untuk benar-benar masuk ke dalam zona intim interaksi antar manusia dengan hewan liar yang bebas berseliweran di pulau tersebut. Lantaran terbiasa dengan kehadiran manusia, fauna seperti Rusa, Kijang dan Babi Hutan tak segan mendekat ke area penginapan, untuk mencari makan dan selalu setia menunggu di halaman hingga pagi datang. Dapat dipastikan juga, di pulau ini pengunjung tidak dapat mengakses data selular, karena memang belum ada satupun sinyal operator selular yang dapat menembus wilayah Peucang.</p>


<div class="wp-block-image">
<figure class="aligncenter size-full"><img decoding="async" width="600" height="400" src="https://wp.journeyofindonesia.com/wp-content/uploads/2022/05/Serombongan-banteng-jawa-tengah-merumput-di-pulau-Cidaon-Morteza.jpg" alt="" class="wp-image-1400" srcset="https://journeyofindonesia.com/wp-content/uploads/2022/05/Serombongan-banteng-jawa-tengah-merumput-di-pulau-Cidaon-Morteza.jpg 600w, https://journeyofindonesia.com/wp-content/uploads/2022/05/Serombongan-banteng-jawa-tengah-merumput-di-pulau-Cidaon-Morteza-300x200.jpg 300w" sizes="(max-width: 600px) 100vw, 600px" /><figcaption><em>Serombongan Banteng Jawa tengah merumput di pulau Cidaon (Morteza)</em></figcaption></figure>
</div>


<p>Jika bermalam di Pulau Peucang, alangkah baiknya untuk bangun sepagi mungkin. Mentari pagi atau sunrise akan menyumbul perlahan dari balik rimba hutan. Saat itu, posisi terbaik untuk menikmati keindahannya adalah duduk santai di atas dermaga, atau bisa juga sambil santai merebahkan tubuh di bibir pantai berpasir putih yang menjulang panjang di samping dermaga. Nikmati saja setiap inci sapuan hangat matahari yang naik ke permukaan, dan segera sinarnya memenuhi bumi. Membuka jendela kehidupan pagi, serta melenyapkan mistisnya kabut di kedalaman rimba raya Ujung Kulon.</p>



<p>Sudah jauh-jauh datang, tak lengkap rasanya bila tidak melihat keindahan sisi bawah laut di area TNUK. Dari dermaga Pulau Peucang, petugas KM siap mengantarkan wisatawan ke beberapa spot snorkeling yang <em>worth it</em> untuk disambangi. Perjalanan menuju spot menyelam relatif cukup singkat. </p>



<p>Hanya membutuhkan waktu 10 menit perjalanan laut dari pulau tersebut, para wisatawan sudah bisa menyaksikan panorama cantik terumbu karang yang tumbuh subur di kawasan konservasi alam TNUK, yang dihuni beragam jenis ikan warna-warni yang selalu setia mencari makanan di sana setiap harinya.</p>



<p>Selain itu, petugas KM tentunya sudah mengetahui letak-letak untuk foto <em>underwater</em> bersama ikan badut <em>(clown fish)</em> atau ikan nemo, yang selalu setia hidup dalam radius kurang dari 1 meter dari anemon, karena keduanya membentuk simbiosis mutualisme. Ikan nemo selalu membutuhkan makanan dan melindungi telurnya di dalam anemon, dan begitu juga anemon, yang tumbuh subur dari fases (kotoran) ikan nemo.</p>



<p>Lokasi wisata lain yang cukup dekat lainnya dari Pulau Peucang, adalah padang penggembalaan Cidaon. Cidaon merupakan padang sabana luas yang paling sering dikunjungi untuk merumput dan mencari makan berbagai satwa yang hidup disini seperti Banteng Jawa, Burung Rangkong, Merak Hijau, Kera Ekor Panjang dan beberapa satwa lainnya pada pagi maupun sore hari.</p>


<div class="wp-block-image">
<figure class="aligncenter size-full"><img decoding="async" width="600" height="400" src="https://wp.journeyofindonesia.com/wp-content/uploads/2022/05/Menikamati-sunset-di-Pulau-Peucang-Morteza.jpg" alt="" class="wp-image-1401" srcset="https://journeyofindonesia.com/wp-content/uploads/2022/05/Menikamati-sunset-di-Pulau-Peucang-Morteza.jpg 600w, https://journeyofindonesia.com/wp-content/uploads/2022/05/Menikamati-sunset-di-Pulau-Peucang-Morteza-300x200.jpg 300w" sizes="(max-width: 600px) 100vw, 600px" /><figcaption><em>Menikamati sunset di Pulau Peucang (Morteza)</em></figcaption></figure>
</div>


<p>Tidak hanya itu, Cidaon juga menawarkan indahnya momen mentari terbenam atau sunset. Dari dermaga Cidaon, kita dapat menyaksikan refleksi air laut yang berubah warna setiap menitnya, dari gradasi hijau kebiruan, menjadi merah jingga, dan nun jauh di ufuk timur sinar mentari terbenam kian berkilau, membius romantisme sang penikmat senja.</p>



<p>Cukup disayangkan apabila anda melewatkan momen emas ini. Karena tak lama setelah menebar pesona senja secara singkat, ia kan meredup terbenam ke dasar lautan. Sebuah penanda hari akan berganti malam, dan seperti itulah paras cantik siklus alam di area Pulau Peucang dalam kesehariannya.</p>



<p>Bagi setiap wisatawan yang hendak berkunjung ke Pulau Peucang, diharapkan kesadarannya untuk selalu menyayangi bumi ini, dengan tidak membuang sampah sembarangan dimanapun Anda berada. Dimana alam yang sehat tanpa terancam oleh banyaknya sampah menumpuk, maka flora dan fauna yang hidup didalamnya akan sehat juga. </p>



<p>Sudah seharusnya kita bertanggungjawab untuk mewariskan keindahan negeri ini kepada generasi bangsa dimasa mendatang./ <strong><em>JOURNEY OF INDONESIA</em></strong></p>
<p>The post <a href="https://journeyofindonesia.com/travel/tourism/pulau-peucang-primadona-wisata-di-ujung-barat-pulau-jawa/">Pulau Peucang, Primadona Wisata di Ujung Barat Pulau Jawa</a> appeared first on <a href="https://journeyofindonesia.com">Journey of Indonesia | Explore Pariwisata Indonesia</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
		
		
		<post-id xmlns="com-wordpress:feed-additions:1">1398</post-id>	</item>
		<item>
		<title>Ujung Kulon, Taman Nasional Warisan Masa Lalu</title>
		<link>https://journeyofindonesia.com/travel/ujung-kulon-taman-nasional-warisan-masa-lalu/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[Ibonk]]></dc:creator>
		<pubDate>Thu, 21 Dec 2017 02:00:00 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Tourism]]></category>
		<category><![CDATA[Travel]]></category>
		<category><![CDATA[Cidaun]]></category>
		<category><![CDATA[Cigenter]]></category>
		<category><![CDATA[Destinasi]]></category>
		<category><![CDATA[Pesona Indonesia]]></category>
		<category><![CDATA[Pulau Peucang]]></category>
		<category><![CDATA[Susur Sungai]]></category>
		<category><![CDATA[Taman Nasional Ujung Kulon]]></category>
		<category><![CDATA[Tanjung Layar]]></category>
		<category><![CDATA[TNUK]]></category>
		<category><![CDATA[Trekking]]></category>
		<category><![CDATA[Ujung Kulon]]></category>
		<category><![CDATA[Wisata]]></category>
		<category><![CDATA[Wonderful Indonesia]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://wp.journeyofindonesia.com/?p=1291</guid>

					<description><![CDATA[<p>Nama Taman Nasional Ujung Kulon (TNUK), sudah cukup seringlah kita dengar. Namun berapa banyak dari anda para pembaca yang pernah menginjakkan kaki dan berpetualang disana? Begitu panjang catatan sejarah sampai akhirnya Ujung Kulon ditetapkan sebagai Taman Nasional. Ujung Kulon mulai diperkenalkan pertama kali oleh seorang ahli botani Jerman bernama F. Junghun pada tahun 1846. Sebagai [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://journeyofindonesia.com/travel/ujung-kulon-taman-nasional-warisan-masa-lalu/">Ujung Kulon, Taman Nasional Warisan Masa Lalu</a> appeared first on <a href="https://journeyofindonesia.com">Journey of Indonesia | Explore Pariwisata Indonesia</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[
<p>Nama <strong>Taman Nasional Ujung Kulon (TNUK)</strong>, sudah cukup seringlah kita dengar. Namun berapa banyak dari anda para pembaca yang pernah menginjakkan kaki dan berpetualang disana? Begitu panjang catatan sejarah sampai akhirnya Ujung Kulon ditetapkan sebagai Taman Nasional.</p>



<p>Ujung Kulon mulai diperkenalkan pertama kali oleh seorang ahli botani Jerman bernama <strong>F. Junghun</strong> pada tahun 1846. Sebagai seorang peneliti, Junghun dan peneliti lain pada era tersebut sangat mengenal kekayaan flora dan fauna Ujung Kulon. Sampai akhirnya semua berubah tatkala letusan Krakatau pada tahun 1883 meluluhlantakkan semua. Letusan yang menimbulkan gelombang tsunami maha dahsyat langsung menghancurkan kawasan ini.</p>



<p>Tak berlangsung lama, ekosistem vegetasi dan satwa liar tumbuh kembali di kawasan ini dengan cepat. Akhirnya pada tahun 1921 kawasan Ujung Kulon termasuk pulau Panaitan ditetapkan sebagai Suaka Alam oleh pemerintah Hindia Belanda. Tahun 1937, istilah Suaka Alam dirubah menjadi kawasan Suaka Margasatwa, ditandai dengan masuknya Pulau Peucang ke dalam area ini.</p>



<p>Pulau Peucang sendiri adalah pulau berhutan hujan tropis yang menurut para ahli sejarah terbentuk akibat ledakan karang laut yang terangkat oleh dahsyatnya gelombang tsunami saat gunung Krakatau meletus.</p>


<div class="wp-block-image">
<figure class="aligncenter size-full"><img decoding="async" width="600" height="300" src="https://wp.journeyofindonesia.com/wp-content/uploads/2022/05/Perahu-perahu-wisatawan-di-pulau-Peucang-Ibonk.jpg" alt="" class="wp-image-1293" srcset="https://journeyofindonesia.com/wp-content/uploads/2022/05/Perahu-perahu-wisatawan-di-pulau-Peucang-Ibonk.jpg 600w, https://journeyofindonesia.com/wp-content/uploads/2022/05/Perahu-perahu-wisatawan-di-pulau-Peucang-Ibonk-300x150.jpg 300w, https://journeyofindonesia.com/wp-content/uploads/2022/05/Perahu-perahu-wisatawan-di-pulau-Peucang-Ibonk-360x180.jpg 360w" sizes="(max-width: 600px) 100vw, 600px" /><figcaption><em>Perahu &#8211; perahu wisatawan di pulau Peucang (Ibonk)</em></figcaption></figure>
</div>


<p>Suaka Margasatwa Ujung Kulon beberapa kali mengalamai perubahan nama sampai pada akhirnya tahun 1992 ditetapkan sebagai Taman Nasional Ujung Kulon dan UNESCO menetapkan Taman Nasional ini sebagai <em>Natural World Heritage Site (Situs Warisan Alam Dunia)</em>. TNUK meliputi kawasan Cagar Alam Gunung Honje, Cagar Alam Pulau Panaitan, Cagar Alam Pulau Peucang termasuk didalamnya Pulau Handeuleum.</p>



<p>TNUK memiliki luas sekitar 120,551 ha ini, merupakan tempat utama perlindungan Badak dan Banteng. Taman Nasional ini juga memiliki bagian laut yang sangat signifikan berhubungan antara kegiatan penangkapan ikan dengan perlindungan badak.</p>



<p>Akhir &#8211; akhir ini terdapat penurunan pendapatan yang diakibatkan penangkapan ikan besar &#8211; besaran serta rusaknya habitat pesisir karena banyaknya terumbu karang yang dieksploitasi dengan menggunakan bom air. Masyarakat pesisir kemudian mulai melanggar batas kawasan hutan lindung dengan mengubah vegitasi asli menjadi lahan pertanian. Hal ini tentu saja berpengaruh pada habitat badak yang menjadi terdesak. Sangat disayangkan memang, berdasarkan data dari pengawasan populasi tercatat Badak kurang dari 50 ekor.</p>



<p>Untuk kegiatan para wisatawan, pengelola TNUK melakukan pembatasan jumlah pengunjung di setiap pekannya. Tujuannya, untuk menjaga keaslian habitat dan menghindari kepunahan satwa penghuni Taman Nasional. Oleh sebab itu pengunjung diharuskan mengantongi izin terlebih dahulu dari pengelola sebelum memasuki kawasan Taman Nasional ini.</p>



<p>Izin masuk bisa diperoleh dari Kantor Pusat Taman Nasional di Labuan, kemudian melaporkan kedatangan di Kantor Pengawas di Pulau Handeuleum dan selanjutnya di data ulang lagi di Kantor Pengawas di Pulau Peucang.</p>


<div class="wp-block-image">
<figure class="aligncenter size-full"><img decoding="async" width="740" height="370" src="https://wp.journeyofindonesia.com/wp-content/uploads/2022/05/Menelusuri-sungai-Cigenter-Ibonk.jpg" alt="" class="wp-image-1294" srcset="https://journeyofindonesia.com/wp-content/uploads/2022/05/Menelusuri-sungai-Cigenter-Ibonk.jpg 740w, https://journeyofindonesia.com/wp-content/uploads/2022/05/Menelusuri-sungai-Cigenter-Ibonk-300x150.jpg 300w, https://journeyofindonesia.com/wp-content/uploads/2022/05/Menelusuri-sungai-Cigenter-Ibonk-360x180.jpg 360w" sizes="(max-width: 740px) 100vw, 740px" /><figcaption><em>Susur sungai Cigenter (Ibonk)</em></figcaption></figure>
</div>


<p>Apa yang ditawarkan TNUK tentunya sangat menarik. Kita bisa saja berharap bertemu dengan species langka Badak bercula satu yang sangat langka tersebut. Disamping itu kita dapat juga <em>trekking </em>menyusuri hutan hujan tropis, menikmati pantai berbatu karang, <em>bird watching</em>, <em>diving, snorkeling</em>, mengamati satwa liar seperti Babi Hutan, Rusa, atau sekawanan Monyet yang terlihat sudah sangat akrab dengan para wisatawan yang datang.</p>



<p>Tak kalah menarik adalah wisata <em>canoeing</em> dengan menyusuri sungai Cigenter yang hanya memakan waktu sekitar 20 menit dari Pulau Handeuleum. Persis layaknya menyusuri sungai purba di Amazon, di sini kita berkesempatan menyaksikan hewan liar yang kebetulan berada di tepian sungai berhutan rimbun ini. Melihat Biawak, Ular, Burung – Burung dan jejak – jejak Badak merupakan pengalaman yang tidak mungkin terlupakan.</p>



<p>Tempat eksotis lainnya adalah padang pengembalaan Banteng di Pulau Cidaun yang tepat berada di seberang Pulau Peucang. Hanya membutuhkan waktu sekitar 10 menit berperahu. Jika memang mujur, kita dapat melihat secara langsung puluhan Banteng liar tengah merumput di padang savanah. Selain Banteng , sekawanan Merak yang memamerkan bulu – bulu indahnya dan burung Enggang dapat kita saksikan secara langsung.</p>



<p>Jangan lewatkan juga untuk mengunjungi Cibom atau Tanjung Layar, menempuh jarak sekitar hampir 2 jam perjalanan laut dari pulau Peucang. Tanjung Layar sendiri memiliki sejarah yang cukup penting dalam sejarah maritim Indonesia dan kolonial Belanda. Di sini dibangun mercu suar, yang dijadikan “Ujung Pertama” Pulau Jawa dikarenakan lokasinya yang strategis dan sebagai petunjuk arah bagi kapal – kapal yang melintasi Selat Sunda.</p>


<div class="wp-block-image">
<figure class="aligncenter size-full"><img decoding="async" width="740" height="370" src="https://wp.journeyofindonesia.com/wp-content/uploads/2022/05/Salah-satu-pantai-di-Tanjung-Layar-Ujung-Kulon-Ibonk.jpg" alt="" class="wp-image-1295" srcset="https://journeyofindonesia.com/wp-content/uploads/2022/05/Salah-satu-pantai-di-Tanjung-Layar-Ujung-Kulon-Ibonk.jpg 740w, https://journeyofindonesia.com/wp-content/uploads/2022/05/Salah-satu-pantai-di-Tanjung-Layar-Ujung-Kulon-Ibonk-300x150.jpg 300w, https://journeyofindonesia.com/wp-content/uploads/2022/05/Salah-satu-pantai-di-Tanjung-Layar-Ujung-Kulon-Ibonk-360x180.jpg 360w" sizes="(max-width: 740px) 100vw, 740px" /><figcaption><em>Salah satu pantai di Tanjung Layar, Ujung Kulon (Ibonk)</em></figcaption></figure>
</div>


<p>Begitu menginjakkan kaki di pantai Tanjung Layar, pengunjung akan disuguhi dengan rimbunnya hutan. Untuk sampai di titik terujung pulau Jawa kita harus trekking selama 40an menit melalui jalan setapak membelah rimbunnya hutan. Pemandangan eksotis dapat kita temukan disana lewat hamparan pantai karang dan bukit-bukit karang menjulang bakal melunturkan kelelahan kita.</p>



<p>Perjalanan ke TNUK dapat dicapai dari Jakarta sekitar 5 jam perjalanan ke Kecamatan Sumur, lalu dilanjutkan lewat perjalanan laut dengan menyewa perahu bermesin sekitar 2 juta rupiah PP dengan jarak tempuh sekitar 3 jam. Yang perlu disiapkan sebelum berwisata alam TNUK diantaranya perbekalan yang cukup, air mineral, makanan ringan, tissue, lotion anti nyamuk, sun block, topi, kacamata, sepatu/ sandal trekking, perlengkapan snorkeling, kamera dan obat obatan pribadi.</p>



<p>Untuk kenyamanan bermalam di TNUK, pengelola menyediakan pondokan yang disewakan dengan fasilitas yang terbilang cukup memadai. Pondokan tersebut tersedia di Pulau Peucang dan Handeuleum. Secara administratif TNUK terletak di Kecamatan Sumur dan Kecamatan Cimanggu Kabupaten Pandeglang, Provinsi Banten.</p>



<p>Setelah melihat sekian banyak warisan alam untuk kita ini, tugas kita yang lain akhirnya adalah mencintai dan turut serta menjaga kelestarian alam untuk diwariskan kepada anak cucu kita. Agar mereka masih dapat melihat keaslian habitat flora dan fauna di TNUK, sepenggal surga di ujung pulau Jawa./<strong><em> JOURNEY OF INDONESIA</em></strong></p>
<p>The post <a href="https://journeyofindonesia.com/travel/ujung-kulon-taman-nasional-warisan-masa-lalu/">Ujung Kulon, Taman Nasional Warisan Masa Lalu</a> appeared first on <a href="https://journeyofindonesia.com">Journey of Indonesia | Explore Pariwisata Indonesia</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
		
		
		<post-id xmlns="com-wordpress:feed-additions:1">1291</post-id>	</item>
	</channel>
</rss>
