JAKARTA – Selama ini, bayangan tentang hotel premium dengan layanan serba terstandarisasi identik dengan hiruk pikuk Jakarta atau Bali. Namun, peta perjalanan wisatawan di Tanah Air kini sedang bersalin rupa. Ada sebuah tarikan baru yang kuat dari kota-kota seperti Aceh, Makassar, hingga Palangkaraya. Di sana, para pelancong tak lagi sekadar mencari tempat untuk memejamkan mata, melainkan menuntut kenyamanan setara kota metropolitan.
Fenomena pergeseran ekspektasi ini dibaca dengan jeli oleh PRISM. Perusahaan induk OYO tersebut memutuskan untuk tidak lagi sekadar menjadi penonton di pinggiran. Lewat bendera Townhouse Oak, mereka membawa konsep company serviced sebuah model pengelolaan hotel di mana kendali operasional dipegang penuh dari hulu ke hilir yang langsung ke jantung kota-kota yang tengah naik daun tersebut.
Kehadiran Townhouse Oak di Aceh, Makassar, dan Palangkaraya bukan sekadar soal menambah jumlah bangunan di dalam aplikasi pemesanan. Ini adalah soal konsistensi. Dalam dunia hospitality, tantangan terbesar di kota berkembang sering kali terletak pada standar layanan yang belang-bentong.
Dengan model operasional mandiri, PRISM mencoba memutus rantai ketidakpastian tersebut, memastikan bahwa kasur yang empuk di Makassar akan sama kualitasnya dengan yang ada di ujung barat Sumatra.

Langkah ini menandai babak baru bagi wajah pariwisata lokal. Kota-kota yang selama ini mungkin dianggap sebagai titik transit bisnis kini bertransformasi menjadi destinasi yang layak mendapatkan layanan premium. Pertumbuhan ekonomi lokal yang dinamis menjadi motor penggeraknya, menciptakan ceruk pasar yang sadar akan kualitas dan kenyamanan.
Hendro Tan, Country Head PRISM Indonesia menyebutkan, “Kami melihat adanya perubahan preferensi di mana wisatawan kini mengharapkan standar layanan yang lebih tinggi, tidak hanya di kota besar tetapi juga di kota berkembang. Melalui model self-operated, kami dapat memastikan konsistensi kualitas layanan sekaligus menghadirkan pengalaman menginap yang lebih terintegrasi dan relevan dengan kebutuhan pelanggan saat ini.”
Strategi “turun gunung” ke wilayah berkembang ini dipercaya akan memberikan dampak berganda. Selain memberikan pilihan baru bagi wisatawan, ekspansi ini juga menyuntikkan energi bagi ekonomi setempat melalui pembukaan lapangan kerja baru.
Bagi PRISM, ini adalah langkah awal dari ambisi yang lebih besar untuk memperluas portofolio self-operated mereka di titik-titik strategis lainnya di seluruh penjuru Indonesia. Seiring dengan perjalanan waktu, wajah industri perhotelan Indonesia tampaknya akan semakin inklusif. Standar tinggi tidak lagi menjadi monopoli kota besar, dan kenyamanan premium kini bisa ditemukan hanya sepelemparan batu dari pusat kegiatan ekonomi di daerah./ JOURNEY OF INDONESIA | iBonk

















