YOGYAKARTA — Di balik dinding Jalan Mataram Nomor 9 yang sibuk, sebuah transformasi diam-diam sedang berlangsung. Hotel Nueve Malioboro yang selama ini dikenal sebagai penginapan nyaman di jantung Yogyakarta kini tengah berbenah jauh lebih dalam dari sekadar cat baru atau furnitur pengganti. Ini adalah metamorfosis total: dari hotel berbintang tiga dengan nuansa tradisional, menuju properti bintang empat modern yang sengaja dirancang untuk generasi perjalanan hari ini.
Angka sembilan bukan kebetulan dalam cerita hotel ini. Nama “Nueve” sendiri berasal dari kata Spanyol untuk angka tersebut, dan alamatnya pun kebetulan — atau mungkin sudah takdir bertepatan di nomor 9. Kini, angka itu kembali menjadi titik tolak sebuah lompatan besar.
PT Natta Hospitality Management, perusahaan yang mengelola properti ini, tidak main-main dengan proyeknya. Managing Director Thomas Matantu menceritakan perjalanan panjang hotel yang terus tumbuh. “Awalnya hotel ini memiliki 40 kamar, kemudian berkembang menjadi 63 kamar. Ke depan, akan kita tingkatkan menjadi 81 kamar sekaligus naik kelas menjadi hotel bintang empat,” ujarnya.
Sebuah lompatan yang tidak kecil, tentu. Untuk mencapainya, manajemen menyiapkan anggaran renovasi antara Rp20 miliar hingga Rp25 miliar. Sekitar 65 kamar akan direnovasi total, sementara dua tower baru akan dibangun di atas lahan tambahan sekitar 1.000 meter persegi yang kini sudah disiapkan — melengkapi lahan utama hotel seluas kurang lebih 3.000 meter persegi.
Tower baru itu bukan sekadar tambahan kapasitas. Di dalamnya akan hadir fasilitas meeting room dan area parkir yang selama ini menjadi salah satu keterbatasan hotel-hotel di kawasan padat Malioboro. Kamar-kamarnya pun dirancang lebih lega, dengan luas mulai dari 21 hingga 23 meter persegi, tersedia dalam pilihan tipe deluxe, family room, dan Junior Suite.

Keputusan paling berani dalam renovasi ini mungkin bukan soal jumlah kamar atau besaran investasi, melainkan perubahan identitas desain yang cukup fundamental. Jika sebelumnya Hotel Nueve Malioboro mengusung kehangatan tradisional Jawa dengan elemen joglo yang khas, kini arahnya berbeda lewat gaya semi-Japanese yang minimalis, dengan dominasi elemen kaca yang membiarkan cahaya bermain bebas di setiap sudut ruangan.
Thomas menjelaskan alasan di balik pilihan itu dengan lugas. “Pasar terbesar saat ini adalah anak muda, jadi konsepnya kita sesuaikan. Kita tidak hanya menyediakan tempat menginap, tetapi juga pengalaman,” jelasnya.
Di sinilah letak perbedaan Hotel Nueve Malioboro dari banyak hotel Yogyakarta lain yang masih setia mempertahankan nuansa etnik sebagai nilai jual. Manajemen membaca pergeseran bahwa wisatawan muda masa kini tidak melulu mencari kesan tradisional ketika menginap. Mereka menginginkan ruang yang estetis, instagramable, dan berjiwa kontemporer, meski tetap berada di kota dengan kekayaan budaya setinggi Yogyakarta.
Salah satu daya tarik paling dinantikan dari renovasi ini adalah rooftop yang direncanakan selesai pada April mendatang. Area ini dirancang sebagai ruang sosial yang menghadap panorama kota Yogyakarta, melengkapi area restoran, dapur baru, dan ruang acara yang juga tengah dikerjakan di tahap yang sama.
Pembangunan dimulai sejak Februari lalu, dengan fase awal pembongkaran yang kini sudah berjalan. Target penyelesaian utama ditetapkan pada November tahun ini, sebelum pembangunan tower baru dilanjutkan di awal tahun berikutnya.
Yang menarik, hotel tidak menutup diri selama proses renovasi berlangsung. Operasional tetap berjalan, termasuk strategi promosi yang dijaga aktif penawaran khusus tetap disiapkan, bahkan pada momentum Ramadan dan libur Lebaran. Keputusan ini menunjukkan pendekatan bisnis yang matang: renovasi dilakukan tanpa mengorbankan pendapatan, dan tanpa merumahkan karyawan.

Perubahan fisik hotel turut diiringi pembaruan identitas visual. Logo baru Hotel Nueve Malioboro hadir dengan pendekatan yang lebih modern, namun tetap setia pada elemen inti yang selama ini menjadi penanda properti ini.w Director of Operation Bobi Setia Budi menjelaskan filosofi di balik desain tersebut. “Angka 9 itu melambangkan angka tertinggi, sehingga kita tonjolkan dalam logo. Huruf ‘e’ juga disesuaikan menjadi bentuk 9 sebagai bagian dari konsep visual,” jelasnya.
Angka sembilan memang bukan sekadar nomor jalan atau asal nama. Dalam konteks brand ini, ia menjadi simbol posisi tertinggi yang ingin diraih — sebuah ambisi yang kini sedang dibuktikan lewat renovasi besar-besaran. Palet warna logo pun dipilih dengan pertimbangan: merah untuk keberanian, emas untuk kesan elegan yang tidak lekang waktu.
Ketika selesai nanti, Hotel Nueve Malioboro tidak akan lagi sekadar tempat singgah di dekat Malioboro. Ia ingin menjadi bagian dari pengalaman Yogyakarta itu sendiri, tempat di mana arsitektur minimalis bertemu budaya kota yang kaya, dan di mana generasi muda menemukan alasan untuk kembali./ JOURNEY OF INDONESIA | iBonk

















