JAKARTA – Lampu sorot Balai Kartini, Jakarta, pada Minggu sore (26/4/2026) tidak hanya memantulkan kemilau panggung, tetapi juga menyuarakan pesan mendalam tentang napas laut Indonesia. Di balik gemerlap kostum dan gerakan anggun di atas panggung Grand Final Mermaid & Merman Indonesia 2026, tersimpan misi besar untuk membawa kekayaan bahari nusantara ke level yang lebih tinggi.
Perhelatan yang merupakan kolaborasi apik antara Yayasan EL JOHN Indonesia, EL JOHN Pageant, dan Marine Action Expo (MAX) ini menegaskan bahwa menjadi seorang mermaid atau merman bukan sekadar tentang estetika, melainkan tentang advokasi lingkungan.
Suasana tegangterasa saat 19 finalis berdiri menanti hasil akhir. Mereka bukan hanya dinilai dari seberapa mahir mereka berpose, tetapi diuji melalui pemikiran kritis oleh lima dewan juri yang berasal dari lintas sektor, mulai dari birokrat hingga pengamat lingkungan.

Pada sesi tanya jawab yang krusial, isu-isu sensitif seperti konservasi laut, strategi pengembangan pariwisata bahari, hingga tren olahraga mermaiding menjadi menu utama. Setiap jawaban menjadi cerminan sejauh mana para pemuda ini memahami rumah besar bernama Indonesia yang dua pertiganya adalah air.
Keheningan pecah saat nama Rahayu Suwarno diumumkan sebagai penyandang gelar Mermaid Indonesia 2026. Di sisi lain, podium kehormatan Merman Indonesia 2026 jatuh kepada Arief Zohiril Fikri. Keduanya dianggap mampu meramu pesona visual dengan kecerdasan ekologis yang mumpuni.
Tak hanya kategori dewasa, regenerasi pun terlihat jelas dengan terpilihnya Marelle Lily M Kartodirdjo sebagai Mermaid Indonesia Teen 2026 dan Vittoria Gea yang menyabet gelar Mermaid Indonesia Kid 2026.

Ketua Umum Yayasan EL JOHN Indonesia, M. Johnnie Sugiarto, tampak bangga melihat barisan anak muda ini. Baginya, panggung ini hanyalah titik awal dari sebuah tanggung jawab yang lebih besar. Ia menekankan bahwa dedikasi para finalis adalah modal utama untuk menjaga identitas bangsa. “Bagi saya, semua finalis Mermaid & Merman Indonesia 2026 adalah pemenang. Mereka telah melalui proses panjang dan menunjukkan dedikasi yang luar biasa,” ujar Johnnie dengan nada penuh apresiasi.
Visi Johnnie melampaui batas ruang acara malam itu. Ia menitipkan pesan agar mahkota yang diraih menjadi penggerak untuk perubahan nyata di lapangan. Menurutnya, kepedulian terhadap ekosistem air, mulai dari hulu sungai hingga ke palung laut, harus menjadi denyut nadi generasi muda.
“Kami berharap seluruh finalis dapat berperan aktif dalam menjaga sungai, melestarikan laut, serta mempertahankan budaya Indonesia,” katanya. Melalui peran aktif inilah, ia optimistis pariwisata bahari Indonesia akan semakin berkilau di mata dunia, menarik lebih banyak mata internasional untuk menyelami keajaiban bawah laut kita. “Dengan begitu, Indonesia bisa lebih dikenal di panggung dunia. Semakin banyak wisatawan mancanegara yang datang untuk menikmati keindahan bawah laut Indonesia,” tutupnya.

Senada dengan itu, founder Marine Action Expo (MAX), Nunung Hasan, melihat ajang ini sebagai wadah seleksi yang ketat dan prestisius. Sebagai seorang penyelam senior, Nunung memahami betul bahwa dunia bawah air menuntut ketangguhan dan integritas. Ia memandang para finalis bukan sekadar kontestan pageant biasa, melainkan representasi terpilih yang telah lolos dari ujian kompetensi yang kompetitif.
Bagi Nunung, setiap langkah yang diambil para peserta hingga mencapai Grand Final adalah sebuah kemenangan atas diri sendiri. Ia mengakui bahwa tantangan yang dihadapi para peserta tidaklah ringan, mengingat mereka harus memadukan keterampilan fisik dalam air dengan wawasan lingkungan yang luas.


















