JAKARTA – Dunia yang lelah, alam yang telanjur porak-poranda oleh ego generasi terdahulu, dan sebuah peradaban yang runtuh perlahan. Di tengah lanskap distopia yang pekat itu, seluruh orang dewasa mendadak sirna. Bumi yang sekarat kini sepenuhnya bertumpu pada pundak anak-anak. Tanpa kompas moral masa lalu, generasi belia ini dipaksa merajut kembali sisa-sisa harapan demi masa depan yang lebih hijau.
Premis penuh refleksi inilah yang melandasi lahirnya “Musikal Senja Teduh Pelita”. Sebuah proyek kolaborasi ambisius antara kolektif seni Jakarta Movin, grup musik legendaris MALIQ & D’Essentials, serta didukung penuh oleh Bakti Budaya Djarum Foundation melalui Indonesia Kaya.
Panggung seni pertunjukan tanah air bersiap menyambut sajian fiksi ilmiah (science fiction) futuristik ini pada 3 hingga 12 Juli 2026 di Graha Bhakti Budaya, Taman Ismail Marzuki, Jakarta.
Langkah Jakarta Movin kali ini dipandang sebagai sebuah pencapaian baru dalam industri teater musikal domestik. Adaptasi lirik-lirik puitis ke dalam narasi visual berlatar krisis iklim global dinilai sebagai pendekatan yang segar sekaligus berani.

Billy Gamaliel, Program Manager Indonesia Kaya dalam penuturannya mengatakan bahwa Jakarta Movin telah menunjukkan konsistensi yang luar biasa dalam menghadirkan karya seni pertunjukan, khususnya musikal, dengan kualitas yang terus berkembang dari waktu ke waktu. Lewat Musikal Senja Teduh Pelita, dirinya melihat bagaimana sebuah cerita yang unik dan relevan dengan tantangan masa depan dapat dikemas menjadi pertunjukan yang tidak hanya menghibur, tetapi juga menginspirasi dan mengajak penonton berefleksi.
“Mengadaptasi lagu-lagu MALIQ & D’Essentials yang kaya akan pesan tentang kehidupan, harapan, dan kemanusiaan, pertunjukan ini menghadirkan pengalaman yang dekat dengan berbagai a generasi penonton. Kami bangga dapat mendukung karya yang lahir dari kolektif seni pertunjukan yang secara konsisten membuka ruang bagi generasi muda untuk terlibat, belajar, dan berkarya. Upaya seperti ini sangat penting untuk mendorong semakin banyak talenta muda berpartisipasi dalam dunia seni pertunjukan, sehingga ekosistem seni pertunjukan Indonesia dapat terus tumbuh, berkelanjutan, dan melahirkan karya-karya berkualitas di masa depan,” ujar Billy.
Alur cerita membawa penonton pada petualangan Pasukan Pelita, sebuah kelompok beranggotakan sembilan anak dengan keahlian spesifik mulai dari pakar sejarah, mekanik listrik, pembaca bintang, hingga peraba harmoni suara. Kelompok ini dipimpin oleh karakter sentral bernama Arah. Menariknya, sutradara menerapkan pendekatan teatrikal yang tidak biasa untuk tokoh utama ini.
Karakter Arah dan sang sahabat, Kala, akan dimainkan oleh pemeran dengan gender berbeda dalam jadwal pementasan yang terpisah. Arah diperankan oleh Alf Elijah Sigarlaki dan Daria Lakshmi Algamar, sementara Kala dimainkan oleh Xandrea Abigail Tabythaputri dan Clioichi Junio Eigo.

Produser dan Sutradara Musikal Senja Teduh Pelita, Nuya Susantono menyebutkan karakter Arah adalah sosok yang tetap percaya pada kebaikan dan cinta, bahkan ketika dunia di sekelilingnya seolah sudah berhenti peduli. Arah dan temannya Kala ini akan diperankan oleh dua orang dengan gender yang berbeda, yaitu versi laki-laki dan versi perempuan.
“Secara esensi, mereka menjalani perjalanan yang sama, tetapi masing-masing membawa getaran dan emosi yang berbeda. Kami memberi ruang bagi para pemain untuk menghadirkan warna mereka sendiri, sehingga penonton akan mendapatkan dua pengalaman yang unik dan penonton bisa merasakan dua sisi Arah dan Kala yang sama-sama kuat. Harapannya, siapa pun yang menonton bisa menemukan dirinya dalam karakter ini, baik laki-laki maupun perempuan, anak-anak maupun orang dewasa,” ujar Nuya.
Bagi MALIQ & D’Essentials, proyek ini menandai fase baru dalam perjalanan 24 tahun mereka di industri musik. Katalog lagu tidak lagi sekadar menjadi materi audio di platform digital atau repertoar konser, melainkan bertransformasi menjadi aset kreatif (intellectual property) yang hidup di medium seni yang berbeda.
Sebanyak 20 lagu dikurasi untuk merajut emosi pertunjukan. Tajuk-tajuk ikonis seperti ‘Himalaya’, ‘Aurora’, ‘Jalan Pulang’, tembang lawas ‘Senja Teduh Pelita’, hingga materi segar dari album Begini Begitu diaransemen ulang guna memperkuat konflik dramatik di atas panggung.

Vokalis MALIQ & D’Essentials, Angga Puradiredja, mengakui bahwa melihat karya mereka mewujud dalam bentuk penokohan teater memberikan impresi mendalam. “Selama lebih dari dua dekade berkarya, kami melihat lagu-lagu MALIQ & D’Essentials tumbuh bersama banyak generasi pendengar. Namun kami tidak pernah membayangkan lagu-lagu tersebut suatu hari dapat berkembang menjadi sebuah pertunjukan musikal dengan cerita yang begitu kuat dan relevan,” ucap Angga.
Angga juga menyebutkan bahwa gelaran musikal ini akan menghadirkan perspektif baru terhadap karya-karya mereka. Dimana lagu-lagu yang selama ini hidup melalui rekaman dan panggung konser diterjemahkan ke dalam sebuah narasi yang utuh di atas panggung musikal merupakan pengalaman yang membahagiakan sekaligus membanggakan.
“Bagi MALIQ & D’Essentials, kolaborasi ini bukan sekadar adaptasi lagu ke medium yang berbeda, tetapi juga sebuah kesempatan untuk melihat musik kami hidup, bergerak, dan menemukan makna baru di hadapan penonton,” ujar Angga Puradiredja.
Komitmen menjaga bumi dalam pertunjukan ini juga diwujudkan secara konkret. Pihak penyelenggara menggandeng lembaga pengelola sampah untuk memastikan seluruh sisa operasional produksi selama masa pementasan dikelola secara bertanggung jawab. Respon publik terhadap konsep fiksi ilmiah musikal ini terhitung masif. Tiket prapesan fase pertama dan kedua yang difasilitasi oleh BCA ludes dalam hitungan hari.
Lonjakan permintaan tersebut mendorong penyelenggara memperpanjang durasi pementasan yang semula hanya tiga hari menjadi sepuluh hari penuh. Hak distribusi tiket resmi kini dilayani secara eksklusif melalui platform Tiket.com, sementara pembaruan informasi berkala disiarkan lewat kanal digital resmi Jakarta Movin./ JOURNEY OF INDONESIA | iBonk

















