JAKARTA — Kawasan Taman Kemang, Jakarta Selatan, berdenyut dengan ritme yang berbeda pada akhir pekan pertengahan Juni lalu. Antrean penonton yang mengular di pintu masuk Deheng House memperlihatkan satu pemandangan kontras namun harmonis, sekelompok anak muda bergaya skena berdiri berdampingan dengan penonton paruh baya. Mereka berkumpul untuk satu magnet yang sama, yakni Jakarta Fusion Jazz Festival 2026 (JFJF 2026).
Diadakan selama dua malam berturut-turut pada 19 dan 20 Juni 2026, festival pembuka bertajuk “Volume 1” ini seolah bekerja layaknya kapsul waktu. Deheng Musik Cipta selaku pihak penyelenggara mengambil langkah spesifik dengan menyempitkan fokus pada etalase musik fusion jazz lewat pilihan genre yang relatif lebih tajam ketimbang sekadar menggunakan payung kata “jazz”.
Menariknya, pembatasan repertoar pada era kejayaan 1980-an tersebut justru memicu anomali demografi di dalam ruang pertunjukan. Kelompok milenial hingga zilenial tampak fasih menikmati tiap improvisasi nada yang disuguhkan di atas panggung.

Fenomena lintas generasi ini mendapat catatan khusus dari owner Deheng House sekaligus Deheng Musik Cipta, Lexi M. Budiman. “Bagus, jadi ada regenerasi pada penontonnya. Mungkin jadi bukti, anak-anak sekarang juga mengkonsumsi musik-musik yang mungkin didengar dan disukai orang tuanya terlebih dahulu. Kan memang musik itu sendiri semacam berevolusi,”tambah Lexi Budiman.
Evolusi selera yang dimaksud Lexi memang berkorelasi kuat dengan gelombang bangkitnya musik Citypop di kalangan anak muda global dalam beberapa tahun terakhir. Turunan langsung dari warna adult contemporary dekade 80-an tersebut secara tidak langsung telah melatih telinga generasi sekarang untuk menerima komposisi rumit, agresif, namun tetap groovy khas fusion jazz.
Di balik padatnya penonton yang memadati ruang pertunjukan, terdapat kurasi ketat yang sengaja dipasang oleh penyelenggara. Hendra Sinadia dari Deheng Musik Cipta membenarkan bahwa spesifikasi konsep adalah harga mati untuk menjaga identitas festival yang diproyeksikan bakal berjalan rutin dua hingga tiga kali dalam setahun ini.
“Maka untuk edisi Volume 1 ini terkesan terbatas yang 80-an. Nah nanti pada edisi berikut, bisa jadi melebar pengisi acaranya. Tapi kami berusaha memang mencoba strict pada konsep, memilih hati-hati para performers yang akan ditampilkan. Pokoknya tetap pada dasarnya, fusion jazz ya. Mungkin di dalamnya bisa apa yang disebut jazzy tunes, adult contemporary. Termasuk jazz rock, acid jazz juga. Jazz pop apalagi, ya mungkin saja”.

Konsistensi terhadap pakem dasar itu langsung dibuktikan pada malam pertama. Grup Emerald BEX membuka gerbang memori lewat nomor bertenaga seperti Jakarta dan Journey to Sabang Street, sebelum menyatukan energi mereka dengan vokal Dudy Oris. Puncaknya meledak saat Krakatau mengambil alih panggung utama. Formasi Dwiki Dharmawan, Indra Lesmana, Gilang Ramadhan, dan Trie Utami yang disuntik darah muda Andre Dinuth serta Barry Likumahuwa, menghajar audiens lewat sepuluh komposisi, termasuk nomor bertempo ekstrem Kemelut hingga La Samba Primadona.
Romantisme malam pertama semakin pekat berkat manuver Audiensi Band yang mengiringi kolaborasi tribut sejarah. Panggung diisi bergantian oleh memori Spirit Band yang dibawakan Kemala Ayu, Eramono Soekaryo, dan Didiek SSS, dilanjutkan representasi Bhaskara lewat bas AS Mates dan vokal Vonny Sumlang. Kelompok Mus Mujiono, Yance Manusama, dan Ekka Bhakti melengkapi malam tersebut lewat pelantunan ulang karya abadi peninggalan Christ Kayhatu dan Glenn Fredly.

Memasuki malam kedua, eskalasi jazz beralih pada Karimata sebagai penampil utama. Candra Darsuman dan Aminoto Kosin membuka set lewat Dahaga serta Kharisma, sebelum memberi ruang bagi Jemimah Cita menafsirkan ulang Kisah Kehidupan. Malam pamungkas ini juga menjadi surga bagi pemuja jazz-funk lewat aksi grup T.42 yang membawakan repertoar Level 42 secara presisi, serta Audiensi Band yang kembali ditantang mengeksekusi nomor-nomor rumit milik raksasa fusion Jepang, Casiopea.
Keseruan JFJF 2026 pada akhirnya tidak hanya bertumpu pada siapa yang berdiri di atas panggung, melainkan bagaimana arsitektur Deheng House bekerja. Gedung empat lantai tersebut disulap menjadi ekosistem festival vertikal. Penonton dapat bebas bermanuver; dari kemegahan panggung utama berkapasitas 300 orang di lantai empat, turun menuju panggung intim Dejazzlounge lantai
tiga yang diisi oleh Canizaro hingga duo Agam Hamzah dan Ade Irawan, atau sekadar menyesap kopi di lantai dua.
Model panggung terdistribusi ini memberi keleluasaan bagi penonton untuk mencari frekuensinya sendiri. Keberhasilan mendatangkan audiens yang rela mengantre tiket di tempat yang terbilang baru ini membuktikan satu hal: musik fusion di Jakarta tidak pernah benar-benar mati, ia hanya sedang menunggu wadah yang tepat untuk mempertemukan para pionir penciptanya dengan generasi pewarisnya./ JOURNEY OF INDONESIA | iBonk


















