JAKARTA – Musim kemarau tahun ini datang lebih sengit dari biasanya. Titik panas bermunculan di berbagai wilayah sejak awal 2026, dan Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mencatat jumlahnya sudah menembus angka 1.600 sejak Januari, dipicu penguatan fenomena El Nino yang membuat udara jauh lebih kering dari kondisi normal.
Di tengah situasi itu, Jakarta bersiap menjadi tuan rumah salah satu pameran teknologi penanggulangan bencana terbesar di Asia Tenggara, Emergency Disaster Reduction & Rescue (EDRR) Indonesia 2026, yang akan berlangsung pada 12 hingga 14 Agustus di Hall D, Jakarta International Expo (JIEXPO) Kemayoran.
Berbeda dari edisi-edisi sebelumnya yang menonjolkan cakupan bencana secara umum, mulai dari banjir, drainase kota, hingga penyelamatan darurat, penyelenggaraan tahun ini sengaja mempertajam sorotan pada satu ancaman yang paling akrab dengan keseharian masyarakat Indonesia yakni kebakaran. Baik itu kebakaran permukiman padat penduduk, insiden di kawasan industri, maupun karhutla yang tiap tahun mengepung sejumlah provinsi saat kemarau tiba.
Project Director EDRR Indonesia 2026, Vista Limbong, menyebut kondisi cuaca ekstrem tahun ini sebagai alasan kuat mengapa teknologi pemadam kebakaran perlu dihadirkan secara konkret di lapangan, bukan sekadar wacana.

“Kebakaran merupakan salah satu bencana yang paling sering terjadi dan berdampak langsung pada keselamatan jiwa, aset, serta kelangsungan layanan publik. Dalam konteks Indonesia yang rentan terhadap kebakaran permukiman, industri, hingga hutan dan lahan, dibutuhkan solusi yang cepat, efisien, dan mudah diterapkan di lapangan. EDRR Indonesia 2026 menjadi wadah strategis untuk menghadirkan teknologi mutakhir, serta mempertemukan para pelaku industri dan pemangku kepentingan dalam membangun sistem penanggulangan kebakaran yang lebih tangguh,” ujar Vista.
Pameran yang digelar oleh Seven Event bersama Council for the Promotion of Shanghai International Trade, Shanghai International Exhibition (Group) Co., Ltd., dan Comexposium ini juga mendapat dukungan penuh dari Kementerian Koordinator Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan (Kemenko PMK) sebagai Co-Host.
Posisi Kemenko PMK bukan sekadar simbolis, mengingat penanggulangan bencana kebakaran menyentuh langsung urusan keselamatan warga dan keberlangsungan layanan publik yang selama ini menjadi ranah koordinasi kementerian tersebut.
Lima perusahaan teknologi dari luar negeri dipastikan membawa lini produk yang selama ini sudah teruji di berbagai negara. Timecore Intelligent Equipment Co., Ltd, misalnya, akan memamerkan rangkaian alat pemadam portabel bertenaga tinggi, mulai dari Sextuplex Diaphragm Pump, Portable Fire Pump, Backpack Fire Pump, hingga High-pressure Water Mist Fire Extinguisher yang dirancang untuk menjangkau area pemukiman padat maupun lokasi terpencil yang sulit diakses kendaraan pemadam konvensional.
Sementara itu, keselamatan personel pemadam menjadi fokus utama Nanjing Zhengze Technology Co., Ltd. Perusahaan ini membawa PASS Device atau Personal Alert Safety System, headphone berteknologi konduksi tulang untuk komunikasi di tengah kepungan asap, electronic pressure gauge, sampai Self-Contained Breathing Apparatus (SCBA) yang menopang pasokan udara bersih bagi petugas saat bekerja di lingkungan minim oksigen.

Teknologi serupa juga dibawa Shanghai Chentong International Trading Co., Ltd, yang menghadirkan perangkat SCBA tingkat lanjut untuk melindungi penyelamat dari paparan udara beracun.
Di sisi lain, Safety Plus Industrial Co., Limited fokus pada kebutuhan gedung komersial dan kawasan industri lewat berbagai varian alat pemadam api ringan (APAR) berstandar internasional. Sedangkan Ningbo HOS Fire Fighting Equipment Co., Ltd melengkapi ekosistem proteksi bangunan dengan fire hose reel, fire cabinet, dan sistem pemadam terintegrasi yang biasa dipasang di gedung perkantoran maupun fasilitas publik.
Kelima nama itu menjadi representasi bagaimana industri global kini mendorong pendekatan yang lebih taktis: alat yang ringkas, mudah dibawa, dan bisa langsung dioperasikan di lapangan tanpa infrastruktur rumit. Pendekatan semacam ini relevan dengan karakter geografis Indonesia, di mana banyak titik rawan kebakaran justru berada di kawasan yang sulit dijangkau unit pemadam berukuran besar, entah itu permukiman padat di perkotaan atau lahan gambut di pelosok Sumatera dan Kalimantan.
EDRR Indonesia 2026 sendiri merupakan penyelenggaraan ketiga sejak pertama kali digelar, dan tahun ini turut diramaikan rangkaian seminar serta workshop yang mempertemukan praktisi, akademisi, dan pengambil kebijakan untuk berbagi strategi penguatan manajemen risiko bencana. Bagi pelaku industri keselamatan maupun instansi pemerintah daerah yang tengah menyusun rencana kontinjensi menjelang puncak kemarau, pameran ini bisa menjadi rujukan langsung untuk melihat opsi teknologi yang sudah siap pakai, bukan sekadar purwarupa.
Dengan proyeksi musim kering yang masih panjang dan risiko titik panas yang belum menunjukkan tanda melandai, kehadiran EDRR Indonesia 2026 datang pada momentum yang tepat. Ajang ini diharapkan tak hanya menjadi etalase teknologi, tetapi juga mendorong lebih banyak kolaborasi konkret antara produsen alat keselamatan global dan kebutuhan riil di lapangan, demi memperkuat sistem tanggap darurat kebakaran yang lebih cepat dan andal di seluruh Indonesia./ JOURNEY OF INDONESIA | Morteza

















