JAKARTA – Puluhan tahun berkarya, pematung Indonesia Adi Gunawan mengaku selalu menghadapi persoalan yang sama setiap kali menggelar pameran tunggal. Karyanya berakhir berjajar di atas pedestal dengan komposisi yang itu-itu saja. Kali ini, ia memutuskan untuk mencoba cara berbeda dengan mengubah total cara publik menikmati karyanya, yakni membiarkan patung-patungnya “tinggal” di dalam sebuah rumah, lengkap dengan sofa, tanaman, dan pencahayaan hangat layaknya hunian yang benar-benar ditempati.
Gagasan itu yang menjadi jantung dari Alaya Kala, pameran utama dalam rangkaian CURATED LIVING yang digelar ASHTA District 8 pada 3–26 Juli 2026. Mengusung tema Where Design Meets Lifestyle, program ini mempertemukan karya seni, desain interior, dan gaya hidup dalam satu ruang yang dirancang bukan sebagai galeri, melainkan sebagai rumah kolektor seni yang hidup.
Alaya Kala berlangsung di Melting Pot, Ground Floor ASHTA District 8, menghadirkan 15 karya patung Adi Gunawan yang dipadukan dengan desain interior garapan SANKHARA bersama POLA Studio EST. 2016, Theory of Living, dan Quatro Design Studio. Nama Alaya Kala sendiri diambil dari bahasa Sanskerta, di mana Alaya berarti tempat bernaung dan Kala berarti waktu, merepresentasikan ruang yang menyimpan perjalanan, jejak, dan ingatan.

Konsep ruang tersebut merupakan interpretasi kontemporer dari rumah Joglo, arsitektur tradisional Jawa yang menjadi akar budaya perjalanan berkarya Adi Gunawan di Yogyakarta. Bukan replika literal, melainkan reka ulang yang lebih relevan dengan kehidupan urban masa kini.
Menurut Adi, seluruh konsep ruang datang dari tim desain interior, sementara ia berperan menyesuaikan karya. “Konsep ruangannya dirancang oleh tim interior. Mereka menghadirkan interpretasi rumah Joglo dalam pendekatan desain modern. Mereka juga memilih karya-karya saya yang paling sesuai, bahkan ada beberapa yang saya buat ulang agar menyatu dengan konsep tersebut,” katanya.
Seluruh karya yang dipamerkan merupakan hasil produksi tiga tahun terakhir. Sebagian berasal dari galeri pribadi Adi Gunawan di Kemang, Jakarta, sementara sebagian lainnya sengaja diproduksi ulang di Yogyakarta lantaran tiap karya dibuat dalam edisi terbatas, maksimal delapan edisi per patung. “Proses persiapan pameran ini memakan waktu sekitar lima bulan, mulai dari pemilihan karya, tata letak, hingga pencahayaan agar komposisi ruang tetap proporsional, baik untuk patung berukuran kecil yang diletakkan di atas meja maupun karya besar yang membutuhkan area lebih luas,” terang Adi lagi.

Di balik bentuk patungnya yang menggemaskan, Adi Gunawan menyimpan gagasan kritis yang sudah ia perjuangkan sejak hampir dua dekade lalu. Ia selalu gelisah dengan standar kecantikan perempuan yang selama bertahun-tahun dibentuk media, yakni sosok tinggi, langsing, berkulit mulus, dan berambut lurus. Sebagai bentuk perlawanan, Adi menciptakan figur perempuan bertubuh bulat dan berambut keriting, namun tetap tampil percaya diri.
“Cantik versi Adi Gunawan tuh gendut, bulat, kribo, blentek,” ujarnya menjelaskan asal-usul karakter yang kini menjadi identitas artistiknya. Karakter tersebut lambat laun berkembang, tidak hanya pada figur perempuan, tetapi juga tokoh laki-laki hingga berbagai figur binatang yang tampil dengan bentuk sama-sama membulat.
Gaya khas ini lahir dari proses pencarian panjang yang sempat membuatnya nyaris putus asa. Sebelum menemukan karakternya, Adi mengaku karyanya kerap dianggap meniru gaya seniman lain, sesuatu yang menurutnya nyaris membuatnya stres berat. Titik baliknya terjadi pada 2007, ketika ia hendak menggelar pameran tunggal di Bentara Budaya Yogyakarta dengan konsep karya konseptual yang sudah disetujui setahun sebelumnya. Menjelang pameran, ia justru mengganti total konsep karyanya menjadi figur-figur bulat yang baru ia temukan.

“Karena zaman 2007 itu pematung Indonesia semua serius, konseptual, nggak ada yang lucu,” kenang Adi. Keputusan nekat itu berbuah manis, karyanya mendapat sambutan luar biasa, bahkan seluruh karya dalam pameran tunggal tersebut diborong oleh seorang kolektor asal Singapura.
Sejak saat itu, figur bulat menjadi ciri khas yang terus melekat pada karya-karya Adi Gunawan, termasuk sejumlah karya monumental di ruang publik, salah satunya patung setinggi sekitar enam meter yang berdiri di kawasan Sunter, Jakarta Utara.
Kehadiran Alaya Kala tidak lepas dari strategi kurasi yang secara konsisten diterapkan ASHTA District 8 sebagai destinasi gaya hidup di kawasan SCBD, Jakarta Selatan. Troy Fridatama, GM Corporate Communications & Affairs ASRI, menjelaskan bahwa pameran seni digelar rutin setiap bulan dengan kurasi yang selalu berbeda, dan secara sengaja diarahkan pada karya seni yang lebih personal ketimbang pameran brand mainstream pada umumnya.
“Kami lebih senang yang begini, sangat sesuai dengan DNA. Karena memang ASRI itu dibangun khusus untuk local brand,” ujar Troy.

Ia menambahkan bahwa pemilihan seniman maupun karya yang dipamerkan selalu melalui jalur galeri, bukan komunikasi langsung dengan seniman. Pada Alaya Kala, kurasi karya Adi Gunawan dilakukan bersama SANKHARA. “Kalau kurasi dari senimannya kita biasanya itu kerja sama sama galeri,” kata Troy.
Bukan kali pertama ASHTA District 8 menggandeng Adi Gunawan. Menurut Troy, kolaborasi terakhir bersama Adi digelar setahun sebelumnya. Permintaan untuk kembali menghadirkan karya Adi Gunawan datang karena respons pasar yang positif. “Setiap kali pameran di sini itu mereka happy banget karena feedback nya bagus,” ujarnya.
Konsep menggabungkan karya seni dengan desain interior fungsional, menurut Troy, merupakan pendekatan yang baru pertama kali diterapkan di ASHTA District 8 dan berpotensi menjadi format yang akan diulang, meski dengan tema serta desain yang berbeda di masa mendatang. “Kalau kemungkinan akan kita bawa lagi dengan penggabungan interior dan sebuah karya, mungkin akan ada. Tapi pastinya dengan konsep dan desain yang berbeda,” katanya.

Selain Alaya Kala, rangkaian CURATED LIVING turut menghadirkan instalasi Beyond The Walls di area Connecting Langham, ASHTA District 8. Instalasi ini menampilkan lima karya patung kontemporer yang sengaja ditempatkan di berbagai titik, menciptakan perjumpaan tak terduga bagi pengunjung yang tengah melintas.
Pendekatan ini menegaskan gagasan besar CURATED LIVING, bahwa seni tidak harus berhenti di ruang pamer. Karya-karya yang tersebar di sepanjang kawasan menjadi ruang jeda bagi pengunjung untuk berhenti sejenak, mengamati, dan menemukan koneksi baru dengan seni di tengah aktivitas keseharian mereka.
Melalui CURATED LIVING, ASHTA District 8 kembali menegaskan posisinya bukan sekadar pusat perbelanjaan, melainkan ruang kreatif yang mempertemukan seniman, arsitek, desainer, dan komunitas dalam satu ekosistem.
Bagi pencinta seni, desain interior, maupun arsitektur, pameran ini menjadi salah satu agenda yang layak dikunjungi selama Juli 2026 di Jakarta, mengingat pengalaman serupa belum tentu akan hadir dengan format yang sama di masa mendatang./ JOURNEY OF INDONESIA | iBonk

















