JAKARTA – Saat sebagian besar rumah produksi tanah air masih berkutat di ranah horor dan komedi, Bayu Skak memilih jalan berbeda. Lewat Foufo, film produksi Skak Studios bersama Sinemart yang tayang serentak di bioskop mulai Kamis, 9 Juli 2026, ia menghadirkan genre fiksi ilmiah yang jarang disentuh sineas Indonesia, dengan budaya Madura sebagai jantung ceritanya.
Keputusan itu bukan tanpa alasan. Bayu Skak, yang merangkap peran sebagai sutradara, produser, sekaligus aktor dalam proyek ini, mengakui bahwa minimnya produksi film sci-fi lokal banyak dipicu oleh mahalnya biaya efek visual. Meski genre horor komedi terbukti selalu ramai penonton, ia enggan menjadikan Skak Studios sekadar pengikut tren yang sudah ada.
“Kalau dari kami di Skak Studios harapannya dalam berkarya itu harus ada yang baru. Karena pada dasarnya di atas kreatif kami harus inovatif. Kalau bisa kami upayakan harus bisa disruptif,” ujar Bayu Skak pada saat press screening .
Dari semangat itulah premis Foufo lahir. Jika film-film alien pada umumnya memilih kota besar seperti Los Angeles atau New York sebagai lokasi pendaratan, Bayu Skak justru menjatuhkan makhluk luar angkasanya di Madura. Benturan budaya antara sosok alien dan keseharian masyarakat Madura inilah yang menurutnya menjadi sumber komedi sekaligus pembeda utama film ini dari karya sejenis.

Foufo mengikuti kisah Muslim, diperankan oleh Tretan Muslim, seorang pengepul barang rongsokan di kawasan Surabaya Utara yang menanggung beban sebagai anak tertua setelah sang ayah meninggal dunia. Sebagai keluarga Madura yang taat beragama, memberangkatkan sang ibu, Saiqonah, untuk naik haji menjadi kebanggaan sekaligus tanggung jawab besar yang harus ia penuhi.
Dengan susah payah Muslim berhasil mengumpulkan uang muka sebesar 15 juta rupiah, namun pelunasan sisa biaya haji terus mengejar tenggat waktu. Ketika permohonan pinjaman ke bank berjalan tersendat, seorang temannya menyarankan jalan pintas mencuri besi rel kereta dari jalur yang sudah tidak beroperasi, sebuah ide yang ditolak keras oleh Muslim karena bertentangan dengan keyakinannya.
Titik balik cerita muncul ketika sebuah benda asing jatuh dari langit setelah tertabrak batu di angkasa. Dari reruntuhan pesawat itu, Muslim menemukan sosok alien yang kemudian ia beri nama Foufo, mengikuti kebiasaan dialek Madura yang gemar membalik suku kata terakhir ke depan, seperti sate menjadi te-sate.
Kehadiran Foufo perlahan mengubah nasib keluarga Muslim, mulai dari menyembuhkan katarak sang ibu hingga membantu memulihkan kondisi kesehatan iparnya.
Bagi Bayu Skak, tema perjuangan seorang anak membahagiakan ibunya sengaja dipilih karena sifatnya yang universal dan bisa menyentuh penonton lintas negara maupun latar belakang budaya. “Nilai yang sangatlah universal, dan bisa dinikmati oleh kalangan manapun, orang Amerika juga punya ibu kan, orang Eropa juga punya ibu kan,” ujarnya.
Sementara produser eksekutif David Suwarto mengatakan bahwa kolaborasi SinemArt bersama Skak Studios di film Foufo adalah melanjutkan kolaborasi sukses kami sebelumnya. Bayu Skak datang dengan ide yang out of the box dan saya yakin film ini akan sangat menghibur dengan komedi-komedi yang aneh, receh, namun juga ceritanya yang membumi dan menyentuh tentang anak
yang ingin membahagiakan ibunya,” tambahnya

Alur cerita kian rumit ketika uang tabungan haji yang telah susah payah terkumpul justru raib sebagian akibat ulah salah satu anggota keluarga sendiri. Di tengah keterbatasan itu, kondisi Foufo pun kian melemah dan hanya bisa diselamatkan jika pesawatnya kembali dapat diaktifkan, dengan kunci utama berupa keris peninggalan mendiang ayah Muslim.
Situasi ini akhirnya memaksa Muslim dihadapkan pada dilema besar, antara mengutamakan keberangkatan haji sang ibu atau menyelamatkan nyawa sahabat luar angkasanya. Pilihan sulit inilah yang oleh sejumlah pengamat disebut menjadi lapisan drama yang membuat Foufo tak sekadar tampil sebagai komedi ringan, melainkan turut menyisipkan momen mengharukan di tengah tawa penonton.
Bagi Tretan Muslim, memerankan karakter Muslim di film Foufo menjadi tantangan baru. Selama ini, Tretan selalu bermain di ranah komedi. Namun, di film ini ia dituntut untuk menampilkan karakter yang serius dan memiliki lapisan drama yang dalam.
“Di sini aku malah tidak boleh berkomedi, malahan aku harus nangis. Jadi ini sangat menantang bagiku, diberikan tanggung jawab dengan karakter yang sangat berbeda, dan pertama kalinya menjadi pemeran utama. Film Foufo ini juga menjadi kebanggaan saya, sebagai orang Madura, bisa menjadi bagian dari film berbudaya Madura pertama di Indonesia,” ujar Tretan Muslim dihadapan para jurnalis.
Salah satu nilai jual terbesar Foufo terletak pada komitmennya menghadirkan Madura secara otentik, bukan sekadar latar tempelan. Proses produksi melibatkan casting terbuka terhadap sekitar 2.500 calon pemain baru di Surabaya, dengan hasil akhir sekitar 80 persen pemeran film ini berasal dari kalangan lokal Madura maupun Jawa Timur. Dialog dalam film pun mengalir dalam tiga bahasa sekaligus, yakni Indonesia, Jawa, dan Madura, sesuai konteks masing-masing adegan.
Pendekatan ini juga membawa misi tersendiri bagi rumah produksi, yaitu meluruskan stigma negatif yang kerap melekat pada masyarakat Madura, khususnya terkait citra sebagai pencuri besi tua. Foufo ingin menegaskan bahwa perilaku menyimpang semacam itu hanyalah persoalan oknum, bukan representasi masyarakat Madura secara keseluruhan.
Dari sisi visual, film berdurasi 120 menit dengan rating usia 13 tahun ke atas ini mengandalkan teknologi CGI garapan tim lokal Surabaya untuk menghidupkan karakter alien Foufo, sebuah upaya yang oleh sejumlah pihak dinilai cukup ambisius mengingat keterbatasan anggaran dibandingkan produksi sci-fi Hollywood.
Selain menjadi ajang comeback Bayu Skak di genre baru, Foufo juga menandai debut Tretan Muslim sebagai pemeran utama di layar lebar, setelah sebelumnya lebih dikenal lewat konten komedi digital. Ia didampingi jajaran pemain lain seperti Habib Jafar, Benedictus Siregar, Mieke Shahir, dan Siti Kamariyah yang berperan sebagai Saiqonah, ibu dari tokoh Muslim.
Foufo dijadwalkan tayang serentak di seluruh bioskop Indonesia mulai Kamis, 9 Juli 2026, menandai upaya Bayu Skak dan Skak Studios menghadirkan warna baru di tengah industri perfilman nasional yang selama ini masih didominasi genre horor dan komedi./ JOURNEY OF INDONESIA | iBonk


















