JAKARTA – Sebuah film drama keluarga baru siap menghiasi layar bioskop Tanah Air pada akhir Juli mendatang. “Andai Waktu Bisa Diulang Kembali”, hasil kolaborasi rumah produksi Langit Pictures dan FMM Studios, akan tayang serentak mulai 30 Juli 2026 dengan membawa pesan sederhana namun menohok: waktu yang telah berlalu tidak akan pernah bisa diputar kembali.
Dalam konferensi pers yang digelar di Hollywood XXI, Jakarta, Selasa (14/7/2026), Penulis sekaligus Produser FMM Studios, Muhammad Ali Ghifari, membeberkan alasan di balik pemilihan judul film. Baginya, judul tersebut dipilih agar selaras dengan pesan utama yang ingin disampaikan kepada penonton, yakni betapa berharganya setiap detik yang dijalani manusia dalam hidupnya.
Ghifari menekankan, sekeras apa pun seseorang menyesali sebuah keputusan, waktu tidak akan pernah bisa diulang. Karena itu, ia berharap film ini dapat mengingatkan penonton untuk lebih bijaksana dalam bertindak dan berhati-hati dalam memperlakukan orang-orang di sekitarnya. “Film ini berawal dari hal sederhana, tetapi berharga. Pesannya bahwa manusia tidak akan bisa memutar waktu sehingga harus hati-hati dalam mengambil keputusan. Waktu menjadi sesuatu yang paling mahal, tidak akan bisa diulang,” ungkapnya.
Ia menambahkan, luka yang ditorehkan kepada orang lain terkadang tidak semudah itu untuk disembuhkan, sehingga kehati-hatian dalam bersikap menjadi kunci utama yang ingin ditanamkan film ini kepada penontonnya. “Intinya, pesan film ini adalah kita tidak bisa memutar waktu. Kita ingin menyampaikan untuk berhati-hati ketika menyakiti orang lain, karena kadang luka yang terlalu dalam tidak bisa disembuhkan,” kata Ghifari.

Pesan tersebut kemudian dituangkan lewat kisah Dinar, seorang perempuan yang harus bergelut dengan tumpukan masalah hidup mulai dari tekanan ekonomi, biaya kuliah yang membebani, utang keluarga, hingga kondisi kesehatan sang ibu yang terus memburuk. Titik balik kehidupan Dinar terjadi ketika ia mempertemukan dirinya dengan dua sosok, Faiz dan Firman, yang kemudian membawanya pada rangkaian pilihan hidup yang tidak mudah.
Peran Dinar dipercayakan kepada Davina Karamoy, yang mengaku bersyukur bisa terlibat dalam proyek film ini meski harus menanggung beban emosional yang berat sepanjang syuting. Ia bahkan rela mengubah penampilannya, tampil dengan poni demi memperkuat karakter Dinar agar terasa lebih sederhana dan dekat dengan latar cerita film.
“Ini cerita yang sangat deep buat aku. Sekitar 80 persen di film ini Dinar itu sedih. Waktu pertama kali reading, kami semua menangis karena ceritanya menyentuh hati,” ujar Davina.
Sementara Farhan Rasyid yang memerankan sosok Faiz yang dinilai tampil tenang tanpa berlebihan namun tetap mampu menghadirkan kesan emosional yang kuat bagi penonton. Farhan menggambarkan karakter yang dibawakannya sebagai laki-laki dengan kepedulian besar terhadap orang-orang terdekatnya. “Faiz ini adalah laki-laki yang tulus, pekerja keras, punya empati tinggi, dan tidak akan membiarkan wanitanya kesusahan sendirian,” katanya.

Kedekatan Davina dan Farhan di luar lokasi syuting turut menjadi modal penting dalam membangun chemistry antara Dinar dan Faiz di layar. Menariknya, persahabatan mereka di kehidupan nyata justru kerap membuat keduanya kesulitan menahan tawa saat harus memerankan adegan-adegan serius.
Chemistry itulah yang kemudian disebut-sebut menjadi salah satu daya tarik utama film ini, di mana bahkan dalam adegan tanpa dialog, tatapan dan bahasa tubuh keduanya mampu menyampaikan rasa cinta, kehilangan, serta perasaan yang belum selesai.
Selain kisah cinta Dinar dan Faiz, hubungan keluarga turut menjadi bagian penting dari cerita lewat karakter Mama Endang yang diperankan Vonny Anggraini. Vonny mengaku tantangan terbesarnya adalah menyampaikan pesan-pesan keluarga melalui dialog yang ringan tanpa terkesan menggurui penonton. “Tantangan menjadi Mama Endang adalah bagaimana menyuguhkan insight dan pesan melalui dialog-dialog yang ringan tanpa terasa menggurui atau menceramahi penonton,” ujar Vonny.
Jajaran pemain pendukung turut memperkaya jalan cerita film ini, di antaranya Bismo Satrio, Nadzira Shafa, Mazack, Kenji Sati, dan Nashwa Fadhillah. Kehadiran para pemain pendukung tersebut membuat konflik dan perjalanan hidup Dinar terasa semakin hidup dan berlapis.
Melalui perjalanan panjang para karakternya, “Andai Waktu Bisa Diulang Kembali” mengajak penonton untuk merenungkan satu hal, bahwa keputusan yang salah masih mungkin diperbaiki, tetapi waktu yang sudah berlalu adalah satu-satunya hal yang benar-benar tidak bisa dikembalikan./ JOURNEY OF INDONESIA | iBonk


















