JAKARTA – Jakarta International Convention Center (JICC) di Senayan berubah menjadi ajang pertemuan lintas negara sepanjang akhir Juli ini. Selama empat hari, mulai 28 hingga 31 Juli 2026, kawasan itu menjadi titik temu ratusan pelaku industri pertemuan, insentif, konvensi, dan pameran atau yang lazim disebut MICE dari berbagai negara ASEAN. Dua agenda besar digelar beriringan, yakni Southeast Asia Business Events Forum (SEABEF) 2026 dan Indonesia Business Event Mart (IBEM) 2026, yang untuk pertama kalinya disatukan dalam satu rangkaian penyelenggaraan.
Sepanjang empat hari pelaksanaan, IBEM menghadirkan 98 peserta pameran dari sektor MICE dan pariwisata, yang dipertemukan dengan 220 hosted buyers dari berbagai negara melalui rangkaian business matching di Paviliun Indonesia. Forum dan pameran dagang ini dirancang bukan sekadar seremonial, melainkan wadah nyata untuk mendorong transaksi bisnis dan memperluas jejaring pelaku industri.
Menteri Pariwisata, Widiyanti Putri Wardhana, yang membuka SEABEF 2026 di Jakarta, Rabu (29/7/2026), menyebut penyelenggaraan forum ini sebagai langkah strategis untuk mengukuhkan posisi Indonesia sebagai pusat penyelenggaraan business events yang kompetitif, inovatif, dan berkelanjutan di kawasan ASEAN. Menurutnya, industri events kini tidak lagi sekadar ajang pertemuan, melainkan telah berkembang menjadi katalis bagi investasi, inovasi, transfer pengetahuan, hingga penciptaan nilai tambah di berbagai sektor.
Data yang dipaparkan Menpar menunjukkan sektor MICE merupakan salah satu segmen terbesar dalam industri manajemen acara global. Pada 2024, sektor ini menguasai sekitar 30,75 persen pangsa pendapatan industri, dengan nilai pasar yang diperkirakan mendekati 1,2 triliun dolar Amerika Serikat. Angka tersebut menjadi alasan mengapa banyak negara, termasuk Indonesia, berlomba memperebutkan posisi sebagai destinasi penyelenggaraan event internasional.
“Harapannya, Indonesia semakin memperkuat perannya sebagai pusat business events di kawasan ASEAN sekaligus mendorong pertumbuhan pariwisata yang berkualitas, berkelanjutan, dan bernilai tambah tinggi,” kata Menpar.
Selama dua hari pelaksanaan, SEABEF 2026 mengupas sejumlah isu yang menjadi perhatian utama industri, mulai dari harmonisasi kebijakan events di tingkat ASEAN, pengembangan destinasi kompetitif dan berkelanjutan, hingga transformasi industri melalui teknologi dan kecerdasan artifisial. Forum ini juga menyentuh pengembangan sport and entertainment events, penguatan talenta industri, serta strategi memenangkan bidding event internasional.

Bagi Menpar, sinergi antara SEABEF dan IBEM bukan kebetulan. Penyatuan dua agenda ini dimaksudkan untuk memperluas peluang kemitraan sekaligus memperkuat ekosistem business events Tanah Air secara menyeluruh. “Sinergi kedua agenda ini diharapkan mampu memperluas peluang kemitraan, memperkuat ekosistem business events Indonesia, serta meningkatkan kolaborasi strategis antara pemerintah, asosiasi, dan sektor swasta dalam mendorong pertumbuhan industri MICE nasional,” kata Menpar.
Dukungan terhadap ambisi ini turut datang dari Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto, yang mengapresiasi langkah konkret Kementerian Pariwisata dalam memperkuat ekosistem MICE nasional. Ia berharap SEABEF 2026 dapat melahirkan penyederhanaan kebijakan atau regulasi, standar baru, hingga percepatan investasi di sektor ini.
Airlangga memaparkan bahwa sektor pariwisata yang ditopang penyediaan akomodasi serta makanan dan minuman kini menjadi motor pertumbuhan utama, dengan capaian mencapai 13,14 persen. Ia juga mencatat, pada Mei 2026, Indonesia berhasil menyambut 1,38 juta wisatawan mancanegara dan mencatatkan sekitar 106 juta perjalanan wisata nusantara, keduanya meningkat dibandingkan tahun sebelumnya. “Fondasi ini memposisikan Indonesia dengan baik untuk menjadi pusat MICE global, khususnya seiring dengan pergeseran pasar menuju bisnis dan hiburan (bleisure),” ujar Airlangga.
Untuk mewujudkan ambisi tersebut, Airlangga mengusulkan sejumlah strategi, mulai dari mengintegrasikan bisnis dan rekreasi dengan memanfaatkan destinasi unggulan seperti Borobudur, Prambanan, Garuda Wisnu Kencana, Taman Nasional Komodo, dan Danau Toba. Ia juga mendorong pemanfaatan kecerdasan artifisial, penguatan wisata olahraga dan religi, peningkatan konektivitas, serta subsidi pemerintah untuk memperkuat infrastruktur pariwisata.
Dari sisi teknis penyelenggaraan, Pelaksana Tugas Deputi Bidang Pengembangan Penyelenggara Kegiatan (Events) Kementerian Pariwisata, Hafiz Agung Rifai, menyebut SEABEF 2026 sebagai bagian dari upaya memperkuat posisi Indonesia sebagai destinasi business events berkelas dunia.
Menurutnya, penyelenggaraan SEABEF yang berjalan beriringan dengan IBEM menjadi momentum penting untuk mempertemukan para pemangku kepentingan industri sekaligus memperluas jejaring internasional. “Kolaborasi antara SEABEF dan IBEM menjadi momentum untuk mempertemukan para pemangku kepentingan industri, memperluas jejaring internasional, serta menghasilkan kerja sama yang mampu meningkatkan daya saing Indonesia sebagai destinasi business events unggulan di kawasan ASEAN,” kata Hafiz.
Forum ini turut dimeriahkan sejumlah pembicara nasional dan internasional, di antaranya Mohammed Hafez Marican dari Singapore Tourism Board, Stephan Wurzinger dari MCI Group, Waikin Wong dari International Congress and Convention Association (ICCA), serta Vivien Oh dari Resorts World Sentosa Singapore. Dari dalam negeri, hadir pula Hosea Andreas Runkat dari ASPERAPI, Carla Budiarto dari ASEAN Secretariat, Andro Rohmana dari Backstagers, dan Budhi Sarwiadi dari SC Borobudur Marathon.
Dengan rangkaian diskusi, data, dan komitmen yang mengemuka sepanjang SEABEF dan IBEM 2026, pemerintah tampak ingin memastikan momentum ini tidak berhenti sebagai wacana. Harmonisasi kebijakan ASEAN, pemanfaatan teknologi, dan penguatan destinasi unggulan menjadi pekerjaan rumah bersama jika Indonesia ingin duduk sejajar negara tetangga sebagai pusat industri MICE di kawasan ini./ JOURNEY OF INDONESIA | iBonk


















