JAKARTA – Riuh pengunjung memenuhi Hall JIExpo Kemayoran, Jakarta, begitu Menteri Perindustrian Agus Gumiwang Kartasasmita melangkah ke panggung, Rabu, 5 Agustus 2026. Ratusan pelaku industri kulit, alas kaki, tekstil, dan garmen menanti kabar soal arah industri yang selama ini kerap dipandang sebelah mata. Hari itu, Agus membawa angka yang bikin banyak orang menegakkan badan: potensi pasar sepatu nasional ditaksir tembus Rp290 triliun per tahun.
“Industri tekstil, kulit, dan alas kaki Indonesia bukanlah industri masa lalu, melainkan industri masa depan. Ini bukan industri biasa. Ini adalah industri yang menyentuh kehidupan jutaan keluarga, sekaligus menjadi wajah kita di pasar global,” kata Agus saat resmi membuka Indo Leather & Footwear (ILF) Expo dan Indo Garment & Textile (IGT) Expo 2026.
Angka Rp290 triliun itu, menurut Agus, bukan proyeksi tanpa dasar. Merujuk data Badan Pusat Statistik, hitungan tersebut ditarik dari rata-rata belanja masyarakat untuk sepatu dikalikan populasi Indonesia yang kini mendekati 290 juta jiwa. Ia menilai potensi sebesar itu semestinya bisa digarap habis oleh produsen lokal, asalkan harga jual tetap masuk akal bagi daya beli masyarakat.
Pameran yang digelar Krista Exhibitions Group ini bukan acara kaleng-kaleng. Tahun ini menjadi penyelenggaraan ke-19, rekam jejak panjang yang menempatkan ILF-IGT Expo sebagai kalender wajib pelaku industri manufaktur berbasis kulit dan tekstil di kawasan Asia Tenggara. Hingga tiga hari ke depan, JIExpo Kemayoran disesaki 210 peserta pameran, termasuk 50 di antaranya pelaku UMKM lokal yang mendapat panggung setara dengan perusahaan besar.
Daftar peserta tidak melulu didominasi wajah domestik. Perusahaan dan pelaku industri dari 14 negara ambil bagian, mulai dari Tiongkok, Italia, Uni Emirat Arab, Pakistan, Spanyol, India, Bangladesh, Jerman, Taiwan, Hong Kong, Vietnam, Singapura, hingga Korea Selatan. Lebarnya partisipasi asing ini jadi sinyal kepercayaan dunia terhadap industri manufaktur Tanah Air kian menguat, sekaligus mengukuhkan posisi Indonesia sebagai pusat pertumbuhan sektor kulit, alas kaki, tekstil, dan garmen di kawasan.
Soal optimisme itu, Ketua Umum Asosiasi Persepatuan Indonesia (APRISINDO) Anton J. Supit punya catatan yang tak kalah menarik. Ia menegaskan industri sepatu nasional sejatinya tidak pernah benar-benar terpuruk di pasar ekspor. “Industri persepatuan tidak pernah mengalami penurunan angka ekspor, tetapi potensi atau peluang di industri ini masih besar. Hal yang kita hadapi adalah masalah dalam negeri sendiri,” ujar Anton.
Pernyataan Anton itu seolah menjadi pengingat bahwa pekerjaan rumah industri ini bukan soal mencari pasar baru di luar negeri, melainkan membenahi persoalan struktural di dalam negeri, mulai dari efisiensi produksi hingga daya saing biaya.
Di area pameran, deretan produk kulit dan alas kaki berjejer bersama koleksi tekstil, garmen, bahan baku, dan aksesori. Tak jauh dari situ, mesin produksi generasi terbaru serta teknologi otomasi turut dipamerkan sebagai solusi manufaktur masa kini, dirancang untuk mendongkrak produktivitas, efisiensi, dan mutu produk tanpa mengorbankan prinsip keberlanjutan yang kian jadi tuntutan pasar global.

Selain lantai pameran, rangkaian ILF-IGT Expo 2026 juga diisi forum-forum strategis. Seminar Nasional Asosiasi Garment dan Textile Indonesia (AGTI) mengangkat tema besar soal membangun industri tekstil dan produk tekstil yang kompetitif, berkelanjutan, sekaligus menjadi pemain utama dalam rantai pasok nasional maupun internasional, mempertemukan pemerintah, akademisi, asosiasi, dan pelaku usaha dalam satu meja diskusi.
Tak ketinggalan, ILF-IGT Manufacturing Forum 2026 digelar bersama Asosiasi Persepatuan Indonesia dengan tema “Jaya di Pasar Domestik, Unggul di Pasar Global”. Forum yang didukung Kementerian Perdagangan, Kementerian Perindustrian, serta Kementerian Investasi dan Hilirisasi/BKPM ini mengupas revitalisasi industri padat karya, peningkatan investasi manufaktur, pemberdayaan UMKM dan IKM, hingga peluang memperluas ekspor lewat skema Indonesia-European Union Comprehensive Economic Partnership Agreement atau IEU-CEPA.
Suasana pameran kian hidup lewat The Fashion Show yang menampilkan karya terbaru desainer dan pelaku industri kulit, alas kaki, tekstil, hingga fesyen nasional. Malam harinya, Networking Cocktail Dinner menjadi ajang Business Matching yang mempertemukan peserta pameran dengan buyer, investor, asosiasi, dan mitra industri dari dalam maupun luar negeri. Sejumlah asosiasi besar turut hadir, di antaranya APRISINDO, Asosiasi Pengusaha Ritel Indonesia (APRINDO), Asosiasi Perancang dan Pengusaha Mode Indonesia (APPMI), Asosiasi Pertekstilan Indonesia (APKI), hingga Asosiasi Pemasok Garment dan Aksesoris Indonesia (APGAI).
Krista Exhibitions Group berharap gelaran ini menjadi motor penggerak pertumbuhan industri kulit, alas kaki, tekstil, dan garmen Indonesia, lewat sinergi pemerintah, pelaku usaha, asosiasi, investor, dan mitra internasional yang mempercepat adopsi teknologi, mendongkrak investasi, serta memperluas pasar ekspor.
Bagi pelaku industri, produsen, distributor, importir, eksportir, asosiasi, akademisi, investor, hingga profesional di sektor kulit, alas kaki, garmen, dan tekstil, ILF Expo dan IGT Expo 2026 masih berlangsung hingga Jumat, 7 Agustus 2026, di JIExpo Kemayoran. Registrasi kunjungan bisa dilakukan daring melalui laman register.kristaonline.com/visitor/indoleatherfootwear, atau langsung di lokasi pameran./ JOURNEY OF INDONESIA | iBonk


















