JAKARTA — Batas antara obsesi demi angka partisipasi digital dan ketulusan hubungan antarmanusia sering kali mengabur di era modern. Berangkat dari fenomena sosial tersebut, bioskop tanah air bersiap menyambut film debut penyutradaraan Reza “Arap” Oktovian bertajuk “Harusnya Horror”. Diproduksi oleh Ess Jay Pictures, karya ini menawarkan warna baru bagi lanskap sinema komedi-horor Indonesia.
Di balik balutan humor absurd yang mengocok perut, film ini menyimpan satire tajam mengenai creator economy. Praktik berburu konten viral demi mengejar keuntungan finansial kini dipotret dalam narasi yang tak sekadar memancing gelak tawa, melainkan menuntut pembacaan ulang terhadap makna loyalitas. Penonton diajak menelusuri batas tipis antara sensasi digital dan pengorbanan personal.
Perjalanan persahabatan dalam skenario Harusnya Horror dibangun secara kontemplatif. Saling bantu, intrik pengkhianatan, pengampunan, hingga pengorbanan terikat rapi dalam kerangka emosional yang kuat. Pendekatan ini membuat karya debut Reza Arap berani tampil beda ketimbang film horor komersial pada umumnya yang sering terjebak dalam formula jumpscare standar.
Film ini juga menandai debut akting layar lebar bagi deretan anggota AAAClan, mulai dari George Tierson, Yukatheo Glen Widjaja, Garry Andriawan Ang, Teguh Prakoso, Aldy Renaldy, Ariyanto, Niko Junius, hingga Bravyson. Kolaborasi ini diperkuat oleh deretan pemeran seperti Reynavenzka, Ronny P. Tjandra, Heroe Soewarno, Malka Rafasya, serta penampilan spesial dari Yoshua Marcellos.
Kebebasan mengeksplorasi karakter di lokasi syuting menjadi kunci eksperimen sinematik ini. Proses kreasi tidak berjalan secara kaku, melainkan membuka ruang bagi para kreator untuk lepas dari persona publik mereka sehari-hari.
“Sebagai sutradara, Reza memberikan treatment yang berbeda untuk kami. Dia memberikan kekebasan kreatif ke kami sebagai aktor untuk bisa mengeksplorasi karakter. Dibantu dengan acting coach dan proses development bersama, kami jadi bisa menampilkan sisi di luar Marapthon dan menjadi karakter baru yang belum pernah terlihat sebelumnya,” ujar George Tierson (Jot) yang memerankan Kevin.
Nuansa emosional film ini kian terasa mendalam karena Harusnya Horror sekaligus menjadi penghormatan terakhir bagi almarhumah Lula Lahfah. Kehadiran almarhumah memberikan jejak memori yang sangat personal bagi seluruh jajaran kru dan jajaran pemeran selama masa produksi.

“Setiap detiknya bersama Lula harusnya indah, kami berdua benar-benar menghargai setiap waktu bareng. Semua kru dan pemeran di film ini juga merasakan betapa besarnya dukungan dan kehadirannya selama produksi. Film Harusnya Horror menjadi memori terindah kami,” ujar sutradara Reza Oktovian.
Ia memadukan eksperimen naratif ini dengan pesan kemanusiaan yang mendalam. Kebisingan komedi serta keanehan situasi di dalam cerita dirancang untuk mengantarkan pesan inti mengenai dinamika relasi antarmanusia. “Meski kemasannya komedi-horor dengan cerita yang absurd, tetapi saya ingin menyajikan tentang arti persahabatan, pengorbanan, dan pentingnya menghargai orang terdekat sebelum terlambat,” tambah Reza.
Dari sudut pandang produser, film ini berusaha merespons realita sosial masyarakat urban secara pragmatis. Potret industri kreatif yang serba melaju cepat dan kerap abai pada aspek emosional diangkat menjadi cermin komedi. “Meski genrenya komedi-horor, tetapi film ini punya makna yang relevan, tentang situasi creator economy, saat semuanya dijadikan konten, film ini ingin memberikan refleksi dan satir dalam bentuk komedi. Semoga penonton juga terhibur dan bisa merasakan kedekatan emosional yang dibangun dari ceritanya,” ujar produser Sridhar Jetty.
Antusiasme publik terhadap sinematografi bernuansa satire ini sudah terlihat bahkan sebelum penayangan resminya. Penjualan tiket Advance Ticket Sales (ATS) tercatat ludes di berbagai kota besar, mulai dari Jakarta, Depok, Bekasi, Bali, Banjarmasin, Batam, Bogor, Jambi, Lampung, Palembang, Pekanbaru, Makassar, Samarinda, hingga Pontianak.
Karya persembahan Ess Jay Pictures dengan produser eksekutif David S Suwarto serta ko-produser Jimmy L. Lalwani ini membuktikan bahwa film horor tidak harus selalu berakhir dengan rasa takut semata. Ketika tawa absurdity meredup, penonton justru dihadapkan pada rasa haru yang mendalam. Harusnya Horror siap tayang serentak di seluruh bioskop Indonesia mulai 20 Agustus 2026./ JOURNEY OF INDONESIA | iBonk


















