JAKARTA – Panggung kontes kecantikan modern tidak lagi sekadar urusan visual. Di tengah ketatnya persaingan destinasi global, representasi pariwisata membutuhkan narasi yang lebih mendalam, humanis, dan persuasif. Esensi inilah yang mencoba dibawa oleh Yayasan EL JOHN Indonesia bersama EL JOHN Pageants saat resmi membuka rangkaian ajang Miss Tourism Universe 2026 melalui prosesi penyelempangan sash (sashing ceremony) di Ballroom Golden Phoenix, Merlynn Park Hotel, Jakarta pada Sabtu, (16/5/26).
Ketika sebagian besar kompetisi serupa kerap terjebak pada pakem kosmetik, perhelatan tahun ini mencoba mendobrak arus utama. Melalui tema besar “The Power of Woman”, ada pesan kuat yang ingin disampaikan tentang posisi perempuan bukan lagi sekadar sebagai ikon pemanis brosur wisata, melainkan agen perubahan yang memegang kendali atas narasi budaya dan pariwisata dunia.
Perempuan modern dipandang memiliki perpaduan antara kecerdasan emosional, kepedulian sosial, serta kepemimpinan yang mampu menggerakkan kesadaran lingkungan dan masyarakat lokal.

Atmosfer hangat namun kompetitif begitu terasa saat satu per satu finalis memperkenalkan diri di hadapan undangan dan media. Menariknya, tahun ini proses kurasi berjalan jauh lebih ketat dari biasanya, menitikberatkan pada bobot akademis dan latar belakang para peserta yang tidak main-main. “Dari sekitar 200 pendaftar yang masuk dari seluruh penjuru Indonesia, kami dari tim juri akhirnya menyaring hingga terpilih 20 finalis terbaik yang ada di hadapan kita sekarang.” ujar Ketua Umum Yayasan EL JOHN Indonesia, Johnnie Sugiarto.
Ia menambahkan bahwa mayoritas finalis merupakan mahasiswi jenjang S1, bahkan salah satunya sudah menyandang gelar dokter. Kemampuan intelektual ini menjadi modal krusial karena kriteria seleksi kali ini memang meletakkan kemampuan komunikasi yang kuat di atas segalanya, mendampingi prasyarat fisik seperti tinggi badan minimal 165 sentimeter.
Mengapa harus perempuan yang menjadi ujung tombak promosi pariwisata? Jawabannya terletak pada cara pandang yang ditawarkan. Pendekatan emosional, kepekaan terhadap detail budaya, serta keramahan alami yang melekat pada sosok perempuan dinilai menjadi alat diplomasi kebudayaan yang sangat efektif di kancah internasional.
Johnnie Sugiarto kembali menegaskan nilai filosofis di balik keputusan tersebut. “Filosofi di balik tema ini, kami ingin menonjolkan ketangguhan perempuan yang tidak mudah menyerah dan mampu berjuang di berbagai situasi. Kami percaya, sudut pandang atau perspektif dari seorang perempuan ini akan jauh lebih meyakinkan dunia internasional untuk datang dan berkunjung ke Indonesia.” paparnya tegas.

Melalui sudut pandang inilah, kekayaan budaya dan keramahan masyarakat Indonesia diharapkan tidak lagi tampil kaku, melainkan mengalir sebagai sebuah cerita yang hidup dan organik saat dibawa oleh sang duta ke panggung global.
Menariknya, langkah besar ini tidak melulu bergantung pada sokongan birokrasi. Industri pariwisata nasional sering kali menuntut pergerakan yang cepat dan adaptif, sesuatu yang terkadang harus diupayakan secara swadaya oleh para pelaku sektor kreatif.
Sikap realistis namun tetap optimistis ini tercermin jelas dari komitmen penyelenggara untuk terus melangkah maju demi merah putih. “Terkait dengan dukungan pemerintah, dari pihak El John tentu kami tetap bersurat dan sangat berharap ada dukungan dari Kementerian Pariwisata. Namun, jika memang belum ada respons karena adanya skala prioritas dari instansi tersebut, kami dari El John akan tetap berjalan secara mandiri demi kemajuan pariwisata nasional.” urai Johnnie terbuka mengenai dinamika di balik layar.
Kemandirian ini justru membuktikan bahwa semangat memajukan pariwisata Indonesia merupakan tanggung jawab kolektif yang tidak boleh berhenti hanya karena kendala prosedural. Kini, ke-20 finalis terpilih tengah memasuki fase krusial. Mereka diwajibkan menjalani masa boot camp atau karantina intensif selama tujuh hari di Merlynn Park Hotel Jakarta.

Selama satu pekan tersebut, ruang-ruang kelas karantina akan diisi dengan berbagai pembekalan, mulai dari seminar nasional, sesi berbagi pengalaman bersama para ahli dan sponsor, hingga tahapan wawancara penjurian yang mendalam.
Tidak hanya menguji kapasitas intelektual di dalam ruangan, para kontestan juga ditantang untuk menunjukkan bakat seni serta keluwesan mereka dalam ajang fashion show dan talent show yang akan dihelat di WTC Mangga Dua. Ini menjadi ujian nyata bagaimana mereka mengemas kepercayaan diri di depan publik sebelum melangkah ke babak akhir.
Puncak dari seluruh proses panjang ini akan bermuara pada malam Grand Final yang dijadwalkan berlangsung di Golden Sense International Restaurant pada 21 Mei 2026, mulai pukul 18.00 WIB.
Bagi masyarakat luas yang ingin melihat bagaimana proses transformasi para agen perubahan ini, seluruh jalannya acara puncak akan disiarkan secara langsung oleh EL JOHN TV melalui situs resmi dan kanal YouTube EL JOHN Media.
Pada babak akhir tersebut, akan disaring 6 besar finalis yang masing-masing akan mengemban gelar tersendiri, dengan mahkota tertinggi Miss Tourism Universe sebagai puncaknya—sebuah amanah besar untuk membawa wajah pariwisata Indonesia ke mata dunia./ JOURNEY OF INDONESIA | iBonk

















