JAKARTA – Banyak generasi muda Indonesia menyimpan ide-ide brilian untuk menyelesaikan berbagai masalah pelik di sekitar mereka. Sayangnya, tanpa wadah dan bimbingan yang tepat, gagasan tersebut kerap kali hanya berujung menjadi tumpukan konsep di atas kertas. Berangkat dari kegelisahan tersebut dan komitmen kuat untuk mencetak talenta digital masa depan, Samsung Electronics Indonesia kembali menggelar karpet merah bagi para inovator muda lewat ajang bergengsi, Samsung Solve for Tomorrow (SFT) 2026.
Berbeda dari sekadar ajang perlombaan biasa, program ini dirancang layaknya inkubator bagi para pelajar tingkat SMA/SMK/MA sederajat hingga mahasiswa aktif jenjang D3 hingga S1 di seluruh Nusantara. Pintu pendaftaran untuk membuktikan diri akan resmi dibuka mulai 28 April hingga 29 Mei 2026 mendatang melalui situs resmi program tersebut.
Mewakili semangat kompetisi tahun ini, pihak Samsung menegaskan bahwa ajang ini adalah sebuah perjalanan transformasi yang menuntut keberanian. “Tahun ini, kami kembali mengundang generasi muda Indonesia untuk berani mengambil langkah dan menghadirkan solusi nyata melalui teknologi. Samsung Solve for Tomorrow bukan sekadar kompetisi, tetapi sebuah perjalanan untuk mengembangkan ide, keterampilan, dan pola pikir inovatif yang dapat membawa dampak luas. Kami ingin membuka lebih banyak peluang bagi talenta muda Indonesia untuk berkembang dan memberikan dampak nyata bagi masyarakat,” ujar Bagus Erlangga, Head of Corporate Marketing, Samsung Electronics Indonesia.
Bukti nyata dari kaliber program ini bisa dilihat dari rekam jejak para alumnusnya yang menginspirasi. Pada edisi sebelumnya, SFT sukses mewadahi antusiasme ribuan pendaftar yang mengerucut menjadi ratusan tim dengan karya cemerlang. Salah satu kisah sukses yang paling menonjol datang dari Tim Labmino asal Universitas Indonesia yang bahkan menembus panggung dunia dan didapuk sebagai Samsung Solve for Tomorrow Global Ambassador.
Sementara Anthony Edbert Feriyanto, Tim Labmino, SFT Global Ambassador 2025“ berujar jika mengikuti Samsung Solve for Tomorrow menjadi pengalaman yang mengubah cara kami melihat potensi diri. Kami merasa sangat bangga dapat mewakili Indonesia sebagai Global Ambassador. “Lebih dari sekadar pencapaian, perjalanan ini membuktikan bahwa ide yang berangkat dari kepedulian dapat berkembang menjadi solusi nyata yang memberikan dampak,” ujarnya.

Pengalaman transformatif serupa juga diamini oleh Kadek Nandana Tyo Nayotama, anggota tim Hackie Chan dari Universitas Brawijaya yang berhasil meraih posisi juara kedua di kategori universitas pada tahun lalu. Bersama rekan-rekannya, Tyo melahirkan Pantara, sebuah platform digital cerdas berbasis kecerdasan buatan (AI) dan Machine Learning yang dirancang untuk mengelola bahan pangan segar agar lebih terukur dan berkelanjutan.
“Awalnya saya mengira Samsung Solve for Tomorrow hanyalah kompetisi biasa, namun ternyata jauh melampaui ekspektasi. SFT mengajarkan kami untuk benar-benar memahami masalah melalui pendekatan Design Thinking sebelum membangun solusi, sesuatu yang sangat membuka perspektif saya sebagai mahasiswa teknik,” ungkap Tyo.
Tyo juga menambahkan berbagai sesi seperti AI Amplification Workshop dan mentoring langsung dari para expert juga memberikan insight baru yang aplikatif. “Seluruh prosesnya sangat membentuk kemampuan saya, mulai dari berpikir kritis, berkolaborasi, hingga menyampaikan ide secara jelas dan berdampak.”
Untuk edisi 2026, tantangan yang diberikan dipastikan semakin tajam dan relevan dengan urgensi global saat ini. Para peserta nantinya akan diwajibkan untuk mematangkan ide mereka melalui salah satu dari dua fokus utama yang disediakan. Tema pertama menyoroti isu krusial mengenai teknologi untuk keberlanjutan lingkungan. Di ranah ini, peserta ditantang menggunakan pendekatan ilmu pengetahuan dan teknologi guna menciptakan inovasi yang mengusung konsep ekonomi sirkular, seperti meminimalisasi limbah, mendaur ulang material, hingga meregenerasi sumber daya demi kelestarian bumi.
Sementara itu, tema kedua menawarkan sudut pandang yang tak kalah menarik, yakni mendorong perubahan sosial melalui konvergensi olahraga dan teknologi. Generasi muda diajak untuk meracik solusi yang mampu meruntuhkan batasan dan menciptakan akses olahraga yang lebih merata. Harapannya, inovasi yang lahir bisa merangkul semua kalangan dengan lebih inklusif, khususnya bagi perempuan dan penyandang disabilitas, menjadikan olahraga sebagai medium nyata untuk membangun kesetaraan.
Konsistensi Samsung dalam mengawal pendidikan dan pemberdayaan anak muda nyatanya tidak luput dari radar publik. Berbagai apresiasi telah disematkan pada program-program mereka, mulai dari penghargaan bergengsi sebagai Penggerak Talenta Digital dari Detikcom, hingga pengakuan teranyar di ajang Uzone Choice Awards 2026 untuk kategori ESG Award Next-Gen Social Movement.
Deretan prestasi ini menjadi validasi kuat bahwa inisiatif yang dihadirkan bukan hanya sebatas program corporate social responsibility, melainkan sebuah investasi jangka panjang yang selaras dengan denyut nadi dan aspirasi generasi muda Indonesia untuk masa depan yang lebih baik./ JOURNEY OF INDONESIA | Morteza

















