SUKABUMI – Raungan mesin motor besar memecah kesunyian perbukitan di Kecamatan Cikakak, Kabupaten Sukabumi pada awal April lalu. Bukan sekadar penyaluran hobi touring, puluhan pengendara yang tergabung dalam Ducati Official Club Indonesia (DOCI) ini tengah membawa misi kemanusiaan yang kontras dengan kesan mewah kendaraan mereka. Mereka datang untuk menyentuh langsung realitas pendidikan di pelosok Jawa Barat: sebuah pesantren yang lahir dari bekas kandang ayam.
Perjalanan sejauh 80 kilometer dari pusat Kota Sukabumi menuju Desa Gandasoli bukanlah perkara mudah. Jalanan rusak, akses yang terbatas, hingga kontur perbukitan yang curam menjadi ujian bagi para anggota komunitas. Namun, medan berat tersebut seolah menjadi pengingat atas perjuangan para santri di Pondok Pesantren Daarut Toha yang selama ini menuntut ilmu di tengah segala keterbatasan fasilitas.
Kyai Jajang Badru Jaman, sang pimpinan pondok, menceritakan bahwa tempat para santri menimba ilmu awalnya merupakan bangunan bekas kandang ayam milik keluarganya. Di tempat sederhana itulah, puluhan anak dari keluarga prasejahtera menggantungkan harapan akan masa depan. “Dengan kondisi sederhana, kami tetap berusaha memberikan pendidikan terbaik tanpa memungut biaya,” ujar Kyai Jajang. Pernyataan tersebut menggambarkan betapa kuatnya tekad untuk mencerdaskan anak bangsa meski dukungan finansial sangat minim. Selama ini, operasional pesantren hanya ditopang secara mandiri dengan tenaga pengajar sukarela.

Kondisi inilah yang menggerakkan hati ratusan anggota DOCI. Kehadiran mereka melalui program renovasi menjadi angin segar bagi keberlangsungan pendidikan di sana. Presiden DOCI, Stephanus Wibowo, bersama para pengurus menyerahkan bantuan yang dikumpulkan selama bulan Ramadan 2026. Bantuan tersebut mencakup kebutuhan mendasar pembangunan fisik, mulai dari material untuk atap, dinding, hingga lantai yang lebih layak.
Sentuhan renovasi ini juga menyasar pembangunan ruang kelas baru, selasar yang nyaman, hingga fasilitas sanitasi yang higienis. Selain fokus pada infrastruktur, komunitas ini juga menunjukkan kepedulian pada warga sekitar dengan menyalurkan hampir satu ton sembako dan makanan instan. Aksi ini menjadi bukti bahwa komunitas otomotif premium mampu melebur dan berdampak langsung pada masyarakat di tingkat akar rumput.
Langkah yang diambil oleh DOCI mencerminkan pergeseran positif dalam budaya komunitas motor di Indonesia. Kini, kegiatan gathering atau touring tidak lagi sekadar ajang pamer tunggangan, melainkan sarana penggerak perubahan sosial. Dengan adanya fasilitas yang lebih manusiawi, para santri di pelosok Sukabumi kini memiliki ruang yang lebih layak untuk bermimpi, membuktikan bahwa perubahan besar sering kali dimulai dari langkah kecil di jalanan yang berdebu./ JOURNEY OF INDONESIA | eR Bee


















