JAKARTA – Keberhasilan menembus salah satu festival film internasional paling bergengsi dengan hanya sepuluh film terpilih membuktikan kualitas sinema ini. Wregas, yang sebelumnya kita kenal lewat keberhasilan film “Penyalin Cahaya”, kali ini membawa kita ke Desa Latas. Sebuah desa fiktif di mana kerasukan bukanlah sesuatu yang menakutkan, melainkan sebuah tradisi komunal yang dirayakan layaknya pesta rakyat di bawah terik matahari.
Para warga di desa ini dengan sukarela memasrahkan diri mereka untuk menari mengikuti irama musik dan mantra yang dibacakan oleh seorang Perasuk. Kesadaran mereka seolah berpindah ke dimensi lain yang disebut Alam Sambetan demi mencari kesenangan semu. Konflik cerita pun memanas saat Guru Asri, karakter perasuk senior yang diperankan oleh Anggun C. Sasmi, membuka sayembara untuk mencari penerusnya. Dari sinilah ambisi Bayu, diperankan oleh Angga Yunanda, mulai tersulut.
Menariknya, ambisi Bayu untuk menjadi perasuk utama bukan sekadar haus kekuasaan belaka. Di balik itu, Desa Latas sedang menghadapi ancaman nyata yakni penggusuran mata air keramat yang menjadi tempat para perasuk mencari roh. Wregas menyelipkan isu hak ulayat dan perlawanan masyarakat adat di sini. Inspirasi cerita ini ternyata lahir dari pengalaman personal keluarga Wregas di Bantul, Yogyakarta, saat memprotes akuisisi sumber air oleh korporasi.

Wregas menjelaskan bagaimana masyarakat kerap menciptakan mitos lokal sebagai salah satu cara bertahan demi menjaga kelestarian alam. Menurutnya, hal tersebut bukanlah tindakan klenik semata. “Di berbagai tempat itu, ada banyak yang berpotensi untuk menjadi tambang, pabrik, dan biasanya sekitarnya juga jadi kering. Nah, banyak warga yang kemudian membuat suatu mitos tertentu. Misalnya kalau di mata air itu ada peri, jadi nggak boleh diganggu,” ujarnya saat menjelaskan keterikatan spiritualitas dengan alam.
Hal menarik lainnya adalah terlibatnya Anggun seorang penyanyi internasional ikut menjalani debut layar lebar dengan cara yang tak biasa—tanpa naskah detail, penuh improvisasi, dan langsung tampil di panggung dunia seperti Sundance Film Festival.
Dalam konferensi pers, Anggun mengaku pengalaman pertamanya di dunia film menjadi momen yang tak terlupakan sepanjang hidupnya. “Ini pengalaman yang enggak akan aku lupakan seumur hidup. Film pertama langsung Sundance, itu luar biasa banget,” ujar Anggun saat press screening dan press conference film Para Perasuk di XXI Epicentrum, Selasa (14/4/2026).
Anggun mengungkapkan bahwa awalnya ia sempat kebingungan saat membaca naskah karya Wregas Bhanuteja. Alur cerita yang tidak konvensional membuatnya harus beradaptasi dengan pendekatan baru dalam berakting. “Pas pertama baca, jujur aku bingung. Tapi akhirnya aku memutuskan untuk percaya sepenuhnya sama visi sutradara,” kata Anggun.

Meski kental dengan aroma tradisi kerasukan, Wregas menepis anggapan bahwa film panjang ketiganya ini bermaksud menyindir kultur daerah tertentu. Menurutnya, konsep kerasukan bersifat universal dan ada di belahan dunia mana pun. “Perasuk” di sini justru menjadi metafora dari kondisi psikologis kita sendiri yang kerap kali kehilangan kontrol saat dikejar obsesi. Sutradara berbakat ini mengingatkan, “Ketika kita haus akan kekuasaan, validasi, atau kekuatan kadang kita jadi lupa dengan orang-orang yang sayang dengan kita.”
Menerjemahkan naskah yang sarat makna ini ke dalam layar lebar tentu mengharuskan para aktornya keluar dari zona nyaman. Angga Yunanda bahkan mengaku langsung didera banyak pertanyaan saat pertama kali membaca skenarionya. Ia harus menghadapi adegan-adegan fisik yang tak biasa, mulai dari ditampar sosis hingga dituang air dari galon. Untuk mendalami karakter Bayu yang kompleks, Angga menjalani latihan fisik dan meditasi intensif selama dua bulan, termasuk belajar meniup alat musik slompret dalam kondisi tubuh terbalik dan merayap layaknya lintah hingga perutnya kram.
“Mungkin saking keras dia berusaha, awalnya itu ambisi. Sampai akhirnya menjadi obsesi yang gak bisa dihentikan. Jadi, aku ngerasa sangat sedih melihat dinamika yang ditulis sama Kak Regas tentang Bayu ini,” tutur Angga saat menggambarkan kejatuhan emosional karakternya yang berujung pada kehancuran batin.
Film yang digarap sejak 2024 ini memang tidak main-main. Menurut produser Iman Usman, skala produksinya terbilang masif karena melibatkan sekitar seribu orang figuran untuk adegan-adegan penting, meski sempat terbentur keterbatasan anggaran. Setelah menuai apresiasi tinggi di Sundance dan diproyeksikan tampil di festival film Miami, Brasil, hingga Eropa, penonton tanah air akhirnya bisa menyaksikan langsung kedalaman cerita “Para Perasuk” di bioskop mulai 23 April 2026. Selain Angga dan Anggun, film ini juga didukung oleh jajaran aktor papan atas seperti Maudy Ayunda, Bryan Domani, dan Chicco Kurniawan./ JOURNEY OF INDONESIA | iBonk

















