JAKARTA – Di tengah gempuran tren musik modern, denyut nadi musik rock di Ibu Kota rupanya belum meredup. Skena musik rock Jakarta justru kembali menunjukkan taringnya melalui sebuah kolaborasi apik yang mempertemukan para musisi senior dan talenta muda.
Masih digerakkan oleh Rockafella’s bersama Fat & Sim Rooftop Bar, sebuah panggung reuni bertajuk “Welcoming Back” sukses digelar pada 12 Juni 2026. Mengusung konsep tribute band, acara ini bukan sekadar ajang bernostalgia, melainkan sebuah ikhtiar nyata untuk merawat ekosistem musik rock agar tetap relevan dan memiliki ruang regenerasi.
Tepat pada pukul 21.20 WIB, panggung band malam itu langsung memanas begitu Speax naik ke atas panggung. Tak tanggung, band yang digawangi oleh anak-anak SMK Cyber Jakarta ini menghentak lewat deretan nomor klasik milik pelopor heavy metal dunia, Black Sabbath. Distorsi gitar yang tebal dan atmosfer kelam khas era awal metal berhasil memikat perhatian para penikmat musik yang hadir sejak awal laga.
Estafet energi kemudian dilanjutkan oleh Dreads Conspiracy, agak sedikit berbeda dengan pembuka yang kental dengan nuansa klasik, band yang dimotori oleh Tege ini membawa intensitas yang lebih agresif lewat repertoar milik Pantera. Karakter groove metal yang bertenaga sukses memicu andrenalin penonton, menjadikan penampilan mereka salah satu momen paling membakar semangat sepanjang malam.
Penggagas acara sekaligus perwakilan Rockafella’s, Riffy Utami, mengungkapkan bahwa inisiatif ini lahir dari kerinduan untuk menyatukan kembali para pemusik yang sempat menepi dari panggung pertunjukan. “Hari ini kami mengadakan konsep reuni musisi yang dibungkus dalam format tribute. Teman-teman lama yang sebelumnya vakum bisa kembali berkumpul dan tampil bersama. Kami bersyukur mendapatkan dukungan penuh dari Fat & Sim Rooftop Bar sehingga acara ini dapat terus berjalan dan berkembang,” ujar Riffy.
Sebagai motor utama, Rockafella’s juga turun langsung menguasai panggung. Mereka membawa penonton melintasi lorong waktu keemasan hard rock dan neoclassical metal dengan membawakan lagu-lagu legendaris dari Deep Purple, Rainbow, hingga Yngwie Malmsteen. Ketajaman aransemen dan teknik permainan instrumen yang solid dari Rockafella’s menjadi salah satu sorotan utama malam itu.
Kemeriahan perayaan musik cadas ini akhirnya mencapai puncaknya saat Interstate mengambil alih panggung. Membawa semangat rock n’ roll, mereka menggelontorkan lagu-lagu hit dari Aerosmith dan Van Halen. Kor bersama penonton membahana di area rooftop, menutup rangkaian malam dengan klimaks yang meriah.
Di balik kemeriahan distorsi gitar dan dentuman drum, gerakan ini mengusung misi jangka panjang yang lebih mendalam, yaitu regenerasi. Riffy menegaskan bahwa Rockafella’s tidak ingin panggung ini eksklusif hanya untuk nama-nama lama.
“Kami ingin memberikan ruang bagi band-band baru untuk menunjukkan karya mereka. Jika ada musisi yang ingin memperkenalkan single atau album baru, kami siap membantu menyediakan panggung dan fasilitas pendukung. Jadi bukan hanya untuk band yang sudah dikenal, tetapi juga bagi mereka yang sedang merintis karier di dunia musik,” jelasnya.
Konsistensi komunitas ini bukan sekadar bualan. Rangkaian program reuni dan tribute ini tercatat sudah terselenggara sekitar 14 kali. Ke depan, mereka menargetkan agenda ini dapat bergulir secara rutin setiap dua minggu sekali demi membangun ekosistem yang berkelanjutan bagi musisi independen.
Langkah konkret komunitas ini mendapat sambutan hangat dari pihak penyedia tempat. Minimnya ruang berekspresi bagi genre musik cadas di Jakarta menjadi alasan utama mengapa kolaborasi ini dinilai sangat krusial.
Assistant F&B Manager Fat & Sim Rooftop Bar, Jack, mengakui bahwa wadah untuk komunitas rock saat ini semakin terbatas. “Kami ingin membantu menghidupkan kembali band-band rock. Saat ini tidak banyak venue yang secara konsisten memberikan ruang bagi musisi rock untuk tampil. Karena itu kami berharap acara seperti ini bisa menjadi rumah bagi komunitas dan penikmat musik rock di Jakarta,” ujar Jack.
Jack juga menambahkan bahwa antusiasme publik terhadap lagu-lagu bernuansa rock klasik masih sangat tinggi. Repertoar dari band legendaris seperti Deep Purple, Rainbow, Black Sabbath, Aerosmith, Van Halen, hingga Pantera terbukti memiliki daya pikat magis yang universal, baik bagi anggota komunitas maupun pengunjung reguler yang datang.
Melalui sinergi yang konsisten antara komunitas dan pemilik tempat, ruang kreatif ini diharapkan mampu terus berumur panjang. Ketika wadah dan apresiasi berjalan beriringan, skena musik rock Jakarta dipastikan tidak akan kehabisan generasi penerus untuk menjaga api distorsi tetap menyala di masa depan./ JOURNEY OF INDONESIA | iBonk











