JAKARTA – Di balik keriuhan perayaan Idul Fitri, terselip realitas ekonomi yang masih menantang, memaksa setiap rumah tangga untuk menata ulang strategi bertahan hidup. Di sinilah, sosok perempuan muncul sebagai jangkar yang menjaga kapal keluarga tetap stabil di tengah ombak fluktuasi harga kebutuhan pokok yang belum sepenuhnya bersahabat.
Anggota Komisi XI DPR RI, Anis Byarwati, menangkap fenomena ini bukan sekadar angka statistik, melainkan tentang daya lentur seorang ibu. Menurutnya, dalam situasi ekonomi saat ini, perempuan memegang peran yang sangat krusial dalam menjaga keseimbangan rumah tangga. Kemampuan manajerial di dapur kini menjadi penentu napas panjang sebuah keluarga. “Dalam kondisi sekarang, perempuan itu benar-benar jadi penopang utama di keluarga. Para ibu harus makin pintar mengatur keuangan keluarga, memastikan kebutuhan terpenuhi, walaupun kondisi ekonomi sedang tidak mudah,” ujar Anis dalam sebuah perenungan momentum Lebaran di Jakarta.
Realitas di pasar memang berbicara jujur. Tekanan ekonomi dirasakan nyata oleh masyarakat, mulai dari kenaikan harga kebutuhan pokok hingga daya beli yang belum sepenuhnya pulih. Anis tidak menampik bahwa beban ini sering kali memaksa perempuan melampaui batas peran domestiknya. Ia melihat banyak ibu yang kini turun tangan, mencari celah kreatif demi menambah pundi-pundi penghasilan keluarga.
“Kita tidak bisa menutup mata, harga-harga kebutuhan sehari-hari masih terasa tinggi bagi banyak keluarga. Situasi ini membuat perempuan sering kali harus mencari cara tambahan, bahkan ikut menambah penghasilan keluarga,” lanjutnya.
Meski demikian, ada garis filosofis yang ditebalkan oleh Anis. Baginya, kontribusi ekonomi perempuan di masa sulit adalah bentuk heroisme, namun bukan berarti menggeser tanggung jawab fundamental. Ia menegaskan bahwa mencari nafkah bukanlah tugas utama perempuan, melainkan tanggung jawab yang pada dasarnya berada pada laki-laki. Keterlibatan istri dalam mencari nafkah adalah penyangga, sebuah bentuk kemitraan yang lahir dari kasih sayang.
“Perlu dipahami, mencari nafkah bukan tugas utama perempuan. Maka ketika perempuan ikut berkontribusi dalam ekonomi keluarga, itu adalah bentuk dukungan dan kekuatan tambahan, bukan kewajiban utama,” tegas Anis.
Kunci dari ketahanan ini, menurutnya, terletak pada komunikasi yang cair antara suami dan istri. Ekonomi keluarga bukan hanya soal berapa besar pendapatan yang masuk ke rekening, melainkan bagaimana mengelolanya dengan kesepakatan yang sehat. Ia percaya bahwa beban yang dipikul bersama akan terasa lebih ringan dan menghindarkan keluarga dari keretakan akibat tekanan finansial.
Di sisi lain, Anis juga menyoroti pentingnya dukungan sistemik dari pemerintah. Ketangguhan perempuan Indonesia tidak boleh dibiarkan berjalan sendiri tanpa payung kebijakan yang berpihak. Sektor UMKM yang banyak digeluti perempuan harus mendapatkan perhatian lebih, mulai dari akses permodalan yang mudah hingga pelatihan yang relevan agar mereka bisa naik kelas secara ekonomi.
Idul Fitri kali ini pun menjadi pengingat tentang pentingnya kohesi sosial. Semangat gotong royong dan saling membantu antartetangga menjadi jaring pengaman sosial yang paling organik. Di tengah situasi yang menantang, kepedulian terhadap sesama yang terdampak ekonomi menjadi cermin dari kesucian hari raya.
Menutup pandangannya, Anis menitipkan harapan agar ke depannya perempuan Indonesia memiliki ruang gerak yang lebih luas namun tetap dengan dukungan kemitraan yang seimbang dalam keluarga. “Harapan saya, perempuan Indonesia bisa semakin tangguh tanpa harus menanggung beban sendirian. Dengan kerja sama yang baik antara suami dan istri, serta saling memahami peran masing-masing, keluarga akan menjadi lebih kokoh. Dari keluarga yang kuat dan harmonis, insyaAllah ketahanan ekonomi bangsa juga akan semakin terjaga,” pungkasnya./ JOURNEY OF INDONESIA | iBonk

















