JAKARTA – Riuh rendah suara mesin dan denting peralatan teknik di ajang Tekiro Mechanic Competition 2026 menjadi saksi lahirnya generasi baru di kancah otomotif nasional. Pada Minggu, 26 April 2026, gelaran Tekiro Mechanic Competition (TMC) 2026 resmi mencapai puncaknya. Bukan sekadar ajang adu ketangkasan, kompetisi ini telah bertransformasi menjadi barometer sejauh mana kesiapan talenta muda Indonesia dalam menjawab tantangan industri yang kian kompleks.
Langkah kaki para finalis yang memasuki area penjurian tampak mantap, meski beban ekspektasi terpancar dari wajah-wajah muda ini. Mereka bukan peserta sembarangan; mereka adalah saringan terbaik dari total 89.565 siswa yang berasal dari 544 SMK di seluruh pelosok negeri. Perjalanan panjang dari babak penyisihan daring hingga menyisakan 10 sekolah di babak final mencerminkan betapa prestisiusnya trofi yang diperebutkan.
Di balik meja penjurian, standar tinggi diterapkan. Para peserta tidak hanya dituntut memahami teori, tetapi diuji langsung lewat tantangan teknis yang komprehensif. Mulai dari kerumitan sistem kelistrikan, presisi dalam diagnosa mesin (engine tune-up), hingga pemahaman mendalam mengenai sistem transmisi dan teknologi kendaraan terbaru.

Setiap gerakan tangan mereka saat memegang kunci dan alat ukur dinilai secara objektif oleh dewan juri yang terdiri dari praktisi industri serta akademisi berpengalaman.
Seperti yang diungkapkan Presiden Direktur PT Altama Surya Anugerah, Oscar Sutjiadi di kantor pusat Tekiro dibilangan Bandengan Jakarta Utara bahwa kompetisi ini sebagai bentuk nyata kolaborasi antara dunia industri dan pendidikan. “Selain menjadi ajang unjuk kemampuan, kompetisi ini juga membuka peluang karier bagi para peserta. Para pemenang mendapatkan hadiah ratusan juta rupiah, perlengkapan bengkel standar industri, hingga kesempatan berkarier di bengkel internasional serta jalur khusus masuk perguruan tinggi,” sebutnya lagi.

Hal senada juga disampaikan oleh Stephanus Santoso, Wakil Direktur PT Altama Surya Anugerah yang tidak bisa menyembunyikan rasa bangganya saat melihat performa para siswa di lapangan. Bagi Tekiro, konsistensi dalam menggelar ajang ini adalah bentuk investasi jangka panjang terhadap kualitas pendidikan vokasi di Indonesia.
“Kami sangat bangga melihat antusiasme dan keahlian yang ditunjukkan oleh para siswa tahun ini. Kualitas para finalis mencerminkan bahwa sinergi antara dunia industri dan SMK telah berjalan di jalur yang tepat. Tekiro berkomitmen untuk terus mencetak mekanik-mekanik handal yang memiliki disiplin, pengetahuan teknis yang luas, serta karakter juara yang dibutuhkan oleh industri,” ujar Stephanus Santoso dengan nada optimis.

Selanjutnya, para juara setelah lulus nanti akan mengantongi Free Pass yang memberikan pilihan strategis yakni langsung berkarier di jaringan bengkel internasional B-Quik, atau melanjutkan studi di institusi ternama seperti Politeknik ATMI Cikarang dan Politeknik Negeri Semarang (Polines). Penawaran ini menjadi jawaban konkret atas kegelisahan lulusan SMK mengenai keterserapan tenaga kerja.
Keberhasilan acara ini tentu tidak lepas dari kolaborasi berbagai pihak yang memiliki visi serupa dalam membangun ekosistem otomotif yang sehat. Dukungan mengalir dari mitra strategis seperti B-Quik, Planet Ban, Oli X-Ten, hingga Seiken Pelumas Mesin.

“Kami mengapresiasi dan mengucapkan terima kasih atas dukungan para sponsor seperti Bengkel Internasional B-Quik, Planet Ban, Oli X-Ten, Seiken Pelumas Mesin serta institusi pendidikan Politeknik ATMI Cikarang dan Politeknik Negeri Semarang,” pungkas Roy Njotodirjo, Ketua Panitia Tekiro Mechanic Competition 2026.
Melalui kompetisi ini, Indonesia seolah memberikan pesan kuat bahwa masa depan industri otomotif tanah air berada di tangan yang tepat. Tangan-tangan muda yang tidak hanya akrab dengan oli dan mesin, tetapi juga memiliki mentalitas juara untuk bersaing di panggung global./ JOURNEY OF INDONESIA | iBonk

















