BANYUMAS – Menjelajah Banyumas belum lengkap rasanya jika tidak mampir ke Sokaraja. Di tengah deretan warung soto yang menjamur, ada satu nama yang tetap berdiri kokoh sebagai “penguasa” takhta rasa yakni Raja Soto Lama Pak H. Suradi (sering dikenal juga sebagai H. Soradi). Berdiri sejak tahun 1978, tempat ini bukan sekadar warung makan, melainkan saksi sejarah yang berhasil mempertahankan relevansinya hingga tahun 2026 ini.
Bukan rahasia lagi jika Raja Soto Lama adalah langganan para petinggi negeri ini seperti (Alm.) Gus Dur hingga Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) merupakan pelanggan setia warung soto ini. Konon, SBY sendiri sudah menjadi penikmat soto ini bahkan sebelum menjabat sebagai Presiden dan sering mengundang sang pemilik langsung ke Jakarta hanya untuk melepas rindu pada kuah kacangnya yang khas.

Seperti yang diungkapkan oleh Siti Muhadiroh, yang merupakan salah satu pengelola di generasi sekarang berujar bahwa mereka tetap mempertahankan resep asli sejak 46 tahun lalu. “Bumbu kacang kami tumbuk manual untuk menjaga tekstur dan aroma. Konsistensi itulah yang membuat pejabat sampai artis selalu balik lagi ke sini,” bangganya.
Apa yang membuat soto ini berbeda? Jika soto daerah lain menggunakan nasi, di sini Ketupat adalah wajib. Kuah kuningnya yang bening seketika berubah menjadi kental dan kaya rasa saat bercampur dengan Sambal Kacang yang gurih-manis.
Toppingnya pun beragam, mulai dari Soto Daging Sapi yang dengan potongan daging yang royal dan empuk atau Soto Sekengkel Urat yang menjadi favorit bagi pencinta tekstur kenyal. Selain itu ada Soto Babat Iso yang disajikan bersih, tanpa aroma amis, dan bumbunya meresap. Lalu ada Kerupuk Cantir yakni kerupuk warna-warni khas Sokaraja yang memberikan sensasi crunchy di setiap suapan.

Di era media sosial 2026, Raja Soto Lama tetap menjadi primadona konten kuliner. Suasananya yang kini lebih tertata rapi namun tetap mempertahankan furnitur kayu klasik membuatnya sangat Instagrammable bagi generasi muda.
Seperti yang dituturkan oleh Ihsan, seorang food enthusiast asal Jakarta yang sedang melakukan touring di Jawa Tengah menjelaskan bahwa dirinya sangat menikmati rasa khas dari soto ini. “Jujur, awalnya aneh lihat soto pakai sambal kacang. Tapi pas suapan pertama, kacangnya bikin kuah jadi ‘creamy’ banget. Apalagi dimakan bareng mendoan hangat yang masih ‘mlempem’ khas sini,” ujarnya puas.
Senada dengan Ihsan, Ginting pengunjung asal Medan yang sudah beberapa kali bersantap di warung ini menyebutkan, “Tempatnya sekarang lebih nyaman dan bersih. Meskipun legendaris, pelayanannya cepat dan sudah bisa bayar pakai QRIS atau pesan lewat aplikasi. Sangat memudahkan buat kita yang nggak bawa cash.”

Jika memang berencana berkunjung ke Raja Soto Lama Pak H. Suradi, Sokaraja ini, tinggal mengarahkan tujuan ke Jl. Jend. Soedirman No. 46, Sokaraja. Namun, bagi yang enggan menembus kemacetan pusat kota, mereka telah membuka beberapa cabang strategis seperti di Sawangan (Purwokerto) dan Purbalingga.
Datanglah sebelum jam makan siang untuk menghindari antrean panjang, terutama di akhir pekan. Untuk harga ditawarkan berkisar antara Rp26.000 hingga Rp45.000 per porsi (tergantung pilihan daging). Jika sudah berada disana, jangan lupa untuk memesan Es Coklat Sokaraja sebagai penawar pedas yang sempurna.
Raja Soto Lama Pak H. Suradi adalah bukti bahwa tradisi bisa bersanding manis dengan modernitas. Ia bukan hanya tentang semangkuk soto, tapi tentang menjaga warisan rasa yang telah menyatukan lidah lintas generasi./ JOURNEY OF INDONESIA | iBonk


















