JAKARTA – Ada yang lebih menyakitkan daripada sekadar rasa takut, yakni sebuah ketidakpastian. Di balik bisingnya deru mesin konstruksi dan megahnya tiang-tiang beton yang menjulang, film terbaru bertajuk “Tumbal Proyek” mencoba mengusik sisi kemanusiaan kita melalui sebuah kisah penantian yang getir.
Film horor yang diproduseri oleh Dheeraj Kalwani ini bukan sekadar pameran jumpscare, melainkan sebuah perjalanan emosional seorang anak yang mencari jejak ayahnya di antara bayang-bayang gelap proyek pembangunan.
Melalui arahan sutradara Jero Point, penonton diajak menyelami atmosfer mencekam di sebuah kawasan proyek yang seolah memiliki nyawanya sendiri. Cerita bergerak perlahan namun tajam, menyoroti sosok Yuda, yang diperankan dengan apik oleh Kiesha Alvaro. Bagi Yuda, proyek tersebut bukan sekadar tempat kerja biasa, melainkan lubang hitam yang menelan sosok ayahnya, Bayu (Rendy Khrisna), tanpa sisa. Kehilangan yang tak terjawab itu meninggalkan luka lama yang terus menganga, mendorong Yuda untuk masuk lebih dalam ke pusaran misteri yang seharusnya tetap terkubur.
Dinamika cerita semakin kuat dengan kehadiran Callista Arum sebagai Laras. Hubungan mereka menjadi jangkar emosi di tengah teror supranatural yang mulai bermunculan.
Di sini, horor tidak muncul secara tiba-tiba tanpa alasan, ia hadir sebagai konsekuensi dari rahasia gelap yang disembunyikan di balik aktivitas pembangunan. Kehadiran aktris senior Karina Suwandi sebagai Bu Martha juga memberikan bobot drama keluarga yang kental, menggambarkan bagaimana sebuah tragedi di tempat kerja mampu meruntuhkan fondasi kebahagiaan sebuah rumah tangga.

Tentu, sebuah horor Indonesia terasa kurang lengkap tanpa sentuhan kearifan lokal yang mistis. Sosok Mbah Tarmo, yang diperankan oleh Fuad Idris, hadir sebagai jembatan antara logika modern pembangunan dan kekuatan gaib yang menghuni tanah tersebut. Sebagai orang pintar yang memahami sejarah janggal di kawasan proyek, Mbah Tarmo menjadi kunci pembuka tabir atas kejadian-kejadian aneh yang dialami para tokohnya.
Secara naratif, film ini berupaya membedah fenomena urban yang sering kita dengar di masyarakat tentang tumbal yang sering dikaitkan dengan proyek-proyek besar. Namun, “Tumbal Proyek” memilih jalur yang lebih personal. Ia berbicara tentang rasa bersalah, keberanian melawan hal yang tak masuk akal, dan kerinduan seorang anak akan kepulangan sosok yang dicintainya. Pembangunan yang biasanya menjadi simbol kemajuan justru berbalik menjadi ruang penuh intimidasi ketika masa lalu mulai menuntut jawaban yang jujur.
Film ini menjanjikan pengalaman menonton yang lengkap bagi para pecinta genre horor-drama. Penonton tidak hanya akan dibawa tegang oleh suasana proyek yang gelap dan penuh rahasia, tetapi juga akan tersentuh oleh sisi kemanusiaan yang diselipkan di setiap adegannya. Sebuah pertanyaan besar akan terus membayangi sepanjang film: apakah kebenaran memang layak ditemukan jika harganya harus berhadapan dengan teror yang melampaui nalar?
“Tumbal Proyek” dijadwalkan akan menghantui layar lebar di seluruh bioskop Indonesia mulai tanggal 13 Mei 2026. Sebuah tontonan yang mengajak kita untuk kembali merenungkan, bahwa di balik setiap kemajuan, seringkali ada harga mahal yang harus dibayar oleh perasaan manusia. JOURNEY OF INDONESIA | Nuhaa


















