JAKARTA – Lebih dari 53 ribu pengunjung telah menyambangi pameran seni ukir TATAH di Museum Nasional Indonesia sejak awal Juli 2026. Di tengah antusiasme publik itu, sebuah buku bertajuk TATAH: Suluk, Sulur, dan Jepara – Rekonstruksi Jepara Melalui Seni Ukir resmi diluncurkan, menjadi penanda babak baru dalam upaya menempatkan Jepara bukan sekadar sentra industri mebel, melainkan pusat peradaban ukir dengan sejarah panjang dan nilai budaya tinggi.
Peluncuran sekaligus bedah buku itu digelar di Ruang Teater Museum Nasional Indonesia, Jakarta, Jumat (10/7/2026), sebagai bagian dari rangkaian pameran TATAH yang masih akan berlangsung hingga 2 Agustus 2026. Kehadiran buku ini diharapkan memperkaya literasi sekaligus membuka ruang diskusi baru mengenai pelestarian dan pengembangan seni ukir sebagai identitas budaya bangsa.
Menteri Kebudayaan RI, Fadli Zon menegaskan bahwa seni ukir Jepara merupakan warisan yang menyimpan nilai artistik sekaligus potensi ekonomi kreatif yang besar. Karya para pengukir Jepara, menurutnya, telah lama dikenal hingga mancanegara dan menjadi bagian dari industri kreatif global. “Seni ukir Jepara bukan hanya memiliki nilai ekonomi, tetapi juga merupakan pencapaian artistik yang tinggi sebagai ekspresi budaya Indonesia,” ujarnya.
Bagi Fadli, kehadiran buku ini bukan sekadar dokumentasi perjalanan seni ukir Jepara, melainkan langkah strategis untuk memperkuat literasi sejarah sekaligus menawarkan perspektif baru tentang masa depan Jepara sebagai pusat seni ukir dunia. Ia mengingatkan bahwa jumlah generasi muda yang menekuni seni ukir terus menyusut dari tahun ke tahun, sehingga dibutuhkan langkah konkret untuk menjaga keberlanjutan warisan tersebut.

Untuk merespons persoalan itu, Kementerian Kebudayaan mendorong sejumlah program pelestarian, mulai dari pelatihan bersama maestro ukir, pengembangan sekolah dan lokakarya, hingga peningkatan kapasitas generasi muda agar keterampilan mengukir tetap terwariskan. “Buku ini menjadi ikhtiar intelektual untuk merekam perjalanan sejarah seni ukir Jepara sekaligus memperkuat upaya pelestarian, pengembangan, dan pemanfaatannya,” kata Fadli.
Pemerintah, lanjut Fadli, juga akan terus mengupayakan pengakuan seni ukir Jepara sebagai Warisan Budaya Takbenda UNESCO, seiring dengan penguatan mekanisme perlindungan atau safeguarding agar tradisi ini tetap lestari di tengah perubahan zaman.
Dari sisi pemerintah daerah, Bupati Jepara Witiarso Utomo menilai peluncuran buku ini menjadi bagian penting dari upaya memperkenalkan sejarah seni ukir kepada generasi muda agar identitas budaya daerah tidak tergerus. Ia menyebut antusiasme masyarakat terhadap pameran TATAH terbilang tinggi, tecermin dari jumlah pengunjung yang telah menembus 53 ribu orang hingga awal Juli 2026.
Witiarso menegaskan bahwa tantangan utama saat ini bukan lagi sekadar menjaga tradisi, melainkan bagaimana mengemas seni ukir agar tetap relevan dengan perkembangan zaman dan menarik minat generasi muda. “Kami berharap melalui buku ini anak-anak muda semakin memahami sejarah seni ukir Jepara sehingga tradisi ini terus hidup dan berkembang,” ujarnya.

Salah satu penulis buku, Dr. Arif Akhyat, M.A, menjelaskan bahwa karya ini menawarkan pendekatan baru dalam membaca sejarah Jepara. Seni ukir, katanya, tidak lagi dipahami semata sebagai karya estetika, tetapi juga sebagai hasil perjalanan sejarah, dinamika sosial, hubungan perdagangan, serta strategi budaya yang membentuk identitas Jepara selama berabad-abad.
Rekonstruksi sejarah dalam buku ini dilakukan melalui penelusuran berbagai artefak, arsip, dan peninggalan budaya yang selama ini belum banyak dikaji dalam historiografi nasional. “Buku ini mengajak masyarakat melihat seni ukir sebagai bagian dari sejarah, budaya, dan identitas Jepara yang terus berkembang,” ujarnya.
Direktur TATAH, Veronica Rompies, memandang peluncuran buku ini bukan sebagai titik akhir dari upaya memahami Jepara, melainkan awal dari diskusi yang lebih luas mengenai seni ukir, sejarah, dan kehidupan para pengukir. Ia berharap berbagai gagasan yang lahir dari buku dan forum diskusi dapat berkembang menjadi riset, kebijakan, maupun langkah nyata untuk memperkuat ekosistem seni ukir di Jepara. Perhatian, menurutnya, tidak boleh hanya tertuju pada karya ukir semata, tetapi juga pada para pengukir sebagai penjaga pengetahuan dan tradisi yang selama ini menopang keberlangsungan warisan budaya tersebut.
Rangkaian peluncuran buku, diskusi ilmiah, dan pameran TATAH ini pada akhirnya diharapkan menumbuhkan kesadaran baru bahwa seni ukir Jepara bukan sekadar produk budaya atau komoditas ekonomi kreatif. Ia adalah identitas bangsa yang perlu terus dilestarikan, dikembangkan, dan dipromosikan di panggung internasional sebagai salah satu kekuatan budaya Indonesia./ JOURNEY OF INDONESIA | iBonk


















