JAKARTA — Mimpi menjadi idol K-Pop kini bukan sekadar angan bagi anak-anak muda Indonesia. Born Star Indonesia, lembaga pelatihan yang berafiliasi langsung dengan Born Star Korea, kembali menegaskan komitmennya mencetak calon bintang K-Pop lewat kurikulum yang menggabungkan pengasahan bakat, kesiapan fisik, dan penguatan mental.
Komitmen itu disampaikan dalam konferensi pers yang digelar Minggu, 2 Agustus 2026, di Hotel Grand Sahid Jaya, kawasan Sudirman, Jakarta Pusat. Sabrina Irene, pendiri sekaligus CEO Born Star Indonesia-Korea, memaparkan bahwa lembaganya berusaha membekali peserta dengan gambaran nyata soal ketatnya seleksi trainee di Korea Selatan, bukan hanya soal kemampuan menyanyi dan menari semata. “Kami berusaha memberikan pengetahuan langsung soal persaingan industri, termasuk apa yang harus dipersiapkan,” kata Sabrina.
Nama Born Star bukan pemain baru di industri hiburan Korea. Salah satu nilai jual utama Born Star Indonesia adalah akses audisi langsung ke agensi-agensi papan atas Korea Selatan, hasil kerja sama erat dengan Born Star Korea.

Jalur inilah yang sebelumnya membawa Dita Karang menembus industri hingga akhirnya debut bersama Secret Number lewat cabang Born Star di New York.
“Agensi Korea lebih suka trainee yang paham basic entertainment kayak gimana. Saya sudah menyaksikan memang sistemnya sulit. Privilege kami adalah audisi dengan agensi langsung,” kata Sabrina.
Selain itu, cabang mereka di Korea Selatan juga mencatat keberhasilan dalam perjalanan karier sejumlah idol ternama seperti Sojin Girl’s Day, Jinsoul eks LOONA, Kim Sohye I.O.I, Solar MAMAMOO, hingga Karina aespa.
Sedikit serius, Sabrina menyampaikan bahwa banyak calon trainee yang gagal bertahan bukan karena minim bakat, melainkan karena tidak siap menghadapi tekanan sistem latihan yang keras. Ia menyebut sejumlah kasus trainee asal Indonesia yang akhirnya memilih pulang setelah hanya bertahan beberapa bulan di Korea Selatan. “Saya ingin mereka paham bahwa kompetisi ini tidak mudah. Di sana lebih tegas, jadi kuatkan pengetahuan agar tidak shock,” pesan Sabrina.

Latar belakang pendidikan psikologi yang dimiliki Sabrina turut memengaruhi arah kurikulum Born Star Indonesia. Selain kelas vokal dan koreografi, pelatihan juga menitikberatkan pada kekuatan mental peserta agar mampu bertahan menghadapi ritme latihan ala idol Korea yang dikenal sangat disiplin dan panjang jam kerjanya.
Sabrina juga membagikan pengalamannya berdiskusi dengan sejumlah praktisi soal standar fisik yang kerap menjadi pertimbangan agensi Korea Selatan, mulai dari proporsi kaki, bentuk jari tangan dan kaki, hingga kontur wajah. Ia menilai faktor ini menjadi salah satu alasan pentingnya pembekalan sejak dini bagi peserta didik di Indonesia.
Sebagai bagian dari program, Born Star Indonesia mendatangkan dua praktisi industri hiburan Korea Selatan, Gun Woo dan Henny, yang bernaung di bawah ROOT Entertainment. Keduanya memberikan coaching clinic langsung kepada murid-murid Born Star Indonesia pada Sabtu, 1 Agustus 2026 lalu.

Sabrina mengungkapkan proses mendatangkan keduanya ke Indonesia memakan waktu hingga satu tahun akibat kendala teknis keimigrasian serta jadwal Gun Woo dan Henny yang padat, termasuk rangkaian tur ke Eropa Timur yang baru mereka rampungkan. Kerja sama dengan Direktur Kim dari ROOT Entertainment akhirnya membuka jalan bagi kunjungan tersebut.
Dalam sesi coaching clinic tersebut, Gun Woo yang berperan melatih koreografi mengaku terkesan dengan pemahaman dan sikap para peserta didik Born Star Indonesia terhadap budaya Korea. “Mereka sudah tahu banyak soal budaya Korea, K-Pop, dan K-Drama. Attitude-nya juga oke banget,” kata Gun Woo.
Sementara Henny pun menyampaikan kesan serupa. Ia melihat semangat dan rasa percaya diri para peserta sebagai modal penting untuk bersaing di industri yang menuntut daya tahan tinggi. “Aku ngeliat passion mereka dan percaya diri bilang kalau mereka bisa jadi besar suatu hari nanti. Sistem K-Pop itu tidak mudah. Tidak semua bisa debut, tapi semua bisa terjadi asal tidak putus asa dan terus latihan. Attitude itu yang penting dan aku lihat mereka punya,” ujar Henny.
Rangkaian acara ditutup dengan penampilan panggung yang melibatkan murid-murid Born Star Indonesia. Pertunjukan dibuka dengan tarian Betawi, dilanjutkan penampilan menyanyi dan menari para peserta didik. Sebagai penutup Henny dan Gun Woo tampil solo dan mengajak para peserta naik ke panggung untuk mempraktikkan hasil coaching clinic bersama.
Ke depan, program coaching clinic bersama idol maupun praktisi K-Pop Korea Selatan direncanakan terus berkelanjutan, terbuka bagi masyarakat umum termasuk komunitas K-Pop dan sekolah dance di berbagai daerah. Born Star Indonesia menyebut langkah ini sebagai bagian dari strategi jangka panjang membuka jalan bagi talenta muda Tanah Air untuk bersaing di panggung hiburan global./ JOURNEY OF INDONESIA | iBonk

















