JAKARTA – Ambisi Indonesia menembus pasar bernilai US$1,29 triliun pada industri business event dunia kini punya panggung baru. Lewat Indonesia Business Event Mart (IBEM) 2026, pemerintah mempertemukan sekitar 200 seller dari sektor bisnis event dan pariwisata dengan 220 buyers dari berbagai negara di Jakarta, sebuah langkah yang diharapkan membuka pintu kerja sama sekaligus memperluas akses pasar bagi pelaku industri MICE (Meetings, Incentives, Conventions, and Exhibitions) tanah air.
Menteri Pariwisata Widiyanti Putri Wardhana menyebut IBEM sebagai platform business matching yang mempertemukan langsung pelaku industri nasional dengan pasar internasional. Menurutnya, segmen business event saat ini menyumbang sekitar 30,75 persen terhadap pasar global event management yang pada 2024 bernilai sekitar US$1,2 triliun dan diproyeksikan naik menjadi US$1,29 triliun pada 2025.
Kawasan Asia Pasifik sendiri tercatat sebagai wilayah dengan tingkat partisipasi tertinggi sekaligus penyumbang pendapatan langsung terbesar kedua dalam industri ini, sehingga peluang bagi Indonesia untuk memperbesar pangsa pasarnya terbuka lebar.
Optimisme itu juga didasari data makro yang dipaparkan Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto. Ia mengatakan sektor pariwisata terus menunjukkan kinerja positif, dengan sektor akomodasi serta penyediaan makanan dan minuman mencatat pertumbuhan tertinggi sebesar 13,14 persen, sementara devisa pariwisata mencapai sekitar US$4 miliar pada kuartal pertama tahun ini.

Airlangga menilai tren bleisure, perjalanan yang menggabungkan aktivitas bisnis dan rekreasi, menjadi peluang besar bagi Indonesia untuk memperkuat posisinya sebagai destinasi business event dunia. Sebagai gambaran skala dampak ekonomi yang bisa dihasilkan sebuah ajang besar, ia menyebut penyelenggaraan Piala Dunia FIFA mampu menghasilkan sekitar US$16 miliar bagi negara tuan rumah, bukti bahwa business events berpotensi mendongkrak kunjungan wisatawan, investasi, hingga konsumsi lokal secara signifikan.
Untuk menopang ambisi tersebut, pemerintah terus memperluas portofolio business event melalui agenda internasional, kegiatan lintas batas, serta Kharisma Event Nusantara. Kementerian Pariwisata pun tengah menyiapkan Portal Event by Indonesia, sebuah platform digital nasional yang kelak menjadi pusat informasi, data, dan layanan penyelenggaraan event di Indonesia.
Dari sisi pelaku industri, Organizing Committee IBEM 2026 Christine Besinga menilai Indonesia memiliki modal kuat untuk bersaing sebagai destinasi business event regional. Selain didukung hotel berbintang, ballroom berkapasitas besar, serta biaya penyelenggaraan yang kompetitif, Indonesia juga memiliki keragaman destinasi yang dapat dikembangkan sebagai lokasi business events.
Namun ia mengingatkan, tantangan terbesar masih terletak pada eksposur Indonesia di pasar internasional. Karena itu, promosi yang konsisten serta dukungan media dinilai menjadi faktor penting untuk meningkatkan daya saing destinasi Indonesia. Christine mengatakan penyelenggaraan IBEM berikutnya ditargetkan meningkat menjadi sekitar 200 seller dan 300 hosted buyers, dengan program yang juga akan diperluas lewat farm trip ke sejumlah destinasi seperti Bali, Labuan Bajo, Bandung, dan Belitung, agar buyer internasional dapat mengenal langsung potensi business event Indonesia di luar jalur konvensional.

Sementara itu Managing Director Emi Global asal Amerika Serikat, Armindo Ferreira, menilai Indonesia menawarkan banyak destinasi yang masih belum dikenal luas oleh pasar internasional. Saat ini pihaknya tengah mempelajari konektivitas antara Jakarta, Bali, dan sejumlah destinasi di Pulau Jawa untuk dikembangkan menjadi paket business events yang lebih beragam. Meski begitu, ia menegaskan destinasi utama tetap punya peran strategis tersendiri. Jakarta dinilai ideal sebagai lokasi konferensi dan pertemuan bisnis, sedangkan Bali maupun Lombok memiliki daya tarik kuat sebagai destinasi incentive travel maupun program pasca-acara.
Ketertarikan buyer terhadap destinasi di luar Bali ini mengindikasikan adanya pergeseran tren pasar global, yang kini mulai mencari pengalaman baru dalam penyelenggaraan business events, tidak lagi terpaku pada destinasi-destinasi yang sudah mapan.
Bagi Indonesia, kondisi ini justru menjadi celah strategis untuk memperluas promosi destinasi alternatif sekaligus memperkuat posisinya sebagai salah satu pusat industri business event di kawasan Asia, seiring dengan target pemerintah menjadikan sektor MICE sebagai salah satu andalan baru penggerak ekonomi dan pariwisata nasional dalam beberapa tahun mendatang./ JOURNEY OF INDONESIA | Ismed Nompo

















