BOGOR – Hujan yang rutin mengguyur Bogor selalu punya teman setia yakni semangkuk sop buntut yang mengepul panas. Di antara puluhan warung yang menjajakan menu ini, nama Ma’Emun berdiri sebagai salah satu yang paling lekat dengan sejarah kuliner Kota Hujan ini.
Salah satu cabangnya, dikelola Ibu Pipit, berdiri di Jalan Pandu Raya Nomor 3 Blok G2, Tegal Gundil, Bogor Utara, lokasi yang kini menjadi rujukan bagi pencari sop buntut otentik.
Nama Ma’Emun sendiri diambil dari Siti Maemunah, perempuan yang oleh warga sekitar akrab dipanggil Mak Emun. Usaha ini bermula sederhana, dari sebuah tenda kecil di bawah pohon, jauh sebelum sop buntut menjelma menu wajib di berbagai restoran Indonesia. Sop buntut sendiri bukan hidangan asli Nusantara. Kuliner ini disebut-sebut lahir di Inggris pada abad ke-17, dibawa migran dari Prancis dan Belgia, sebelum populer sebagai hidangan berkuah kental pada abad ke-18.
Titik balik usaha Ma’Emun terjadi saat halaman rumahnya dipakai untuk menyembelih hewan kurban pada Idul Adha. Sisa daging buntut sapi yang biasanya kurang diminati, ia olah menjadi sop untuk hajatan syukuran. Rasa yang dihasilkan meninggalkan kesan di lidah tetangga sekitar, dan dari situlah warung sop buntut Ma ‘Emun lahir.
Kini, warisan resep itu diteruskan oleh empat cabang yang dikelola cucu dan cicitnya, salah satunya milik Ibu Pipit di Pandu Raya. Cerita ini menjelaskan mengapa resep sop buntut Ma’Emun begitu dijaga keasliannya hingga kini.

Ciri khas sop buntut Ma’Emun terletak pada tekstur dagingnya. Buntut sapi direbus empat sampai lima jam hingga empuk dan mudah lepas dari tulang, namun bagian dalamnya tetap menyisakan semburat warna kemerahan yang segar. Proses rebus panjang ini membuat lemak alami daging larut ke dalam kuah, menghasilkan rasa gurih tanpa terasa berat.
Kuahnya bening, disajikan bersama wortel, kembang kol, kentang, irisan daun bawang, seledri, dan taburan bawang goreng, lalu disuguhkan dalam mangkuk stainless steel agar suhu panasnya bertahan lama.
Soal bahan baku, dapur Ma’Emun punya prinsip yang tak pernah ditawar. “Kami pakai buntut segar yang dibeli langsung dari pejagalan. Kalau pakai buntut yang dibekukan, nanti hasilnya benyek,” ujar salah seorang pegawai di warung tersebut. Prinsip ini membuat warung Ma’Emun kerap tutup lebih awal begitu stok buntut segar hari itu habis, bahkan sebelum jam makan siang usai, terutama di akhir pekan ketika pelancong dari Jakarta datang berburu semangkuk sop hangat.
Soal harga, informasi terbaru dari sejumlah sumber kuliner menyebutkan satu porsi sop buntut sapi di ke empat cabang Ma ‘Emun sekitar Rp58.000 – Rp70.000 tergantung isi mangkuk dan tambahan lauk.
Warung ini buka setiap hari pukul 09.00 hingga 20.00 WIB, kecuali saat Idul Fitri, Idul Adha, atau ada acara keluarga besar. Perbedaan rasa antarcabang, menurut keluarga besar Ma’Emun, semata dipengaruhi tangan pemasak, bukan resep yang berubah.

Jika cabang yang dikelola Ibu Pipit di Pandu Raya sendiri menonjolkan kuah bening dengan rasa kaldu ringan namun tetap kaya, cocok bagi penikmat sop buntut yang tidak menyukai kuah terlalu berat di lidah. Sementara yang dikelola Nunung dikenal dengan kuah lebih gurih dan kental.
Seperti yang disampaikan oleh Tipong selaku penggemar berat sop buntut Ma’Emun ini. “Saya sudah datangi semua cabang sop buntut ini. Masing masing memiliki ciri khas di penyajian. Secara rasa tidak ada perbedaan. Saya suka semua,” aku penyuka kuliner asal Jakarta ini.
Yang membuat sop buntut Ma’Emun tetap relevan hingga kini bukan sekadar nostalgia. Warung ini pernah dipercaya menyuplai konsumsi acara kenegaraan di Istana Bogor pada masa pemerintahan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono, menjadi bukti bahwa cita rasa yang dijaga sejak generasi pertama masih cukup diakui.
Bagi wisatawan yang berkunjung ke Bogor, mampir ke sop buntut Ma ‘Emun untuk mencicipi sop buntut legendaris ini menjadi cara paling otentik merasakan sepotong sejarah kuliner di kota ini yang terbukti bertahan lebih dari lima dekade./ JOURNEY OF INDONESIA | Nuhaa

















