JAKARTA – Panggung pertama Indah Permatasari bukan panggung kecil. Usianya baru sembilan tahun ketika ia berani tampil di Taman Ria Senayan dan Taman Ria Monas, dua panggung ikonik Jakarta pada masanya. Dari sanalah karakter vokalnya terbentuk, jauh sebelum ia benar-benar masuk dapur rekaman selepas lulus SMA.
Darah seni memang mengalir deras dalam keluarganya. Tumbuh bersama kakak-kakak yang juga aktif bermusik membuat Indah tak asing dengan panggung sejak kecil. Jejak itu kelak membawanya pada satu langkah besar dalam kariernya yakni mengolah ulang lagu-lagu karya maestro Titiek Puspa, termasuk ‘Apanya Dong’, ‘Cinta Monyet’, dan ‘Si Hitam’, ke dalam balutan aransemen pop disko yang segar dan sukses mencuri perhatian publik pada masanya.
Kini, setelah menjalani keseharian sebagai ibu rumah tangga, panggung musik kembali memanggil Indah. Ia tengah bersiap merilis single terbaru yang judulnya masih dirahasiakan, sebuah lagu ciptaan almarhum Yonni Dores yang dipilihnya dari beberapa opsi yang disodorkan sebelum sesi rekaman dimulai.
“Jadi gini ya, sebelum dimulai dengan take vocal rekaman, kita kan memilih lagu. Kita memang diberikan pilihan mau yang mana, yang cocok yang mana gitu. Ada tiga empat lagulah saya dengar, yang klik kayaknya ini yang satu ini. Itulah, jadi saya akan membawakan lagu itu, single terbaru itu,” katanya, masih menjaga kerahasiaan judul lagu tersebut.
Pilihan itu bukan tanpa alasan. Bagi Indah, lagu ini menyimpan kedalaman makna emosional yang sangat personal, muara bagi rasa rindu yang terpendam kepada mendiang suaminya yang telah lama berpulang. “Jadi ada ada ada kesan kangen gitu ya memori karena suamiku kebetulan sudah almarhum ya, cukup lama. Jadi lagu ini mungkin sesuatu yang apa? Curahan hati saya ya, gitu,” ujarnya jujur.
Meski lahir dari kedalaman rasa, Indah memilih tidak tergesa dalam mengemas publikasi single ini. Penggarapan video klipnya pun masih dirancang tanpa target waktu yang membebani, termasuk soal siapa yang akan mendampinginya dalam visualisasi lagu. Spekulasi keterlibatan sahabatnya, Dinky Ardillano, dijawabnya santai. “Ah enggak, enggak. Belum tahu, belum tahu, belum ada ide.

Enggak, enggak harus sama Dinky Ardillano, Dinky Ardillano kan sahabat. Sahabat sejati, sahabat semua orang. Sama siapa aja dia dekat, akrab kok Dinky Ardillano.”
Sikap tenang semacam itu memang mencerminkan cara Indah memandang hidup, baik dalam urusan asmara, karier, maupun rutinitas sehari-hari. “Yaaa berjalan dengan apa adanya. Jadi, enggak mencari juga, enggak menutup diri juga. Jadi, mengalir seperti sungai aja,” katanya.
Di luar persiapan single barunya, musik tetap menjadi ruang yang selalu ia rawat. Bersama teman-teman lama sesama musisi era dulu, Indah rutin berkumpul di sebuah sudut hangat bilangan Lebak Bulus, Jakarta Selatan, tempat gelak tawa dan petikan gitar berpadu dengan lagu-lagu penuh kenangan. “Ya, tepat sekali. Kita biasa di sini kumpul-kumpul silaturahmi bersama dengan teman-teman lama, artis-artis jadul, makan-makan, bernyanyi-nyanyi. Ya, menghilangkan stres lah gitu,” ungkapnya.
Meski mengaku belum tergerak menciptakan lagu sendiri karena membutuhkan konsentrasi penuh, bakat musik Indah kini menurun pada sang anak yang mengikuti jejaknya. Kesibukan domestik pun tak menyurutkan niatnya menyapa penikmat musik: berbagai tawaran manggung terus berdatangan, termasuk agenda pertunjukan di Bandung.
Bagi Indah, bernyanyi adalah panggilan jiwa yang tak pernah bisa ia lepaskan. “Ah, gimana ya? Semua saya jalankan menurut alur waktu aja. Enggak tahu ya di mana nanti berhentinya. Pokoknya kalau nyanyi sih memang jiwa saya. Enggak bisa dilepas,” tutupnya./ JOURNEY OF INDONESIA | Ismed Nompo

















